
"Cepat keluar!" perintah Ferdi pada Anggita
Anggita pun keluar dari mobil, lalu berjalan menuju ke arah rumahnya.
"Cepat!" desak Ferdi seraya mendorong tubuh Anggita.
"Iya," jawab Anggita kesal.
Kemudian Anggita pun mengetuk pintu rumah nya. "Tok, tok, tok..."
Ketukan pertama tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Dua sampai tiga kali ketukan pintu pun tak juga ada yang membukakan.
"Kemana anakmu?" tanya Ferdi
"Aku gak tahu, setahuku dia pulang kerumah."
Anggita panik, dia sangat takut jika Ferdi melakukan kekerasan pada dirinya. Mengingat rumahnya adalah daerah perumahan yang terbilang sepi saat siang hari.
"Gendis..." teriak Ferdi sambil menggedor-gedor pintu rumah.
Tak ada jawaban dari dalam rumah, Ferdi semakin kesal.
"Narji, cepat dobrak pintunya!" perintah Ferdi pada supir pribadinya
Narji pun menurut, kemudian dia mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu rumah Anggita.
Tubuhnya mulai di tegakkan, lalu kedua matanya mulai fokus melihat ke arah pintu. Kaki sebelah kanan pun di dorong kebelakang, mengikuti laju tubuhnya. Setelah hitungan ketiga, Narji mulai memajukan tubuhnya. Lalu menabrakkan dengan keras tubuhnya ke arah pintu.
__ADS_1
"Bruk..."
Sekali dorongan dari Narji, tak mampu membuka pintu rumah Anggita yang lumayan cukup tebal.
"Auw..." pekik Narji sambil meringis kesakitan sembari mengusapkan lengannya.
"Kenapa?" tanya Ferdi seraya menatapnya tajam.
"Sakit, Tuan?" jawab Narji tertunduk ketakutan.
"Huft! Payah," ujar Ferdi sambil mendorong tubuh Narji
"Cepat hubungi anakmu!" perintah Ferdi kepada Anggita seraya mendorong tubuhnya dengan kasar.
"Ba-baik," jawab Anggita menahan takut.
Anggita pun mengeluarkan handphone miliknya.
Kemudian Ferdi langsung mencari nomor kontak Gendis.
"Berdering..." Terlihat di layar ponsel milik Anggita.
Sudah tiga kali Ferdi mencoba menghubungi Gendis, namun tak kunjung di jawab.
"Kemana anakmu?" tanya Ferdi seraya memberikan ponsel kepada Anggita.
"Apa Gendis tidak menjawab?" tanya Anggita cemas.
"Tidak!" jawab Ferdi lantang.
__ADS_1
"Kemana Gendis?" panik Anggita sambil mondar-mandir di depan Ferdi. "Pak, tolong bantu aku!" Anggita memohon pada Ferdi untuk mencari keberadaan Gendis.
"Kenapa aku harus mencari anakmu?" bentak Ferdi
Sementara dari kejauhan terlihat Gendis sedang mengamati mamanya yang sedang bersama Ferdi
Sebenarnya Gendis tidak jadi pulang kerumah saat Anggita sudah mengantarkan ke klinik. Dan Gendis memilih kembali ke sekolah karena tasnya tertinggal. Tetapi saat akan menuju sekolah, Gendis melihat Ferdi yang sedang keluar dari mobilnya.
Niat untuk kembali ke sekolah akhirnya Gendis urungkan. Gendis meminta supir taksi online untuk berhenti di pinggir jalan. Lalu mengintai Ferdi yang telah masuk ke sekolah.
Dan benar saja dugaan Gendis, pasti Ferdi akan mencarinya dengan membawa serta mamanya. Saat mobil Ferdi telah membawa sang mama, akhirnya Gendis mengikuti dari belakang.
Bunyi handphone Gendis terus berbunyi, hanya saja tidak dia hiraukan. Gendis sangat tahu, jika yang menghubungi nya saat ini adalah Ferdi
Anggita terus menangis memohon kepada Ferdi untuk mencari keberadaan Gendis. Namun Ferdi tidak mau tahu tentang urusan Gendis yang tidak pulang ke rumah.
Ferdi pun mendorong tubuh Anggita hingga terjatuh ke teras.
"Auw!" pekik Anggita
"Narji, ayo jalan!" perintah Ferdi yang langsung berjalan menuju mobilnya.
Narji pun membukakan pintu mobil untuk Ferdi kemudian mereka pun pergi dari rumah Anggita.
Setelah situasi aman, Gendis pun keluar dari mobil taksi online lalu berjalan menuju rumahnya.
"Mama..." panggil Gendis.
"Gendis," kaget Anggita seraya mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata.
__ADS_1
Silakan berikan komentar dan like