
"Hey, kamu siapa?" tanya laki-laki bertubuh tambun di hadapan Dito.
"Saya mahasiswi dari universitas dekat yayasan ini, kebetulan kemarin pak Feri memberikan seminar di kampus. Dan dia menunjuk yayasan ini sebagai agen untuk bekerja di luar negeri," ujar Dito menjelaskan.
Kemudian laki-laki bertubuh tambun itu pun melihat Dito dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kamu ganteng," ucapnya memuji Dito. "Tapi sayang, kami hanya butuh perempuan."
Dito terkejut mendengar penuturan dari laki-laki tambun di hadapannya.
"Maksud bapak apa ya?" tanya Dito dengan nada polosnya.
"Kami hanya butuh seorang gadis untuk di kirim keluar negeri," jawabnya seraya tersenyum sinis.
Dito kembali berpikir, jika saja dia tidak bisa masuk ke yayasan berarti dirinya tidak bisa menyelidiki kasus Feri.
"Memang syarat nya apa saja ya, Pak? Soalnya pak Feri hanya menjelaskan tentang pengiriman tenaga kerja keluar negri."
Sang pria tambun pun mengangkat sudut bibir nya. "Pak Feri lupa menjelaskan kalau yang di terima hanya perempuan," ujarnya.
Dito harus mencari cara agar kasusnya dapat di selesaikan dengan cepat.
"Baiklah, kalau memang anak laki-laki tidak di terima. Maaf mengganggu waktu anda," kata Dito yang pamit pada penjaga yayasan.
Dito pun bergegas menghampiri motor nya yang terparkir tidak jauh dari tembok yayasan.
__ADS_1
Kemudian Dito mengambil gambar dari setiap sudut yayasan. Lalu Dito mengirimkan pesan kepada Herman, agar menyimpan nya sebagai bukti.
Setelah semua sudut sudah tersimpan gambarnya, Dito bergegas menuju sekolah Sinta
Karena waktu menunjukkan pukul satu siang, sudah saatnya Dito untuk menjemput Sinta.
Segera Dito melajukan motornya pergi meninggalkan yayasan.
"Kenapa Raja bilang kalau itu panti asuhan?" pikir Dito. "Padahal tadi bapak itu bilang kalau yayasan itu adalah agen pengiriman tenaga kerja."
"Pasti ada yang tidak beres," ucap Dito.
Sepanjang perjalanan Dito masih memikirkan cara untuk bisa masuk ke dalam yayasan.
Sesampainya di sekolah, terlihat masih sepi. Sepertinya belum ada siswa yang keluar dari kelasnya.
Sembari menunggu Sinta keluar dari sekolah, Dito mengirimkan pesan kepada Raja.
"Raja, temui aku di kantor om Herman."
Pesan pun langsung terbaca oleh Raja. "Iya," jawab Raja.
"Loh, kok Raja langsung balas pesan? Bukannya mereka sedang belajar?" bingung Dito
Raja di dalam kelas sedang menggunakan ponsel nya untuk mencari perusahaan milik Feri. Saat ini adalah jam pelajaran pak Taufik dan mereka hanya mendapatkan tugas mencatat pelajaran.
__ADS_1
"Raja, kamu kok bukannya nulis?" tanya Sinta yang melihat Raja sedang asyik memainkan handphone nya.
"Nanti aku pinjam catatan kamu saja," kata Raja yang masih fokus melihat layar ponselnya.
"Tapi tugasnya banyak," ucap Sinta jengkel.
"Ya, udah. Nanti aku pinjam untuk di foto kopi."
Sinta hanya mencebikkan bibir mendengar jawaban Raja.
"Dasar malas!" umpat Sinta.
"Tanggung, ud mau mati musuhnya." Raja menjawab sambil memainkan ponselnya.
Padahal Raja sedang berkomunikasi dengan Dito. Raja tidak ingin Sinta mengetahui dia sedang menyelidiki kasus Feri.
"Ish, kamu kalo main game terus kapan pintarnya?"
"Pinter itu relatif," jawab Raja.
"Ish," kesal Sinta
Lalu Sinta melanjutkan mencatat tulisan yang berada di papan tulis.
Raja hanya tersenyum melihat Sinta sedang kesal.
__ADS_1
"Kamu kalau marah bikin gemes aja!" ucap Raja dalam hatinya.
Silahkan komentar ya