LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 56


__ADS_3

Sesampainya di rumah Gendis, Raja dan Sinta tengah berdiskusi.


" Raja, ada sepatu laki-laki." Sinta melihat ke arah teras.


" Sepertinya ada papa tirinya, aku akan coba mengecek dari arah lain. Kamu pura-pura bertamu." Raja memberikan arahan untuk Sinta.


" Baik," jawab Sinta seraya menganggukkan kepalanya.


Raja mulai berjalan menuju sebelah rumah Gendis. Sedangkan Sinta mulai mengetuk pintu depan.


" Tok, tok, tok ...."


Sinta telah mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Namun belum ada jawaban juga dari dalam rumah.


Sementara Raja terus menyusuri sebelah rumah Gendis. Seperti tak ada kehidupan di dalamnya. Kemudian ada Raka yang tiba-tiba menepuk pundaknya.


" Ja, kamu lagi ngapain? " Raka yang penasaran dengan sikap Raja dan Sinta akhirnya masuk lewat gerbang belakang.


Rumah Gendis berada di area perumahan, memiliki gerbang utama dan belakang.


Raka pernah diajak bermain ke rumah Gendis. Dan Gendis pernah memberitahu Raka, jika ada gerbang di pintu belakang.


" Ish, kamu mengagetkan saja. " Raja berucap seraya mengelus dadanya.


" Kamu lagi ngapain sama Sinta? " tanya Raka.


" Kamu ngikutin aku, ya? " tebak Raja.


" Iya, tadinya aku penasaran soal kamu membawa Sinta. Aku pikir akan kamu ajak pulang, ternyata kamu sedang menyelinap kerumah Gendis. " Raka menjelaskan pada Raja.


" Hal itu bisa aku jelaskan nanti, sekarang kita harus mencari keberadaan Gendis. " Raja langsung berjalan menuju pintu belakang.


" Kamar Gendis di atas, " kata Raka yang langsung mendahului Raja.


" Jongkok, " perintah Raka seraya menunjukkan jari telunjuknya ke atas.


Raka memberitahu jika letak kamar Gendis ada di lantai dua.


Raja segera melakukan perintah Raka, dia berjongkok. Kemudian Raka naik ke atas punggung Raja untuk memanjat ke arah balkon.


Lalu Raka membantu Raja dengan mengulurkan tangannya, agar Raja bisa naik ke atas balkon.


Setelah keduanya sudah naik ke atas balkon, Raka langsung membuka jendela.


" Gak di kunci, " kata Raka berbisik.


Raka masuk terlebih dahulu, karena dia telah mengetahui keadaan rumah Gendis.


Terlihat pintu kamar Gendis terbuka, Raka dan Raja pun berjalan menghampiri.


Perlahan kaki mereka melangkah, agar tidak di ketahui oleh pemilik rumah.


Raka dan Raja telah sampai di dinding dekat pintu, lalu menyandarkan tubuhnya.


Setelah di rasa cukup aman, Raja menoleh ke arah kamar Gendis.


Terlihat Gendis yang sedang tertidur tanpa busana, lalu di tindih oleh seorang pria.

__ADS_1


Kaki dan tangannya di ikat di sisi ranjang, dan lelaki itu sedang bermain di atas tubuh Gendis.


" Hey, kurang ajar kau .... "


Raja menghampiri lelaki tanpa busana, yang sedang menindih tubuh Gendis


" Siapa kalian? " Bram terkejut, melihat dua pemuda masuk tanpa ijin ke dalam rumah.


Wajah Gendis terlihat pucat dan tak sadarkan diri. Namun laki-laki itu dengan tega menyetubuhi Gendis dalam keadaan tak sadarkan diri.


Raka terkejut dengan pemandangan tak senonoh di hadapannya.


" Dan kamu, pasti papa tirinya Gendis!" Raja langsung menarik tubuh laki-laki itu, dan mendorongnya menjauhi Gendis.


" Raka, urus dia." Raja langsung menghampiri Gendis dan mencari selimut untuk menutupi tubuhnya.


Sementara Raka menendang kejantanan pria di hadapannya.


" Hey, kamu siapa? Berani-beraninya maksa perempuan." Raka terus menghajar lelaki tanpa busana. Dia terlihat kerepotan menutupi kejantanannya.


" Ah, " ucap Bram meringis kesakitan saat senjata andalannya di tendang oleh Raka.


