
Sinta memakan dengan lahap nasi dan juga lauk yang tadi di pesan oleh Dito.
"Jangan terlalu cepat makannya, nanti kamu bisa tersedak." Dito mengingatkan Sinta.
"Iya," jawab Sinta sembari memakan kerupuk.
Dito mengambil ponselnya untuk menghubungi Sulis. Agar sang calon kakak ipar tidak lagi mengkhawatirkan keadaan Sinta.
Perihal penculikan Sinta tidak diberitahu kepada kedua orang tuanya. Akan membuat cemas jika mereka mengetahui penculikan Sinta.
"Aku telpon kak Sulis ya," kata Dito meminta persetujuan dari Sinta.
"Sebaiknya tidak usah, biar surprise saja." Sinta mencegah Dito untuk menghubungi Sulis.
"Tapi kak Sulis sangat mencemaskanmu," kata Dito
"Aku tahu, tapi sebaiknya kita langsung pulang saja." Sinta telah menyelesaikan makanannya.
Kemudian Sinta dan Dito pun bergegas pergi meninggalkan warung makan.
"Tasku masih di gedung tua itu," kata Sinta
"Nanti aku akan menyuruh Raja untuk mengambilnya," kata Dito.
"Tidak usah, sebaiknya kita ambil saja." Sinta menolak usulan Dito untuk menyuruh Raja mengambil tasnya.
__ADS_1
Sinta merasa tak enak hati bila harus menyusahkan Raja terus menerus.
"Baiklah, kita pulang dulu. Setelah itu baru mengambil tasmu, pastinya akan ada banyak polisi di sana."
Dito langsung melajukan motornya pergi meninggalkan warung makan.
Ferdi telah dibawa ke kantor polisi, dan Raja pun ikut bersamanya untuk menjadi saksi.
Raja ingin mengetahui keberadaan Risma, karena Ferdi belum juga buka suara.
Sudirja bersama anak buahnya menuju yayasan yang merupakan basecamp tempat Ferdi mengumpulkan para mahasiswi.
Nantinya para mahasiswi yang datang membawa perlengkapan dan juga baju-baju akan menjadi saksi.
Sudirja pun menunggu kedatangan mereka di dalam yayasan sembari memeriksa seluruh isi yayasan.
Namun pihak kepolisian tidak menemukan keberadaan Risma di dalam yayasan.
"Pak, sepertinya tidak ada orang lagi di dalam yayasan," lapor salah satu anak buah Sudirja
"Ya, sudah. Kita akan menunggu para mahasiswi yang akan datang sebentar lagi," kata Sudirja
"Baik," jawab anak buah Sudirja.
Seperti yang dilaporkan oleh Raja, ada seseorang lagi yang harus di cari keberadaan yaitu Gendis.
__ADS_1
Pihak kepolisian langsung bergegas menuju rumah Gendis.
"Selamat sore," sapa salah seorang polisi yang sudah berdiri di depan pintu rumah Gendis.
"Sore," jawab Anggita yang terkejut melihat ada tiga orang polisi datang kerumahnya. "Maaf, Pak. Ada apa ya?" tanya Anggita dengan wajah panik.
"Anak ibu yang bernama Gendis di duga bekerjasama dengan Ferdi Ariawan."
Anggita terlihat ketakutan saat polisi menyebut nama Ferdi Ariawan.
"Maksudnya apa ya?" tanya Anggita bingung. Karena setahu Anggita, Gendis sedang menghindar Ferdi. Tetapi kenapa anaknya dilibatkan dengan kasus Ferdi?
"Nanti saja kami jelaskan di kantor, sebaiknya Anda kooperatif."
"Tapi anak saya gak ada di rumah," kata Anggita gugup. "Dan saya tidak tahu dia pergi kemana," jelasnya.
"Baiklah, agar tidak menghambat kerja kami. Sebaiknya anda yang ikut dengan kami," kata pihak kepolisian yang tidak ingin membuang waktu.
"Tapi saya tidak tahu menahu tentang Ferdi," kata Anggita mengelak dan menolak untuk menjadi saksi.
"Sebaiknya anda ikut kami ke kantor," paksa salah seorang anggota polisi.
"Baik," jawab Anggita mengalah. Dia akan mengikuti prosedur jika tidak ingin namanya tercemar.
Anggita pun langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan ponselnya
__ADS_1
Silakan berikan komentar dan like