
Raja telah sampai di rumahnya, dia bergegas menuju kamar nya. Namun, langkahnya terhenti karena Cakra memanggil nya.
" Raja ..." panggil Cakra buana yang sedang duduk bersama sang istri.
" Iya, Yah!" jawab Raja seraya menoleh ke arah Cakra yang berada di ruang tamu.
" Lekas mandi, ayah mau ajak kamu menemui seseorang." kata Cakra.
" Menemui siapa, Yah?" tanya Raja dengan menghadapkan badannya ke arah Cakra.
" Kamu nanti juga tahu, sekarang mandi dan pakai baju yang rapi." perintah Cakra.
Tanpa banyak bicara, Raja langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia langsung merebahkan tubuhnya. Dan tak menghiraukan perintah ayahnya, yang menyuruhnya rapi-rapi.
Raja masih membayangkan wajah Sinta, yang sangat menggemaskan saat menangis di hadapannya. Ingin rasanya Raja memeluk Sinta, dan menenangkannya.
Namun hal itu tidak bisa dia lakukan, karena Sinta bukan lah kekasihnya.
Cukup lama Raja membayangkan wajah Sinta yang seperti bidadari, hingga lamunannya buyar saat sang ayah memanggil.
" Raja ..." panggil Cakra dari arah depan kamarnya.
Raja langsung mengusap wajahnya, dan mengingat lagi perintah sang ayah.
" Iya, Yah?" jawab Raja yang langsung bangun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu.
Pintu pun terbuka, terlihat Cakra sudah berdiri di hadapan Raja.
" Kenapa kamu belum rapi?" tanya Cakra sambil melihat Raja dari rambut hingga kaki.
" Oh iya, maaf Yah, aku lelah sekali. Jadi aku tidur sebentar di kasur." kata Raja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Iya sudah cepat mandi, sepuluh menit ayah tunggu di ruang tamu." perintah Cakra.
" Iya, " jawab Raja.
Raja menutup pintu kamarnya, lalu bergegas menuju kamar mandi.
Selang beberapa menit kemudian, Raja telah rapi mengenakan kemeja berwarna navy dan celana chino berwarna abu-abu muda.
Dia pun keluar dari kamarnya dan menghampiri ayah dan mamanya.
" Kamu sudah siap?" tanya Cakra yang langsung berdiri dari duduknya, saat melihat kedatangan Raja.
" Sudah, Yah!" jawab Raja.
Kemudian mereka bertiga pun berjalan, menuju mobil yang sudah terparkir di depan halaman rumah.
Cakra dan Herlina duduk di bangku depan, sedang kan Raja di bangku belakang.
__ADS_1
" Memangnya, Ayah mau menemui siapa? " Tanya Raja yang penasaran dengan perubahan sikap ayahnya. Karena tak biasanya, dia di ajak jalan oleh Cakra.
" Nanti juga kamu tahu, ayah harap kamu suka dengan pilihan ayah." kata Cakra dengan pandangan mata yang fokus ke arah depan.
Raja tidak berpikir yang aneh-aneh, dengan perubahan sikap sang ayah.
" Raja, kamu sudah punya pacar?" tanya Herlina seraya menolehkan kepalanya ke arah belakang.
" Belum, memangnya kenapa, Ma?" tanya Raja dengan mengerutkan keningnya.
" Enggak apa-apa, mama cuma tanya aja. Memang nya gak boleh?" kata Herlina yang langsung menghadap kan badannya ke arah depan.
" Iya, aneh aja. Biasanya kalian tidak perduli dengan kehidupan ku." ucap Raja dengan nada ketus.
Terlihat raut wajah Cakra yang ingin marah, namun di tahan oleh Herlina. Herlina mengusap lengan Cakra, mencoba meredam emosi Cakra.
Raja hanya tersenyum mengejek, melihat sikap ayahnya yang menahan emosi.
" Raja, bisa kamu memperbaiki sikapmu pada ayah?" kata Herlina menasihati Raja.
" Memangnya ada apa dengan sikapku?" tanya Raja sambil menatap malas ke arah orang tuanya.
" Belajar cara menghormati kami, apa kamu bisa?" tanya Herlina dengan nada suara yang lembut.
