LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
47


__ADS_3

" Aku gak tahu, setahuku Raja dan Sinta tidak ada hubungan apa-apa." Kata Gendis yang sempat mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.


Gendis mendengar percakapan antara Cakrabuana dan Anggita.


Gendis langsung menghubungi nomor Raja, namun jarinya terhenti tatkala sang ibu memanggilnya.


" Gendis ..." panggil Anggita sambil mengetuk pintu kamar.


Gendis langsung menoleh ke arah pintu, dia sangat malas untuk menemui ibunya saat ini.


" Gendis ... cepat keluar, Om Bram sudah di ruang tamu." Panggil Anggita mencoba membuka pintu dengan menggerakkan handle pintu yang terkunci dari dalam.


" Om Bram?" Gumam Gendis


" Aku gak mungkin ketemu sama Om Bram," ucap Gendis cemas.


Bramastya adalah pria yang berusia 25 tahun, yang menikahi ibunya yang berusia 40 tahun. Usia ibunya memang sudah mendekati masa menopaus. Namun wajahnya masih terlihat cantik.


Entah kenapa sang ibu, bisa berkenalan dengan Bramastya. Lelaki yang pernah cek in bersama Gendis tiga bulan lalu.


Akhirnya Gendis bangkit, dia ingin mengetahui hubungan ibunya dengan Bram.


Gendis membukakan pintu, dan terlihat Anggita yang berdiri di hadapannya.


" Cepat ganti bajumu, ada papa Bram di bawah." Kata Anggita yang menegaskan nama papa untuk panggilan Bramastya.


" Papa?" Gendis bingung, kenapa ibunya memanggil Bramastya dengan sebutan papa?


" Iya, nanti mama akan jelaskan. Sebaiknya ganti pakaianmu dan turun ke bawah." Kata Anggita yang langsung membalikkan badannya, dan pergi meninggalkan Gendis.


" Papa? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku gak tahu kalau mama sudah menikah?" Gendis nampak bodoh, dan merasa tak di anggap lagi oleh kedua orang tuanya.


Tanpa berganti pakaian, hanya mengenakan kaos berwarna pink dan celana hotpants berwarna putih dengan tinggi sepaha. Gendis langsung turun ke lantai satu, menemui sang ibu bersama papa barunya.


Kakinya satu persatu perlahan melangkah menuruni anak tangga.


Sudah ada Anggita dan Bramastya duduk di ruang tamu.


" Gendis, kenapa kamu pakai baju seperti itu?" tegur Anggita yang menatap Gendis dengan tatapan tidak suka.


Bramastya terkejut, saat melihat Gendis mengenakan baju yang ketat dan memperlihatkan bentuk tubuhnya.


Dia mengingat lagi dengan gadis, yang pernah dia booking di hotel beberapa bulan yang lalu.


" Aku gerah, Ma!" rajuk Gendis yang sudah duduk berhadapan dengan Anggita dan Bramastya.


" Om Bram." Ucap Gendis mengangkat kaki kanannya, lalu menyilang di atas kaki kirinya

__ADS_1


" Gendis, kamu gak sopan. Kan tadi ibu bilang, panggil dia papa." Gentak Anggita yang menatap nyalang ke arah Gendis.


Kedua mata Gendis masih fokus melihat ke arah Bramastya. Dan membuat suami baru Anggita itu menjadi salah tingkah.


" Sudah berapa lama, Mama menikah dengan dia?" Tanya Gendis sambil mengangkat kedua alisnya.


" Gendis, kamu gak sopan." Hardik Anggita sambil kedua matanya melotot tajam.


" Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu keras pada Gendis." Ucap Bramastya menenangkan Anggita.


" Aku gak perlu pembelaan, " ucap Gendis dengan nada angkuh sambil menatap Bramastya.


" Gendis, Mama tahu kamu tidak suka dengan Bram karena telah menjadi suami mama. "


" Tapi mama mohon, hargai keputusan mama saat ini. Kamu tahu jika mama butuh pendamping. " kata Anggita dengan mata yang sudah mengeluarkan cairan bening


" Tapi bukan dengan dia juga, Ma!" Tegas Gendis yang menatap tajam ke arah Bramastya.


" Maksud kamu, apa?" tanya Anggita seraya menyipitkan kedua mata nya.


