LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Hidung Sinta memar


__ADS_3

Jangan lupa untuk masukkan ke list favorit mu. Tinggalkan tap like, dan berikan poin untuk karyaku.


Sinta


" Raja.." panggil Raka yang telah meninggalkan ruang guru


Raja pun menoleh ke arah Raka, " Ada apa?" Tanya Raja dengan ekspresi wajah yang datar


" Tadi, orang tua mu?" Tanya Raka dengan ekspresi wajah yang bingung.


" Iya, ada apa?" balik Raja bertanya.


" Jadi, ayahmu pemilik yayasan sekolah ini?" Tanya Raka sambil mengernyitkan keningnya.


" Sudah, bahas soal orang tua ku?" Tanya Raja dengan nada malas dan langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan Raka.


" Raja, dengarkan aku dulu." Panggil Raka yang mengikuti langkah Raja.


" Ada, apa lagi?" Tanya Raja sambil melangkahkan kakinya, menuju kelas.


" Jangan bilang ke teman-teman, kalau tadi aku di tampar oleh ayahku." Pinta Raka memohon.


" Kau pikir mulutku ember, maaf aku gak ada waktu bahas soal itu." Ucap Raja yang mempercepat langkahnya.


Raka terlihat frustasi, dia begitu terkejut saat tahu Raja adalah anak pemilik yayasan.


Raja telah memasuki kelas, dan sudah ada pak Taufik yang telah hadir di dalam kelas.


Raja mengucap salam dan masuk ke dalam kelas. Dia menuju ke arah bangkunya , dan melihat Sinta, tidak berada di bangkunya.


" Sinta kemana?" Tanya Raja pada Ayu, dan dia belum sempat duduk di bangku


" Sinta di UKS, dan ada Riska yang menemani." Kata Ayu menjelaskan.


" Apa? Kenapa dia bisa di UKS?" Tanya Raja cemas dengan mengerutkan keningnya, kemudian dia duduk di bangku.


" Kamu gak ngerasa? Kalau tinju kamu mengenai hidung nya Sinta, alhasil hidung nya berdarah." Jelas Ayu berbisik sambil menyipitkan kedua matanya.


Raja segera bangkit dari duduk nya dan meminta ijin keluar pada pak Taufik.


Segera dia berlari menuju UKS, sungguh merasa bersalah dirinya telah memukul Sinta dan mengenai hidung nya.


Setengah berlari, langkahnya sudah sampai di depan pintu UKS.


" Sin, Sinta..." Panggil Raja sambil mengetuk pintu.


" Raja..." Jawab Riska yang telah merapikan tempat tidur sambil menoleh ke arah Raja yang sudah masuk ke dalam UKS.


" Kemana Sinta?" Tanya Raja yang tidak melihat keberadaan Sinta.


" Tadi ijin sama aku, katanya mau ke rumah tunangannya. Tapi ijin di pak Romli, mau ke klinik ngobatin lukanya yang memar di hidung." Kata Riska menjelaskan pada Raja.


Tanpa kata-kata, Raja langsung berlari keluar dari Uks. Dan menuju ruang piket, untuk meminta ijin keluar.

__ADS_1


Segera dia menuju parkiran motor, dan mengambil ponselnya.


Dia langsung menghubungi Dito, kalau Sinta akan ke rumah nya. Jika mereka bertemu, pasti Dito akan marah. Melihat wajah kekasihnya, yang terluka akibat terkena pukulan darinya.


" Dit, kamu lagi dimana?" Raja menghubungi Dito melalui sambungan telepon seluler nya.


" Aku sedang di bandara." Jawab Dito.


" Oh, " sahut Raja, hatinya menjadi tenang.


" Ada apa?" Tanya Dito.


" Tidak apa-apa, soalnya Sinta mau ke rumahmu sore nanti." jawab Raja berbohong.


" Aku meminta tolong padamu, untuk menjaga Sinta. Ikuti semua rencana ku, dan aku titip pesan padamu. Jangan kau pakai hati, untuk menjalankan tugas dariku." Pesan Dito.


Kemudian mereka menghentikan pembicaraan nya, segera Raja melajukan motornya menuju rumah Dito.


Sinta telah sampai di rumah Dito, dan dia hanya menemui asisten rumah tangga.


" Non, itu kenapa sama hidung nya?' tanya Bi Sumi yang merupakan asisten rumah tangga Dito.