" Rasakan," ucap Raka yang terlihat puas.


Raja telah membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Gendis.


Kemudian dia membantu Raka, untuk memberi pelajaran lelaki yang telah meniduri Gendis.


" Raka, bukakan pintu. Biar Sinta yang mengurus Gendis." Raja menahan tubuh lelaki itu lalu mengikatnya dengan tali bekas mengikat tangan Gendis.


Raka segera berlari menuju pintu utama, kemudian membukakan pintu untuk Sinta.


Pintu pun terbuka, terlihat Sinta sedang duduk di teras depan rumah menghadap ke arah gerbang.


" Sinta ... " Raka memanggil.


" Raka?" Sinta menolehkan kepalanya, lalu berdiri. Sinta langsung menghampiri Raka. "Kok kamu bisa di dalam?" Sinta bingung dengan keberadaan Raka


" Jelasinnya nanti aja, sekarang kamu ikut aku." Raka langsung menarik tangan Sinta.


" Kita mau kemana?" tanya Sinta yang mengikuti langkah Raka.


" Ke kamar Gendis," ucap Raka yang telah menaiki anak tangga.


" Ada apa dengan Gendis?"


Raka telah memasuki kamar Gendis, dan melihat laki-laki di hadapan Raja yang belum memakai baju.


" Sinta, stop!" Raka menahan tangannya ke arah Sinta.


Sinta langsung berhenti mendadak, "ada apa sih?" Sinta langsung memasukkan kepala ke arah kamar Gendis.


" Ah .... " Sinta langsung memundurkan kepala nya saat melihat Bram tanpa busana sedang duduk dengan terikat kebelakang.


" Raka, kenapa kau tidak menghentikan Sinta?" Raja langsung mengambil celana Bram untuk menutupi tubuh Bram.


" Luruskan kakimu!" perintah Raja pada Bram.

__ADS_1


Dengan seringai licik, Bram tidak mendengarkan perintah Raja.


Raja terlihat kesal, dia langsung menarik paksa kaki Bram.


" Hey, kau mau apa?" teriak Bram merasa kesakitan.


Raka segera membantu Raja, agar Sinta bisa menolong Gendis.


" Ish, burungnya hitam." Raka mengejek kejantanan milik Bram, dia datang untuk membantu Raja


" Lepaskan," berontak Bram sambil menendang muka Raka.


" Kurang ajar!" Raka langsung menyentil kepemilikan Bram


" Auw, brengsek kau!" umpat Bram.


" Kenapa kamu gak nutup mulut dia, sih?" Raka geram dengan suara Bram.


" Sinta, cepat masuk dan tolong Gendis." Raja berteriak, memanggil Sinta.


" Tuyulnya uda pake celana belum?" Sinta menyahut.


" Sudah," jawab Raja.


Sinta segera masuk ke dalam kamar, dan menghampiri Gendis.


" Raja, Raka sebaiknya kalian keluar. Dan bawa makhluk astral itu!" perintah Sinta yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur.


Raka dan Raja segera mengangkat Bram, dan membawanya keluar dari kamar.


Bram terus memberontak, dia tidak mau di bawa keluar.


" Hey diam, kau ini laki-laki beraninya sama perempuan yang lagi pingsan." Raka terus mengejek Bram.


Setelah mereka bertiga keluar dari kamar, Sinta langsung menutup pintunya. Sayangnya pintu kamar tidak bisa terkunci, karena tadi pagi di dobrak oleh Bram.


Sinta melihat wajah Gendis yang terlihat memar, dan membiru.


" Gendis ... " Sinta mencoba memanggil nama Gendis.


Dia menepuk pipi Gendis dengan perlahan, memastikan jika temannya sudah sadar.


Gendis mulai membuka matanya dengan perlahan.


" Sin- ta," ucap Gendis dengan suara terbata-bata.


" Gendis, kamu sudah aman." Sinta langsung mengusap pipi Gendis


Sinta segera mencarikan baju Gendis di lemarinya. Dia mencarikan piyama, yang mudah untuk di pakaikan di badan Gendis


" Pakai bajunya dulu," ucap Sinta sambil membangunkan Gendis.


Sinta dengan telaten memakai kan baju, dan juga celana.


" Badanku sakit semua, " keluh Gendis.


" Gendis, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Sinta menatap lekat ke arah Gendis. "Laki-laki itu papamu, 'kan?" Sinta memastikan.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentar mu


__ADS_2