LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Raja babak belur


__ADS_3

Mentari pagi telah bersinar, Sulis dan Sinta kembali melakukan aktivitasnya.


Kali ini, Sinta memasak nasi karena dia tahu jika sepulang sekolah perutnya akan terasa lapar.


"Kak, sepulang sekolah nanti biar aku saja yang belanja sayur." Kata Sinta sambil menyantap roti bakar buatannya.


" Ya udah, nanti kakak kasih uangnya. " Jawab Sulis.


" Atau gak nanti kakak pesankan sayuran di aplikasi online." Kata Sulis memberikan ide.


" Tapi kan, sampainya besok. Sedangkan sepulang sekolah, perutku sudah lapar." rengek Sinta.


" Ya sudah, urusan dapur kamu yang pegang ya. Nanti hari sabtu baru kita belanja yang komplit." Pesan Sulis.


" Iya, kak. Berarti kita akan jalan-jalan ke mall dong?" Ucap Sinta gembira.


" Kita ke pasar." Jawab Sulis.


" Yah, kak masa ke pasar?" Keluh Sinta.


" Kalau beli di pasar, kita bisa menguntungkan para pedagang yang berada di pasar. Kasihan mereka kalau kita semua, harus belanja di supermarket terus. Mereka gak akan ada pemasukannya." Ucap Sulis dengan kalimat yang panjang.


" Baik kakakku, sayang." Ucap Sinta seraya mengerucutkan bibirnya.


Setelah berbincang-bincang sambil sarapan, mereka berdua pun berangkat.


Sesampainya di sekolah Sinta telah duduk di kursinya. Dia melihat di sebelah bangkunya, tidak ada tas Raja.


" Pasti dia tidak masuk." Lirih Sinta.


Kemudian terlihat Raka yang menghampiri Sinta.


" Sin, kamu nanti di jemput lagi?" Tanya Raka.


" I-iya." Jawab Sinta terbata-bata.


" Kapan-kapan aku boleh dong main ke rumah kamu." Pinta Raka yang sudah duduk di tempat Ayu.


" Raka..." panggil seorang gadis yang sudah berdiri di depan pintu kelas.


" Ih, mengganggu aja." Kesal Raka.


" Ada apa, Dis?" Jawab Raka yang menoleh ke arah gadis cantik.


" Oh, jadi itu anak barunya."  Kata gadis berambut panjang.


Dia menghampiri Raka dan Sinta, yang sedang duduk berhadapan.


" Ada apa, sih?" Kesal Raka.


" Aku cariin kamu, eh rupanya sama anak baru." Ketusnya.


" Hey, namaku Gendis. Pacar Raka." Ucap gadis yang mengaku bernama Gendis.


" Hey juga, aku Sinta." Kata Sinta sambil tersenyum.


" Gendis, apa-apaan sih!" Hardik Raka yang langsung menarik tangan Gendis, dan membawanya pergi dari hadapan Sinta.

__ADS_1


Sinta hanya menggelengkan kepalanya, melihat Raka yang terlihat kesal pada Gendis.


" Eh, aku kan sudah bilang sama kamu kalau kita sudah putus." Bentak Raka pada Gendis sambil menghempaskan tubuhnya ke dinding.


" Ih Raka, sakit tau!" Kata Gendis yang merasakan sakit di bagian lengannya.


" Mulai sekarang, jangan deketin aku lagi." Bentak Raka yang langsung pergi dari hadapan Gendis.


" Raka, raka..." teriak Gendis kesal langsung menendang tong sampah di hadapannya.


" Duk..." 


" Auw, sakit..." pekiknya yang sakit menendang tong sampah yang isinya sudah banyak.


Bel masuk berbunyi, seluruh siswa berbaris di teras kelas.


Raka memimpin barisan, dan menyuruh siswa masuk satu persatu.


Saat melihat Raka memimpin barisan, Sinta jadi teringat dengan Dito.


" Dito," gumam Sinta sambil tersenyum sendiri.


Raka terlihat terlalu percaya diri, saat Sinta tersenyum kepadanya.


Kemudian Raka menjadi salah tingkah, dengan membetulkan rambut bagian depan.


" Ehem, ehem. Kamu ngapain senyum-senyum sama aku." Ucap Raka saat Sinta melintas di hadapannya.


Sinta merasa bingung dengan sikap Raka, kenapa tiba-tiba saja Raka menggodanya.


Sinta hanya mengernyitkan keningnya, dan berlalu meninggalkan Raka.