Raja terdiam, tak lagi menjawab perkataan ibunya. Mobil terus melaju, menuju restoran terkenal di daerah Yogyakarta.
Makanan seafood adalah menu andalan nya, walaupun ada beberapa menu aneka olahan ayam. Namun olahan seafood paling di gemari di restoran dengan dekorasi ala kebarat-baratan.
" Baik, Yah." jawab Herlina yang langsung merangkul putra bungsunya.
" Ayo, Sayang." ajak Herlina.
Raja terlihat risih, saat di rangkul oleh Herlina.
" Sayang, jangan jauh-jauh dong." rengek Herlina sangat manja pada anak bungsunya.
Raja terlihat malas melihat sikap ibunya, baru kali ini dia jalan bersama.
Herlina meminta tolong karyawan restoran, untuk mengantarkan nya ke privat room.
" Silakan, Bu." kata pelayan yang sudah membukakan pintu.
Herlina pun masuk, kemudian di susul Raja.
" Sebenarnya, kita mau ketemu siapa, Ma?" tanya Raja yang sudah duduk di bangku seperti lesehan.
Ruangan privat sengaja di buat seperti lesehan, agar para pengunjung bisa bersantai dan berlama-lama di dalamnya. Tersedia ruang karaoke, yang terdapat sofa dan home teater dengan layar besar.
" Ma, " panggil Raja yang mulai bosan menunggu.
" Sabar, Sayang. Kita ingin bertemu dengan klien ayahmu." jawab Herlina.
__ADS_1
" Tetapi, kenapa aku juga di libatkan?" tanya Raja.
"Kamu harus belajar, mungkin?" kata Herlina sambil mengerlingkan matanya.
Raja langsung mengambil ponsel nya, melihat foto-foto Sinta yang berada di galeri ponselnya.
Nampak sebuah senyum penuh kegembiraan, seperti nya Raja sedang jatuh cinta. Namun bukan pada orang yang tepat. Raja harus mempersiapkan dirinya, jika dia akan patah hati.
Pintu terbuka, terlihat Cakra masuk ke dalam. membawa tamu yang sedari tadi ditunggunya.
Raja begitu terkejut, saat Anggita masuk ke dalam private room. Ada apa dengan ayahnya dan Anggita? Sebuah pertanyaan yang besar bagi Raja.
" Silakan duduk, nyonya Anggita." kata Cakra.
Raja lebih terkejut, melihat kehadiran Gendis di hadapannya.
" Raja?"
" Gendis?"
Mereka berdua terkejut, dan Gendis sudah tahu alasan kedatangan mereka. Tetapi Raja belum tahu sama sekali, dengan maksud pertemuan itu.
" Oh, kalian sudah saling kenal rupanya!" kata Cakra sambil melihat ke arah Gendis dan Raja.
Gendis tak menyangka, jika Raja adalah anak Cakra buana. Dia merasa malu, dengan kejadian kemarin. Saat Sinta dan Raja memergokinya
" Ma, maksudnya aku mau di jodohin sama Raja?" ucap Gendis sambil menunjuk Raja dengan jari telunjuk nya. Dia ingin menggagalkan rencana pertunangan, karena pastinya Raja akan menolak juga.
" Gendis, kamu jangan bikin mama malu." bentak Anggita yang langsung menarik lengan Gendis dan menyuruhnya untuk duduk.
" Apa? Di jodohin?" ucap Raja yang menatap ke arah Gendis
Gendis menjadi salah tingkah, karena Raja telah memandang nya.
" Ayah, aku pikir pertemuan penting. Ternyata cuma acara perjodohan." ucap Raja dengan nada mengejek.
" Raja, tadi ayah bilang apa? Kamu jangan buat keributan." bentak Cakra.
Raja langsung berdiri, dan pergi meninggalkan private room.
Gendis pun ikut keluar, dan meninggalkan para orang tua yang sedang merencanakan acara pertunangan.
" Raja ...." panggil Gendis sambil menyusul langkah Raja.
Raja berjalan begitu cepat, hingga Gendis sulit menyusulnya.
" Raja ... dengarkan aku." panggil Gendis tang langsung menarik tangan Raja.
Raja pun menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arah Gendis.
Silakan like dan komen ya guys, agar author semakin bersemangat update nya.
__ADS_1