
Pagi pun tiba, Dito telah sampai di depan rumah Sinta.
"Tok, tok, tok..." Suara ketukan pintu terdengar sebanyak tiga kali.
"Assalamualaikum," ucap Dito memberi salam.
Pintu pun terbuka, ada Sulis yang kini berada di hadapan Dito.
"Kak!" sapa Dito seraya mencium tangan Sulis.
"Dito!" Sulis terkejut melihat keberadaan Dito di pagi hari.
"Sinta sudah rapi?" tanya Dito.
"Sedang sarapan," jawab Sulis. "Kamu sudah makan?" tanya Sulis
"Sudah," jawab Dito.
"Ya, sudah silakan masuk!" suruh Sulis.
"Terima kasih, Kak!"
Dito pun masuk ke dalam rumah Sinta. Dia melihat Sinta yang sedang sarapan pagi.
"Kamu sudah makan?" tanya Sinta seraya menoleh ke arah Dito.
"Sudah, bi Inah tadi masak kue untuk kamu." Dito memberikan kotak makan kepada Sinta.
__ADS_1
Dito sudah duduk di kursi makan yang berada di sebelah Sinta.
"Terima kasih," jawab Sinta.
"Roti selai kacang kesukaan kamu," kata Dito. "Tapi kamu belum boleh minum jus jeruk, jadi minum air mineral aja, ya!"
"Duh, kakak jadi iri!" ledek Sulis yang sudah duduk di kursi makan.
"Iya udah, bang Hasan suruh pulang kesini!" Sinta kembali meledek Sulis.
"Ish," jengkel Sulis.
Dito hanya tersenyum melihat pertengkaran kecil antara adik dan kakak di hadapannya.
"Sudah jam enam, ayo berangkat!" ajak Dito.
Dito pamit kepada Sulis, untuk mengantarkan Sinta.
"Kak, aku jalan dulu!"
"Dit, apa kamu serius pindah ke Yogyakarta?" tanya Sulis yang tidak percaya dengan keputusan Dito.
"Menurut kak Sulis gimana?" tanya Dito seraya menautkan kedua alisnya.
Sulis hanya bisa menghela nafas kasar, karena dia baru kali ini melihat pemuda yang sangat bucin terhadap adik kandungnya.
"Iya, sudah! Kakak minta tolong kamu jaga Sinta," pesan Sulis.
__ADS_1
"Iya, kak!" jawab Dito yang langsung berjalan menuju mobilnya.
Sinta pun pamit kepada Sulis untuk berangkat ke sekolah.
Sepanjang perjalanan, Dito hanya menceritakan pengalaman dia selama kuliah di Inggris. Tak sedikit pun membahas masalah Raja kepada Sinta. Karena Dito tidak ingin Sinta kembali berpikir dan mencari jalan keluar untuk masalah Raja.
Sedangkan Raja sudah diberikan amanat kepada Dito, untuk menjaga Sinta. Lalu membuat perjanjian agar tidak membahas masalahnya kepada Sinta.
Dito meminta Raka untuk menjaga Sinta dari Gendis.
Sebelumnya Dito memang sudah mengenal Raka saat mereka pergi ke Inggris.
Hal itu membuat Dito yakin jika Raka bisa menjaga Sinta. Walaupun sikap Raka masih terlihat kekanak-kanakan, tetapi dia bisa dipercaya untuk menjaga Sinta. Karena sebetulnya Raka telah di jelaskan kepada Dito, tentang masalah operasi yang dijalani oleh Sinta.
Raka memang pernah menyukai Sinta, dan hal itu yang membuat dia mau menjaga Sinta sesuai pesan dari Dito.
"Sudah hampir seminggu lebih, aku tidak masuk sekolah. Pastinya banyak mata pelajaran yang tertinggal," keluh Sinta bersedih.
"Kamu bisa tanyakan ke teman-teman mu tentang pelajaran yang tertinggal. Lalu aku akan mengajari nya," ujar Dito.
"Huft, aku jadi terlihat bodoh." Sinta menundukkan kepalanya.
Saat ini perasaan Sinta sedang sensitif, entahlah apa yang dia pikirkan saat ini?
"Sin, saat ini kamu harus fokus pada pelajaran. Dan tidak usah memikirkan hal-hal lain," pinta Dito. "Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Dito.
"Aku hanya berpikir tentang Gendis," jawab Sinta.
__ADS_1