LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
51


__ADS_3

Gendis berencana untuk pulang bersama Sinta. Usai jam pelajaran berakhir, dia segera berlari ke kelas Sinta.


Risma curiga dengan sikap Gendis, yang kini mengacuhkannya. Dia merasa tidak di anggap teman lagi oleh Gendis.


Iya, karena Gendis adalah ATM nya. Di saat dia butuh uang pasti Gendis selalu memberikannya.


Risma mengikut Gendis, dari arah belakang. Dia ingin tahu, kenapa Gendis tiba-tiba akrab dengan Sinta. Bukannya dia pernah membenci Sinta, karena telah merebut Raka darinya.


Gendis sudah sampai di depan kelas Sinta, dia menunggu di depan pintu.


Sinta terlihat sedang merapikan alat-alat tulisnya.


" Gendis, sedang apa kamu?" tanya Raka yang sudah keluar dari kelas. Dia melihat Gendis yang sedang bersandar di dinding.


" Aku menunggu Sinta," jawab Gendis sambil melirik ke arah dalam kelas.


" Kok kamu jadi akrab sama dia?" Raka terlihat curiga dengan sikap Gendis.


" Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya ingin berteman dengannya. Memangnya tidak boleh?" ucap Gendis sambil memutar kedua bola matanya.


" Awas saja, kalau kau menyakiti Sinta." Raka mengancam Gendis sambil menyipitkan kedua mata nya.


" Memangnya kamu gak cemburu, kalau Raja sudah milik Sinta?" ucap Gendis dengan nada mencibir.


" Iya, aku harus bisa mengambil hati Sinta," jawab Raka penuh keyakinan.


" Aku tunggu pengumuman mu, menembak Sinta. " Gendis menantang Raka, dan terlihat Sinta sudah keluar dari kelas.


" Sinta ...."


Gendis menghampiri Sinta, yang sudah keluar dari kelas.


" Gendis," jawab Sinta seraya menolehkan kepalanya ke arah Gendis.


" Aku mau main, ke rumah kamu. Boleh gak?" tanya Gendis sambil menyatukan kedua tangan nya, " please ..." Dia memohon.


" Bo-leh, tapi apa gak jauh dari rumah kamu?" jawab Sinta.


" Enggak apa-apa, pulangnya aku bisa memesan taksi online," ucap Gendis.


Sinta menyetujui keinginan Gendis, dan mereka pun jalan berdua menuruni anak tangga.


Dari jauh Risma terlihat geram, melihat keakraban Sinta dan Gendis.


' Apa Gendis sudah tidak membutuhkan ku lagi?' batinnya menatap kesal ke arah Gendis dan Sinta yang sudah terlihat jauh dari pandangannya.

__ADS_1


Gendis dan Sinta, sudah naik angkutan umum. Karena Sinta lebih suka naik angkot, yang bisa bertemu dengan orang banyak. Sementara dia lupa, jika sudah janji pada Raja.


Raja akan mengajaknya ke outlet milik Dito yang ke tiga. Dan mengecek laporan yang kemarin dia minta.


Pastinya Raja sedang menunggunya di parkiran, segera dia menghubungi Raja melalui pesan singkat.


' Raja, aku bersama Gendis. Dia ingin ke rumahku. Maaf ya, aku melupakan janji kita. '


Pesan telah terkirim, dan Raja langsung membacanya.


" Huft, kenapa baru kirim pesan. Padahal aku sudah menunggu setengah jam," keluh Raja, dia langsung memakai helmnya dan menjalankan motor nya meninggalkan sekolah.


Raja telah menunggu Sinta sejak tiga puluh menit, usai bel pulang sekolah berbunyi.


Dia tidak melihat Sinta, yang berjalan bersama Gendis saat melewati pintu gerbang. Karena berbarengan dengan, siswa siswi yang pulang sekolah.


Sepanjang perjalanan, terlihat Gendis banyak berbicara. Sinta tidak tahu, jika Gendis suka sekali bercerita. Andai sejak pertama mereka bertemu, pastinya Sinta mendapatkan sahabat pertama di Yogyakarta.


" Sin, apa kamu pacaran sama Raja?" Gendis menanyakan hal yang sama dengan Riska dan Ayu. Mereka sangat penasaran sekali, tentang hubungan nya dengan Raja.


