
"Benar, aku gak pernah ngetik itu!" ucap Gendis kekeh.
"Ris, ada apa sih?" tanya Sinta yang sudah membawa pesanan mereka
"Gendis gak mau ngaku," jawab Ayu.
"Sumpah, Sin! Aku gak pernah nulis itu di grup!" ucap Gendis penuh penekanan.
"Sudah, aku gak mau ngeributin itu. Sebaiknya kamu pergi, Dis!" ucap Sinta yang langsung memalingkan wajahnya.
"Sin, apa kamu juga gak percaya sama aku?" tanya Gendis ingin meyakinkan Sinta.
"Gendis, sebaiknya kamu pergi dulu." Sinta tersenyum pias ke arah Gendis.
Gendis pun pergi menjauhi Sinta dan teman-temannya.
"Siapa yang mau mengadu domba aku sama Sinta?' gumam Gendis sambil berpikir.
Kemudian Gendis duduk di bangku paling ujung, dia memesan bubur ayam.
"Dis," sapa Risma yang berdiri di hadapan Gendis.
"Hey," jawab Gendis seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kamu gak main lagi sama, Sinta?" tanya Risma yang telah duduk di hadapan Gendis.
"Enggak," jawab Gendis santai.
"Dis, kamu gak main lagi sama, Juni?" ucap Risma ragu. Risma takut kedoknya terbongkar oleh Gendis.
"Enggak," jawab Gendis yang asyik menikmati buburnya.
"Mmm, kamu uda berhenti kerja?" tanya Risma memberanikan diri. Gendis mengaku pada Risma jika dirinya bekerja paruh waktu. Dan pekerjaan Gendis adalah rencana dari Risma, hanya saja Gendis tidak mengetahui jika dirinya di jebak oleh Risma.
"Udah," jawab Gendis.
"Yah, sayang-sayang dong! Nyari kerjaan susah tahu," ucap Risma yang memancing Gendis.
"Memangnya, kamu udah gak butuh duit lagi?" tanya Risma.
"Mamaku kini udah enggak pelit dan dia sudah memenuhi kebutuhan ku." Gendis menegaskan.
"Kamu mah enak orang kaya, jadi segala kebutuhan mu pasti di penuhi oleh mamamu. Sedangkan aku, hanya orang miskin yang ingin hidup mewah. Aku harus usaha, biar Gendis bisa balik kerja lagi sama Juni." Risma menatap sinis Gendis.
"Yuk masuk, udah bel masuk." Gendis lalu berdiri dan mengajak Risma untuk kembali ke kelas.
Sepanjang perjalanan, Risma terus berpikir untuk membujuk Gendis. Agar Gendis kembali bekerja dengan Juni. Lalu Risma akan mencari pria hidung belang sebagai pelanggannya.
__ADS_1
"Ris, kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Gendis yang sudah sampai ke bangkunya.
"Eh, enggak!" jawab Risma.
***
"Ris, gimana nih? Om Feri pengen banget sama Gendis!" desak Juni melalui sambungan telepon selulernya. "Kalau aku gak bawain Gendis, bisa di ambil motor ku."
"Gendis udah gak mau kerja lagi, aku juga bingung!" ucap Risma seraya memegang pelipisnya.
"Terus gimana, dong?" tanya Juni mendesak.
"Kamu aja gak bisa, ngelayanin Om Feri?" tanya Risma.
"Aku lagi datang bulan, gak mungkinlah ngelayanin tamu," ujar Juni.
"Kalau gitu, kamu aja. Bukannya Om Feri bawaan kamu?" tanya Juni.
"Ogah ah, aku gak mau. Lagipula itu bukan kerjaan aku, mana mungkin aku kasih keperawanan aku sama orang yang aku ga suka!" ucap Risma menolak.
"Aku harus gimana? Bisa-bisa Om Feri ke rumah kamu, dia akan cari tahu soal Gendis. Soalnya dia udah cinta mati sama Gendis." Juni mendesak Risma.
"Ya udah, aku pikirin caranya biar Gendis mau melayani Om Feri." Risma langsung menutup sambungan telepon nya.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara Sinta, aku harus buat perhitungan sama dia!" ucap Risma seraya meremas ponselnya.