" Abis kepentok, mbok." Jawab Sinta sambil memegang hidungnya.


" Kepentok apa, Non? Kok ampe merah gitu?" Tanyanya cemas.


" Dito ada, Bi?" tanya Sinta.


" Den Dito, udah berangkat ke bandara tadi pagi setelah bikin KTP." Jawab Pak Paijo yang menyahut dari arah belakang Sinta.


" Iya, non. " Jawab Pak Paijo.


" Non, ayo bapak antar pulang ya!" Kata Pak Paijo yang tak tega melihat Sinta bersedih.


" Aku pengen banget, ketemu sama Dito." lirih Sinta.


" Iya udah non, sekarang bapak antarkan pulang saja." ajak Pak Paijo yang langsung membukakan pintu mobil.


Sinta pun masuk ke dalamnya, dan pak Paijo telah melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dito.


Dari kejauhan, terlihat Raja yang sedang melihat Sinta sudah naik mobil.


Dia tak menyangka, akan mempunyai pekerjaan yang begitu berat. Berhubungan dengan gadis yang dia sukai, namun tak boleh menggunakan hatinya.


****


" Sinta, hidung kamu kenapa?" panik Sulis yang melihat hidung adiknya kemerahan dan membiru.


" Kepleset di kamar mandi." jawab Sinta asal.


" Apa, kepleset kok hidung nya yang luka bukan kaki atau ataupun bokongnya?" tanya Sulis yang menatap curiga ke arah Sinta.


" Iya, abis kepleset aku kepentok pintu. " sambungnya.

__ADS_1


" Iya sudah, kamu mandi sana." suruh Sulis, " Nanti kakak, bikinin teh." kata Sulis


" Iya, kak." jawab Sinta yang langsung bergegas menuju kamarnya.


Sinta langsung membuka baju seragam nya. Lalu merebahkan tubuhnya, di kasur hanya mengenakan kaus dalam dan celana street.


Sinta memandang langit-langit kamarnya, sambil berpikir tentang kekasih nya yang sudah pergi dari Indonesia.


" Dito, kamu sudah pergi. Sebelum aku sempat menjelaskan, semua kesalahpahaman tentang hubungan ku dengan Raja." lirih Sinta sambil memejamkan kedua matanya.


Tak terasa Sinta mulai tertidur, dan lupa untuk mandi sore.


" Tok, tok, tok .." Sulis mengetuk pintu kamar Sinta.


" Sin, " panggil Sulis dari arah pun luar. Namun tak terdengar suara jawaban dari Sinta.


Sulis langsung membuka pintu kamar Sinta, dan melihat nya sedang tertidur pulas.


" Sin, kamu belum mandi?" tanya Sulis sambil melihat adiknya yang tertidur di kasur.


" Sin, Sinta...." panggil Sulis dengan kencang di telinga Sinta.


Sinta langsung terlonjak kaget, mendengar teriakan dari kakak nya.


" Ish, kakak. Aku ngantuk." lirihnya sambil mengusap kedua matanya.


" Ada paket." kata Sulis sambil menggoyangkan tubuh Sinta.


" Paket darimana?" tanya Sinta dengan nada malas.


" Enggak tahu, gak ada nama pengirim nya." kata Sulis sambil mengangkat kedua bahunya.


Sinta pun keluar dari kamarnya, dia melihat ada paket berbentuk kotak berukuran 30x 30 cm².


" Kotak dari mana nih?" gumam Sinta yang melihat kotak merah di hadapannya.


Setahu dia, hanya Dito yang mengetahui warna kesukaannya.


" Masa iya, Dito? Dia kan lagi marah padaku?" gumamnya sambil berpikir keras.


" Hadiah dari siapa?" tanya Sulis yang mengagetkan Sinta dan menaruh dagunya di atas pundak Sinta.


" Ish kakak, jadi orang ngagetin aja." ketus Sinta sambil menggeser bahunya, dari dagu Sulis.


" Coba buka." suruh Sulis yang kini duduk di sofa.


" Dari siapa sih, kak?" tanya Sinta.


" Jangan-jangan isinya, bom?" tebak Sulis yang menakuti Sinta.


" Ish, kakak jangan nakutin dong." Kata Sinta sambil duduk mendekati Sulis.


" Iya udah, kamu ambil gunting sana." perintah Sulis.

__ADS_1


Sinta langsung berjalan ke arah dapur, untuk mengambil gunting.


__ADS_2