" Enggak, dia hanya partner ku, " ucap Sinta


" Partner? Berarti pacar dong?" Gendis terkejut dengan jawaban Sinta. Karena dia mulai jatuh hati pada Raja, saat tahu Raja anak dari kepala yayasan.


" Tapi kemarin, kamu terlihat akrab banget sama Raja. Padahal di sekolah, seperti nya sikap Raja sangat dingin dan jutek," tutur Gendis.


" Apa kamu tahu, kalau dia anak kepala yayasan?" Gendis bertanya pada Sinta.


Sinta sudah tahu, hanya saja dia tidak perduli. Karena Sinta hanya ingin mencari teman sebanyak-banyaknya.


" Iya, aku sudah tahu. Lantas apa hubungannya, soal Raja anak kepala yayasan?" Sinta mengernyitkan dahinya.


" Enggak apa-apa, aku baru tahu kemarin, " kata Gendis sambil tersenyum pias.


" Kiri, kiri...." Sinta berteriak ingin menghentikan supir angkot.


Mobil angkot pun berhenti, di depan komplek perumahan dinas negara.


Sinta dan Gendis pun turun bergantian, dan membayar ongkos angkot.


" Biar aku, yang bayar!" Gendis mengeluarkan uang sepuluh ribu.


" Terima kasih," jawab Sinta


Mobil angkot melaju, meninggalkan Sinta dan Gendis.

__ADS_1


" Ini rumahmu?" tanya Gendis yang sudah berdiri di depan portal perumahan dinas.


" Rumah dinas, kakakku. Kebetulan dia mendapatkan fasilitas rumah dinas, dan aku di suruh menemaninya."


Mereka sudah sampai di depan rumah Sinta. Terlihat asri, karena banyak tanaman hias di depan pekarangan nya. Sulis memang suka mengkoleksi tanaman hias, selain itu dia juga berbisnis tanaman hias.


Hidup merantau, membuat Sulis pandai berkreasi. Usahanya di rintis, sejak dia masuk kuliah semester ke tiga. Karena dia tidak ingin merepotkan perekonomian, kedua orang tuanya.


" Oh, lalu kedua orang tua mu, dimana?" tanya Gendis, Sinta telah membuka pintunya dan mempersilakan Gendis masuk ke dalam.


" Silakan masuk," ucap Sinta, lalu dia berjalan menuju sofa." Silakan, duduk."


" Terima kasih," ucap Gendis yang langsung duduk di sofa.


" Aku mau ganti baju dulu, ya!" Sinta meminta ijin mengganti bajunya, dan berjalan menuju kamar nya.


Gendis menunggu Sinta, sambil melihat-lihat seisi rumah Sinta.


" Kakaknya, cantik sekali." Gendis melihat foto Sulis yang terpajang di dinding, dengan figura berukuran 50 x 100cm.


Selang beberapa menit, Sinta pun keluar dari kamarnya.


" Maaf, kamu menunggu lama ya?" tanya Sinta, dia langsung menuju ke arah dapur.


Sinta ingin membuatkan es sirop, karena di kulkasnya tersedia sirop rasa jeruk.


" Sin, kakakmu cantik sekali," puji Gendis.


" Iya, dia adalah guruku. Aku sangat iri pada kecantikan dan kepintaran nya." Sinta memuji sang kakak. Walaupun mereka sering bertengkar, tetapi Sinta tetap mengagumi Sulis.


" Aku pun iri, karena aku hanya anak tunggal." Gendis berucap dengan nada lesu.


Sinta telah selesai membuat es sirop, lalu membawa ke ruang tamu.


" Oh iya, memangnya kedua orang tua mu tinggal di mana?" tanya Gendis, yang mengikuti langkah Sinta. Dia pun sudah duduk di sofa.


" Jakarta," jawab Sinta.


" Wah, aku pengen banget ke sana!" Gendis antusias mendengar nama ibukota." Kata orang, kalau di ibukota gampang nyari kerja," ucapnya bersemangat.


" Iya, kalau nasib kamu beruntung," ucap Sinta, " maaf, bukan maksud ku untuk membuatmu pesimis. Hanya saja hidup di kota orang harus kuat mental. Dan aku bangga pada kakakku, yang bisa hidup mandiri dan jauh dari orang tua. Mau kita tinggal di mana pun, asal rajin dan kerja keras pasti akan jadi orang sukses."


" Oh iya, kakakmu saja kerja di sini!"


Silakan like dan berikan komentar mu.

__ADS_1


__ADS_2