LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
amarah Ferdi


__ADS_3

"Cepat kau cari tahu, siapa yang telah membuat laporan ini!" tegas Ferdi seraya melempar berkas ke arah asistennya


"Baik, Tuan!" jawabnya dan langsung meninggalkan Ferdi


"Aku harus menghubungi Gendis, ini pasti ada hubungan dengannya."


Ferdi langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Gendis.


'Telpon yang anda tuju, tidak dapat di hubungi.'


Terdengar suara otomatis dari operator provider sedang berbicara dengannya.


"Kurang ajar!" Ferdi terlihat sangat marah saat Gendis tak bisa di hubungi.


Kemudian Ferdi kembali menghubungi Anggita, dan ternyata jawabannya adalah operator telepon seluler lagi.


Ferdi sangat yakin jika ada surat pemanggilan dari pihak kepolisian untuknya, pasti ada bukti-bukti yang telah di serahkan.


Hanya saja Ferdi telah memusnahkan semua bukti dari tangan Gendis. Tetapi Ferdi lupa, jika ada Risma yang merupakan perantara antara Gendis dan Ferdi.


"Mereka dapat bukti darimana?" geram Ferdi


Lalu Ferdi langsung menyambar jasnya yang di sampirkan di bangku.


Segera Ferdi bergegas menuju rumah Gendis, untuk meminta penjelasan.


Dengan wajah penuh amarah, Ferdi berjalan menuju lobi kantor. Mobilnya telah terparkir di lobi hotel, Ferdi pun segera naik.


"Kemana Tuan?" tanya supir.

__ADS_1


"Ke rumah Gendis," perintah Ferdi


Sopir pun melajukan mobilnya menuju rumah Gendis.


Sang sopir telah mengetahui siapa saja kolega dan klien Ferdi. Karena memang dia selalu setia mengantarkan Ferdi kemanapun.


Ferdi pun melihat jam di tangannya, saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi.


"Sial! Kenapa aku lupa kalau saat ini Gendis sedang sekolah," ujar Ferdi seraya mengepalkan tangannya.


Ferdi pun merubah pikirannya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sekolah Gendis.


Ferdi tidak ingin berlarut -larut dalam masalahnya.


"Ganti arah, ke sekolah Gendis." Ferdi memerintahkan sang supir menuju sekolah Gendis.


"Baik, Tuan!"


Ferdi kembali berpikir, jika saja dia yang menemui Gendis di sekolah pasti akan membuat pertanyaan pihak sekolah.


"Narji, nanti kamu yang panggil Gendis untuk menemui saya," Ferdi memerintahkan Narji.


"Baik, Tuan!" kata Narji yang sudah sangat paham dengan tuannya.


Mobil terus melaju menuju sekolah Gendis. Ferdi harus segera menyelesaikan masalahnya. Karena jika terungkap satu kasus saja, pasti akan berimbas ke bisnis yang sedang dia jalani.


Mobil telah terparkir di pinggir jalan, kemudian Narji keluar dari mobil. Narji berjalan menuju sekolah Gendis, sedangkan Ferdi terus memantau Narji.


Sesampainya di sekolah, Narji meminta izin kepada guru piket yang sedang berjaga. Kemudian guru piket itu pun berjalan menuju kelas Gendis.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, sang guru melapor kepada Narji jika Gendis tidak ada di kelasnya


"Maaf, Pak. Gendis tidak ada di kelasnya, kata teman-temannya, dia izin pulang karena tadi perutnya sakit."


"Baik, Pak. Terima kasih." Narji pun bergegas pergi menuju mobil.


"Tuan, Gendis izin pulang karena sakit perut." Narji melapor kepada Ferdi


"Kurang ajar!" marah Ferdi


Saat Ferdi sedang marah, ada Anggita yang melintas sedang berboncengan dengan guru perempuan.


"Anggita!" ucap Ferdi.


Ferdi pun langsung keluar dari mobil, lalu berlari menghampiri Anggita yang sudah masuk ke sekolah.


"Anggita..." panggil Ferdi


Seketika Anggita terkejut mendengar suara Ferdi yang memanggil namanya.


"Ferdi ..." ucap pelan Anggita seraya menahan takut.


"Ada apa, Bu?" tanya Marissa yang telah memarkirkan motornya.


"Eh," Ucap Anggita menjadi salah tingkah, saat Ferdi telah berada di hadapannya.


"Anggita..." panggil Ferdi


" Pak Ferdi," ucap Anggita ketakutan.

__ADS_1


Ferdi terpesona dengan kecantikan Marissa, hingga memandang Marissa takjub.


Jangan lupa untuk like dan komentar


__ADS_2