
Sinta dan Dito telah sampai di rumah dan sudah ada Sulis yang duduk di ruang tamu.
"Kak Sulis," panggil Sinta yang sudah membuka pintu rumah.
Sulis yang sedang menonton televisi begitu terkejut melihat keberadaan adiknya.
"Sinta..." Sulis terlihat begitu bahagia melihat Sinta dihadapannya.
Sulis pun langsung menghampiri Sinta lalu memeluknya.
"Kakak, jangan kencang-kencang peluknya." Sinta protes pada Sulis yang terlalu erat memeluk tubuh Sinta.
"Kakak tuh bahagia, karena kamu sudah ada di sini." Sulis melepaskan pelukannya. "Kamu kemana aja?" tanya Sulis.
"Aku di culik," jawab Sinta.
"Apa! Kamu di culik, sama siapa?" tanya Sulis geram.
"Kak, nanti saja ceritanya. Aku mau ganti baju dulu," kata Sinta
"Iya, sebaiknya Sinta membersihkan diri dulu." Hasan menyela pembicaraan mereka.
Kemudian Sinta pun bergegas menuju ke kamar mandi.
Sementara Sulis berjalan menuju dapur untuk masak makanan kesukaan Sinta.
__ADS_1
Dito dan Hasan pun duduk di ruang tamu, mereka membicarakan tentang penyelamatan Sinta.
"Bagaimana Sinta bisa di culik?" tanya Hasan penasaran.
"Ferdi, si pejabat yang berkuasa di kota ini yang menangkapnya."
"Apa! Kenapa Sinta bisa berurusan dengan pejabat?" tanya Hasan.
"Semua berawal dari temannya yang bernama Gendis. Karena Sinta ingin menyelamatkan dia dari pejabat yang bernama Ferdi." Dito menjelaskan secara detail dari awal Sinta berhubungan dengan Gendis, hingga masuk dalam kehidupan gelap Gendis. Sampai akhirnya, Gendis tidak tahu berterima kasih kepada Sinta.
Dito belum menanyakan kepada Sinta, kenapa Gendis bisa berada di tempat itu?
Beberapa menit kemudian, Sinta telah rapi memakai bajunya.
"Dit, ayo!" ajak Sinta sambil merapikan tasnya.
"Aku mau mengambil tasku di yayasan."
"Maksud kamu yayasan mana?" tanya Sulis.
"Yayasan tempat aku diculik," jawab Sinta.
"Iya, tapi kamu harus makan dulu." Sulis telah menyediakan lauk beserta nasi.
"Tapi kami sudah makan," kata Sinta. Sinta dan Dito telah makan di warung makan.
__ADS_1
"Loh, kok kamu udah makan di warung makan! Kenapa tadi kamu gak langsung pulang ke rumah, dan makan di sini saja," ucap Sulis yang sedikit marah saat mendengar Sinta telah makan diluar. Padahal dia sudah memasak untuk dimakan oleh adik kesayangannya.
"Kak, jangan marah gitu dong! Pulang nanti aku akan makan," kata Sinta yang mencoba menenangkan hati Sulis. "Saat ini aku sedang terburu-buru, jangan sampai kemalaman."
"Iya, sudah. Kalian hati-hati," kata Sulis seraya tersenyum.
"Nah, gitu dong! Kalo senyum jadi cantik," goda Sinta.
"Sudah-sudah, kalian jalan sana. Nanti malah kemalaman."
Sinta dan Dito pun pamit kepada Sulis dan juga Hasan.
Mereka pergi ke yayasan menggunakan mobil milik Hasan. Karena cuaca terlihat sudah gelap menandakan akan turun hujan.
Mobil mereka telah berjalan meninggalkan rumah Sinta.
"Sin, kenapa Gendis bisa berada di sana?" tanya Dito yang begitu penasaran. "Bukannya Gendis adalah korbannya Si Ferdi itu," kata Dito
"Aku tidak tahu, kemarin dia bilang katanya ingin menikah dengan Raja. Dan aku tidak boleh mengganggu semua rencananya."
"Apa Raja tahu?" tanya Dito.
"Iya, belumlah. Karena tadi aku tidak sempat berbicara dengannya," jawab Sinta.
Dito semakin curiga pada hubungan antara Sinta dan Raja.
__ADS_1
"Kenapa Gendis begitu takut kepada Sinta? Apakah ada hubungan antara Sinta dan Raja?" batin Dito seraya menoleh ke arah Sinta.
Silakan komentar dan like