
" Mana orang nya? " Anggita melihat ke arah sekeliling rumah pak RT.
" Dia sedang di amankan, sebentar saya panggil. " Pak RT langsung masuk ke dalam rumah nya.
Anggita dan juga Gendis duduk di sofa, sementara Sinta, Raka dan Raja berdiri di depan pintu.
Pak RT membawa Bram, ke hadapan Anggita dan Gendis.
" Bram, apa yang terjadi dengan wajah mu? " Anggita terlihat terkejut melihat suaminya, dengan wajah yang sudah babak belur.
Bram menundukkan kepalanya, dia berjalan dengan tangan terikat ke belakang.
" Dia orang yang telah melecehkan anak, Ibu. " Pak RT memberi tahu Anggita.
" Apa? " Sontak Anggita terkejut dengan penuturan pak RT. Dia tak menyangka jika suaminya yang terlihat baik, adalah seorang bajingan.
" Bram, apa yang kamu lakukan sama anakku? " Anggita menghampiri Bram, lalu memukulnya.
Bram terdiam, dia tidak ingin di buat malu dengan pengakuannya sendiri.
" Dia yang sudah memperkosa ku, Mah! " Gendis berucap lirih seraya menundukkan kepalanya.
Dia mencoba menegarkan hatinya, agar kuat dalam menghadapi masalah pelik yang kini di hadapannya. Gendis yakin, semua masalah akan berlalu, jika dia dapat dengan jujur bercerita pada sang mama.
" Apa? " Anggita terkejut mendengar pengakuan sang anak. Dia tak percaya dengan apa yang telah terjadi, dan dia dengar saat ini.
" Bram, apa benar yang di katakan Gendis? " Anggita mencoba mencari kebenaran pada mulut suaminya.
Sayangnya mulut Bram di tutup oleh lakban berwarna silver.
Bram hanya menggeleng kan kepalanya, dia mencoba membela dirinya.
" Heh pembohong, jangan mengelak. " Raka menyela pembicaraan mereka.
" Kami saksinya, " jawab Raja. " Dia telah meniduri Gendis, sampai pingsan. Dan kami yang menyelamatkan Gendis, dengan cara masuk ke dalam rumah melalui arah balkon. " Raja memberikan penjelasan.
" Apa? Kalian menyelinap seperti maling? " Anggita membulatkan kedua bola matanya memandang ke arah Raja dan Raka.
" Mah, kalo mereka gak datang. Mungkin sekarang aku sudah mati, " ucap Gendis dengan suara bergetar.
" Iya Bu, kami datang menyelamatkan Gendis yang sudah terkulai lemas di atas tempat tidur dan tanpa busana. Kalau Ibu gak percaya, bisa cek tubuh Gendis yang penuh luka lebam. " Sinta meneruskan penjelasan.
Anggita menatap Bram dengan pandangan mata yang tajam. Dia tak percaya dengan suami yang begitu polos dan menyayangi nya selama setahun. Ternyata adalah seorang bajingan yang telah menodai anaknya.
Gendis belum bisa menceritakan tentang dirinya, yang merupakan gadis pemuas nafsu.
Hal itu akan dia bahas nanti, usai masalah nya dengan Bram selesai.
" Pak, sebaiknya bawa saja ke polisi. " Anggita melihat ke arah pak RT.
__ADS_1
" Baik, Bu! " Pak RT mengangguk kan kepalanya.
" Bram, mulai saat ini aku bukan lagi istrimu. Kita bercerai, " ucap Anggita yang langsung membawa Gendis keluar rumah RT.
Raja, Raka dan Sinta pun ikut kembali ke rumah Gendis.
" Terima kasih, karena kalian mau perduli padaku. " Gendis sudah duduk di sofa. Dan Sinta pun duduk di hadapannya, sementara Raja dan Raka berdiri di belakang Sinta.
" Iya, aku harap besok kamu bisa bersekolah lagi, " ucap Sinta.
" Sin, apa aku boleh ikut ke Inggris? " tanya Gendis.
" Apa? " Sinta terkejut mendengar pertanyaan Gendis.
" Aku mau melupakan masalah ku, dan sekaligus ingin melihat pacarmu, " ucap Gendis.
" Kamu kapan berangkat nya? " Raka menyela pembicaraan Sinta dan Gendis.
" Raka, kamu bisa di marahin sama ayah kamu yang galak itu! " seru Gendis yang mengetahui watak ayahnya Raka.
