
"Apa maksud kamu?" tanya Sinta dengan raut wajah penasaran.
Karena Dito takut rahasianya akan terbongkar, akhirnya dia mengalihkan pembicaraan.
"Gendis, apa yang bisa meyakini kami jika kamu bukan komplotan pak Ferdi?" tanya Dito
"Aku bisa membawa Risma ke panti," jawab Gendis. "Awalnya aku meminta Ferdi untuk menunjukkan dimana keberadaan Risma. Setelah aku menemukannya, aku menyuruhnya untuk membawa Sinta juga ke sebuah hotel. Aku bilang ke pak Ferdi jika punya pelanggan yang menginginkan seorang gadis yang masih perawan. Lalu sanggup membayar dengan mahal, sesudah itu mereka berdua baru di kirim ke luar negeri." Gendis menjelaskan. "Itu hanya akal-akalan aku saja, agar Ferdi percaya."
"Lalu, apa kau berniat untuk menjualku?" kecam Sinta yang sedikit emosi mendengar penjelasan Gendis.
"Sin, aku justru ingin menyelamatkanmu. Setelah aku bisa menemui Risma, dia langsung aku bawa ke hotel. Hal itu untuk berjaga-jaga agar saat kami kabur, dapat pertolongan dari orang-orang. Tapi ternyata semua di luar dugaanku. Saat aku mengetahui ada pacarmu yang sedang menyamar, maka aku mengubah rencanaku. Aku kembali ke yayasan dan memata-matai Ferdi yang akan membawamu ke hotel. Sedangkan Risma aku belikan baju gamis dan juga cadar, lalu dia pulang dengan taksi online dari hotel. Setelah Ferdi tertangkap, aku langsung menyusul Risma ke panti, untuk memastikan dirinya sudah aman."
"Apa benar yang dikatakan Gendis?" tanya Raja mencari pembenaran di wajah Risma.
"Iya, semua yang di ceritakan oleh Gendis adalah benar." Risma mengiyakan.
"Aku gak mungkin menjerumuskan orang yang telah membantuku selama ini. Walaupun aku pernah jahat sama Sinta, bukan berarti aku kehilangan sisi baik. Aku tidak ingin di cap sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih." Gendis langsung memeluk Sinta.
Sinta terharu dengan cerita dari Gendis, dan kini dia melupakan Dita.
__ADS_1
Setelah Gendis menceritakan semua rencana yang dia susun. Kini dia akan pergi ke kantor polisi untuk membuat kesaksian.
Sinta masih di dalam panti, karena dia masih sangat merindukan anak-anak panti.
Sedangkan Gendis menghampiri Dito dan Raja yang sedang berbicara di luar panti.
"Hey," sapa Gendis.
"Apakah kamu benar tidak memihak pak Ferdi?" Raja kembali bertanya, karena dia masih tak percaya dengan Gendis.
"Aku memang pernah jahat, tapi aku bukanlah orang yang gak tahu balas budi," jawab Gendis.
Seketika Dito langsung membulatkan kedua bola matanya.
"Apa kamu kenal sama dia?" tanya Gendis dengan tatapan meledek.
"Apa maksudmu?" tanya Dito
"Aku tahu kalau Dita itu adalah kamu," ucap Gendis seraya tersenyum tipis. "Cantik," ledeknya.
__ADS_1
"Hey, jangan terus meledekku." Dito terlihat kesal karena penyamarannya diketahui oleh Gendis.
"Aku tahu, kamu pasti sudah punya Feeling kalau kekasihmu ada di gudang itu."
"Darimana kamu tahu kalau Dita itu adalah aku?" tanya Dito yang terus mencoba mengelak.
"Aku gak bodoh kayak Sinta," bisik Gendis di telinga Dito.
Kemudian Gendis langsung masuk ke dalam panti.
Dito melihat Raja yang sepertinya sedang tersenyum meledek ke arahnya.
"Hey, puas kamu!" hardik Dito.
"Aku pikir tidak akan ada yang mengenalimu," ucap Raja sembari tertawa terbahak-bahak.
"Awas saja kalau Sinta sampai tahu, akan aku buat pelajaran untuk kalian." Dito langsung pergi meninggalkan Raja.
"Ha, ha, ha ..." Terdengar suara Raja yang langsung tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Silakan komentar dan like