" Ayu, memang Raja itu sering bolos ya?" Tanya Sinta sambil mencolek pundak Ayu.


" Setahu aku, iya!" Jawab Ayu sambil menganggukkan kepalanya.


" Oh, " jawab Sinta.


" Tapi dia suka datang di jam pelajaran kedua. Entah apa kerjaannya, padahal dia setiap hari datang. Hanya jam pertama saja dia tidak masuk." Jawab Ayu.


" Oh, " jawab Sinta.


" Anak-anak, siapkan buku bahasa Inggris." Kata Bu guru yang baru saja datang dan kini sudah duduk di bangkunya.


" Oh iya, di sini ada murid baru ya?" Tanya Bu guru cantik yang berdiri di depan kelas.


" Ada..." jawab Raka dengan lantang.


Semua siswa tertuju pada asal suara yang berasal dari Raka.


Perkenalkan nama ibu, Marisa Leonita." Ucap Bu guru cantik yang bernama Marisa.


" Nama saya, Sinta Cahaya." Sahut Sinta sambil berdiri.


" Kamu Sinta Cahaya, adeknya Sulistiawaty?" tanya Marisa.


" Iya, " jawab Sinta.

__ADS_1


" Oh, baiklah. Semoga kamu dapat menerima pelajaran dari saya." Kata Marisa


" Terima kasih, Bu!" Jawab Sinta sambil tersenyum.


Mulailah perlajaran pertama, yang di ajarkan oleh Marisa.


Selang satu jam, pelajaran pun usai. Semua siswa pun menunggu jadwal pelajaran kedua, yaitu bahasa Jawa.


Guru yang mengajar adalah Pak Edi, yang merupakan guru senior di sekolah.


Hingga akhir pelajaran, Raja juga tak kunjung datang. Sinta merasa cemas dengan keadaan Raja. Apakah dia sakit?


Iya pastinya dia sedang sakit, karena bekas pukulan dari pemuda-pemuda yang mengeroyoknya.


****


" Den, apa wajahnya masih sakit?" Tanya wanita paruh baya yang masuk ke dalam kamar Raja.


" Masih, Bi." Jawab Raja yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


" Bibi, ambilkan air hangat untuk mengompres wajah den Raja." Kata Bi Sumi.


" Iya, bi." Jawab Raja dengan mata terpejam.


" Siapa Dito?" Lirih Raja dengan membuka kedua matanya dan memandang langit-langit kamarnya.


" Ini Den, air hangatnya." Kata Bi Sumi yang mendekati Raja, dan duduk di sampingnya.


" Bi, " panggil Cakrabuana yang merupakan papa dari Raja.


" Iya, Pak?" Sahut Bi Sumi yang langsung berdiri.


" Kenapa lagi, dia? Apa berkelahi lagi?" Tanya Cakrabuana sambil menatap tajam ke arah Raja.


Raja terlihat mengacuhkan pertanyaan papanya. Dan langsung memalingkan wajahnya.


"Biarkan saja dia, B! Dia sudah besar, harusnya bertanggung jawab dengan perbuatannya." Ucap Cakrabuana. "Cepat siapkan sarapan untuk aku dan ibu," Sambungnya lalu pergi meninggal Raja.


"Sabar ya, Den!" Ucap bibi seraya mengelus tangan Raja.


Raja yang merasa emosi dengan perkataan papanya, langsung bangkit dari tempat tidur.


"Den Raja, mau kemana?" Panggil Bi Sumi yang melihat Raja mengambil jaketnya dan kunci motor.


Raja tak menghiraukan panggilan bi Sumi, dia berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga.


Terlihat Cakrabuana dan Herlina sedang duduk di ruang makan. Menikmati sarapan buatan bi Sumi.


Raja tak menoleh sedikitpun ke arah orang tuanya. Dia langsung mengambil helm, yang di taruh di lemari ruang tamu.


"Den, den Raja..." Panggil bi Sumi sambil menuruni anak tangga satu persatu.


"Bi!" Panggil Herlina


"Iya, Bu?" Jawab Bi Sumi yang langsung menghampiri Tuan dan Nyonya di ruang makan.


Raja telah pergi mengendarai motornya, dengan wajah yang masih lebam dan hati yang tersayat karena perkataan orang tuanya.

__ADS_1


Raja melajukan motornya ke tempat perkampungan anak-anak jalanan.


- Jangan lupa like dan berikan vote serta poin hadiah ya jika kamu suka sama ceritanya.


__ADS_2