LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 73


__ADS_3

"Aku duluan, ya!" Sinta pun turun dari mobil, dan Raja membantu mengeluarkan barang-barang milik Sinta.


"Terima kasih," jawab Sinta.


"Aku pulang dulu," ucap Raja yang pamit pada Sinta.


"Asalamu'alaikum." Raja mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Sinta seraya melambaikan tangannya.


Usai kepergian Raja, Sinta langsung mengetuk pintu rumahnya.


"Tok, tok, tok... Assalamu'alaikum." Sinta mengucapkan salam.


Cukup lama Sinta menunggu, karena memang sudah larut malam.


"Mungkin kak Sulis sudah tidur," gumam Sinta.


Lalu dia berinisiatif untuk menelpon Sulis.


"*Asalamu'alaikum, Kak. Aku udah di depan rumah."


"Ah iya, tunggu sebentar*."


Dua menit kemudian, pintu pun terbuka.


"Sin, kenapa kamu harus sampai ke sini tengah malam sih!" Sulis membuka mulutnya karena menguap, " Hoam..."


"Ih, jorok!" Sinta menutup hidungnya.


Kemudian Sinta pun masuk ke dalam rumah sambil membawa kopernya.


****


Pagi pun tiba, Sinta telah mengenakan seragamnya. Lalu kebiasaan Sinta saat ini adalah menerima panggilan video call dari kekasihnya.


"Kalah kakak sama kamu," ucap Sulis yang menyindir Sinta.

__ADS_1


"Kalah kenapa, Kak?" tanya Sinta seraya mengernyitkan keningnya.


"Kakak aja, gak pernah video call sama mas Hasan." Sulis menggerutu.


"Minta, donk! Di callling sama ayang beb." Sinta meledek Sulis.


"Ish, kerjaannya meledek aja." Wajah Sulis terlihat kesal. Kali ini dia kalah berbicara dengan adiknya.


"Udah cepat makan, abis itu jalan sekolah." Sulis mulai menyantap makanannya.


"Kak, mau akad nikah atau langsung resepsi?" tanya Sinta seraya menyantap nasi dan ayam goreng.


"Akad nikah aja dulu, karena keluarga mas Hasan harus di kumpulkan dulu." Sulis menjawab.


"Bukannya pernikahan kalian akan di laksanakan sesudah aku lulus?" tanya Sinta.


"Kakak juga gak tahu, kenapa mas Hasan tiba-tiba ingin mengajak menikah," ucap Sulis seraya menggelengkan kepalanya.


"Dia udah ngebet kali!" Kembali Sinta meledek Sulis.


Sulis menatap tajam ke arah Sinta, karena pagi ini adiknya membuatnya dirinya kesal.


Usai menghabiskan makanan, mereka pun membersihkan meja makan.


"Sudah rapi?" tanya Sulis. " Sudah bawa semua?"


"Hem..." Sinta menjawab seraya memainkan ponselnya.


"Aduh, punya adek jadi bucin akut gini." Sulis menggerutu.


"Kak, nanti mas Hasan tinggal dimana setelah kalian menikah?" tanya Sinta.


"Di rumah dinas," jawab Sulis.


"Lalu aku, bagaimana?" tanya Sinta.


"Iya kamu tetap tinggal sama kakak," ujar Sulis.

__ADS_1


"Tapi dia bukan muhrimku," jawab Sinta.


"Kamu punya kamar sendiri, dan gak tidur sama kakak!" Sulis menjelaskan kepada adiknya.


"Iya tapi, pastinya aku akan canggung." Sinta langsung memalingkan wajahnya ke arah jalanan.


"Hal itu akan kakak bicarakan pada mas Hasan, sekarang kamu harus fokus belajar karena mau ulangan semester," ucap Sulis


Mobil telah sampai di depan halaman sekolah.


"Sin!" Terdengar suara Riska memanggil Sinta dari arah belakangnya.


"Riska," jawab Sinta seraya memeluk Riska.


"Aku kangen banget sama kamu," ucap Riska.


"Aku juga," balas Sinta.


Mereka berdua pun langsung berjalan menuju koridor sekolah.


"Gimana keadaan pacar kamu?" tanya Riska yang berjalan beriringan bersama Sinta.


"Alhamdulillah, membaik," jawab Sinta.


"Banyak tugas dan PR, apalagi matematika. Aku pusing tujuh keliling ngerjainnya." Riska menggelengkan kepalanya.


"Iya udah, sekarang kita kerjain." Sinta langsung menuntun tangan Riska.


Saat sudah menaiki tangga dan akan berbelok, tiba-tiba ada Risma yang menabrak Sinta. "Auw..." pekik Sinta yang hampir terjatuh ke bawah, namun langsung di tarik oleh Riska


"Heh, kalau jalan liat-liat dong." Risma menatap tajam ke arah Sinta.


"Kita udah liat kali, kamu aja yang jalan gak liat depan." Riska mendorong tubuh Risma.


"Udah Ris, aku juga gak sengaja." Sinta menengahi Riska yang ingin memarahi Risma.


Risma mulai membenci Sinta, karena telah merebut Gendis darinya. Karena Gendis telah berteman dengan Sinta, membuat Risma tak lagi mendapatkan uang. Sebenarnya yang mengenalkan Gendis dengan dunia prostitusi adalah Risma. Hanya saja Risma cuci tangan, dia hanya menyuruh temannya untuk mengajak Gendis. Dan Risma yang mencarikan lelaki hidung belang untuk Gendis.

__ADS_1


Kini Gendis tak lagi bermain di dunia prostitusi, dan membuat Risma tak lagi menikmati uang hasil mucikarinya.


__ADS_2