" Aku akan pergi menggunakan uang tabungan ku, jadi ayahku tidak perlu tahu. " Raka memberi tahu idenya, " Raja bantu aku, dan kamu bisa bilang ke ayahku. " Raka memohon pada Raja.
" Kenapa harus aku? " Raja mengelak.
" Kau kan anak ketua yayasan, pasti ayahku akan mengijinkan jika aku pergi ke Inggris sama kamu, " ucap Raka berdalih.
" Aku mau pulang, nanti kakakku cemas. " Sinta langsung bangkit dari sofa.
Anggita keluar dari kamarnya, menghampiri Sinta dan kawan-kawan nya.
Mereka pun pamit pada Anggita, dengan bersalaman.
" Sin, aku antarkan pulang. " Raka menawarkan tumpangan pada Sinta.
" Biar aku saja, " ucap Raja yang menarik tangan Sinta.
" Hey Raja, kamu bukan pacarnya. " Raka protes.
" Tapi aku sudah sangat mengenal kakak nya Sinta, " balas Raja.
" Aku juga bisa kenalan, " ucap Raka yang tak mau mengalah.
" Kalian ribut aja, sebaiknya aku pulang sendiri. " Sinta langsung berjalan meninggalkan Raka dan Raja.
" Sinta ... " Raja segera menaiki motornya dan melajukannya mendekati Sinta.
" Ish, aku kalah lagi! " Raka terlihat kesal dengan Raja yang selalu mendahuluinya.
" Ayo naik, " ajak Raja.
__ADS_1
Kemudian Sinta pun naik ke atas motor Raja, lalu Raja melajukan motornya menuju rumah Sinta.
" Sudah hampir jam sebelas malam, pasti kak Sulis akan sangat marah. " Sinta bergumam.
" Aku akan berbicara pada kak Sulis, " kata Raja menyahut
" Aku sedang tidak berbicara kepada mu, " ucap Sinta.
" Tetapi aku mendengar nya, " sahut Raja.
" Besok kamu mau jalan jam berapa? " tanya Raja.
" Aku tanya kak Sulis, dia mendaftarkan keberangkatan ku jam berapa, " jawab Sinta.
Sepanjang perjalanan, mereka pun terdiam. Tiba-tiba kedua mata Sinta terpejam, karena dia menahan kantuk. Akhirnya dia bersandar di bahu Raja, sambil memeluk tubuh nya.
Raja terkejut, saat Sinta memeluknya dengan erat.
" Degh .... "
Sinta kenapa kamu terus bersikap seperti ini kepada ku? Aku semakin tak bisa menahan perasaan ku padamu.
Raja mulai terbawa dengan perasaannya, memikirkan hatinya.
Sesampainya di rumah Sinta, Raja membangunkan nya.
" Sin, sudah sampai. " Raja berbalik badan.
Sinta langsung membuka kedua matanya, lalu melepaskan pelukannya.
" Eh, maaf ya! " ucap Sinta yang langsung turun dari motor.
" Mau aku bantu, untuk memberikan alasan pada kak Sulis? " Raja menawarkan bantuan.
" Tidak usah, aku sudah mengabari kak Sulis jika pulang terlambat. " Sinta langsung berjalan menuju pintu. " Ya sudah kamu pulang saja, terima kasih telah mengantarkan ku. " Sinta melambaikan tangan nya.
Raja pun menyalakan mesin motor nya, lalu meninggalkan rumah Sinta.
" Tok, tok, tok .... "
Sinta mengetuk pintu, seraya mengucapkan salam. " Assalamualaikum, "
Selang beberapa menit, pintu terbuka. Terlihat Sulis dengan muka bantal nya.
" Jam berapa ini? " Wajah Sulis terlihat marah.
" Kak, aku harus menunggu ibunya Gendis. Dan alhamdulilah, masalahnya sudah kelar. Aku pulang di antar Raja. " Sinta melaporkan kegiatannya.
" Besok-besok, jangan ikut campur urusan orang. " Sulis berucap dengan nada ketus.
__ADS_1
" Iya, " ucap Sinta yang langsung berjalan menuju kamar mandi. Sinta langsung mencuci wajah dan tangannya serta kakinya. Tak lupa dia mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat isya.
Sinta mendoakan kekasihnya yang sedang dalam perawatan. Sinta tak tahu keadaan Dito saat ini, karena dia belum menghubungi temannya Dito.