" Sudah berapa lama, Mama menikah dengan orang ini?" tanya Gendis seraya menunjuk jari telunjuk nya ke arah Bramastya.


" Gendis, kenapa kamu tidak sopan!" bentak Anggita yang mulai tersulut emosi. Dia berdiri ingin menampar anak tunggal kesayangan nya. Namun di cegah oleh Bramastya.


" Boleh, aku berbicara dengan anakmu?" tanya Bramastya yang menahan Anggita untuk mendekati Gendis.


" Baiklah, aku harap kau bisa menjelaskan semuanya." kata Anggita yang langsung pergi meninggalkan Gendis dan Bramastya.


Setelah melihat kepergian Anggita, Bramastya mendekati Gendis.


" Apa kau ingin rahasia kita terbongkar?" ucap Baramstya dengan memelankan suaranya, dan berada di sebelah Gendis.


Gendis langsung menggaruk-garuk, sudut keningnya yang tidak gatal.


" Kau mengancamku? Hah?" tantang Gendis dengan menajamkan pandangan nya ke arah Bramastya.


" Sudah berapa lama, kalian menikah?" tanya Gendis.


" Setahun, "


" Apa, setahun?" kaget Gendis


" Bisa kita kerja sama?" kemudian Bramastya langsung memegang kedua lengan Gendis dan mencengkeram nya dengan keras.


" Auw..." pekik Gendis kesakitan.


" Lepaskan... Kau tidak bisa mengancam ku." kata Gendis mencoba melepaskan tangan Bramastya dari kedua lengannya.

__ADS_1


" Apa kau ingin aku bongkar perbuatan mu selama ini?" ancam Bramastya yang semakin erat memegang lengan Gendis.


" Kalau aku ketahuan sudah tidur denganmu, mamaku tidak akan mengusirku. "


" Tapi kalau kau mengadukan hal itu, dengan sangat bahagia hatiku, pastinya mamaku akan menceraikanmu." ujar Gendis dengan senyum mengangkat sudut bibirnya ke atas.


Sial, dia tidak bisa aku ancam. Bisa miskin aku jika di cerai oleh wanita tua itu.


Bramastya sedang berpikir, dia tidak bisa mengancam Gendis. Apa yang Gendis katakan, adalah benar. Untungnya Gendis sudah memberitahu nya dari awal.


Bramastya langsung melepaskan tangannya, lalu berdiri menjauhi Gendis.


Dia mulai cemas, sambil memijat pelipisnya. Mondar-mandir di depan Gendis, mencari jalan keluar agar hubungannya dengan Gendis tidak tercium oleh Anggita.


" Kenapa kau begitu santai, melihatku menikah dengan mamamu?" tanya Bramastya sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan berdiri di hadapan Gendis.


" Apa yang harus aku lakukan? Toh kalian menikah secara diam-diam. Dan aku tidak tahu, jika orang yang membooking ku malam itu adalah papa tiriku." kata Gendis dengan senyum mengejek.


" Kau ...."


Bramastya hendak menampar Gendis, namun dia urungkan sebab Anggita sudah keluar dari kamarnya.


" Mas, aku ada pertemuan." kata Anggita yang sudah terlihat cantik.


" Kamu mau kemana?" tanya Bramastya


" Aku mau bertemu dengan pak Cakra, ada hal penting yang ingin kami bahas." kata Anggita seraya membenarkan blusnya.


" Soal apa?" tanya Gendis.


" Kamu harus tunangan sama anak pak Cakra. Demi karir mama, agar jabatan mama tidak di ambil oleh orang lain." ucap Anggita


" Apa?" Gendis sangat terkejut, dia tidak menyangka ibunya akan berbuat nekat demi harta.


" Iya, kamu pasti akan suka dengan anak pak Cakra." tutur Anggita sambil melipat kedua tangannya ke dada.


" Mama, kenapa aku gak di kasih tahu sebelumnya?" kesal Gendis


Dia tidak tahu siapa anak Cakra buana, dan dia pun benci perjodohan.


" Ini mama lagi kasih tahu. Cepatlah kamu ganti baju, dan ikut mama. "


" Satu lagi, kamu jangan bikin keributan di depan pak Cakra. " ancam Anggita.


Gendis langsung berjalan ke arah kamarnya.


Silakan like dan berikan vote serta hadiah bunga untuk mendukung karyaku.

__ADS_1


__ADS_2