
Sesampainya di yayasan, Sinta melihat sudah banyak polisi yang datang.
Para mahasiswi yang tercatat dalam daftar pengiriman keluar negeri pun telah berkumpul. Mereka dimintai keterangan satu persatu oleh pihak kepolisian.
Rinjani juga sudah datang, dengan membawa dua koper besar berwarna hitam.
Sinta dan Dito keluar dari mobil, untuk melihat situasi di dalam yayasan.
Mereka melihat para mahasiswi diangkut menggunakan mobil polisi. Mereka akan memberikan penjelasan tentang tujuan datang ke yayasan.
"Apa kita boleh masuk ke dalam?" tanya Sinta yang melihat banyak polisi di dalam yayasan.
"Aku akan menghubungi pak Dirja," kata Dito yang langsung mengambil ponselnya.
"Halo, Pak." Dito memulai pembicaraan.
"Iya, Dit." Sudirja menjawab panggilan telpon dari Dito
"Aku mau mengambil tas Sinta yang tertinggal di dalam yayasan, apakah diizinkan masuk?" tanya Dito.
"Yayasan sedang dalam penyisiran, kemungkinan tas Sinta sedang diamankan sebagai barang bukti. Setelah melakukan penyidikan, akan kami kembalikan." Sudirja memberitahu Dito
"Baiklah," jawab Dito yang langsung menghentikan pembicaraan dengan Sudirja.
"Apa kata pak polisi itu?" tanya Sinta
__ADS_1
"Lagi sedang ada investigasi, tasmu akan dikembalikan selesai penyidikan." Dito menjelaskan kepada Sinta.
"Tapi besok aku harus sekolah," kata Sinta.
"Iya, akan aku ambilkan usai penyidikan."
"Untung aja aku di culik pas weekend," kata Sinta
"Apa! Kamu diculik masih bilang untung?" ujar Dito terkejut mendengar penuturan sang kekasih.
"Iya, kalau hari biasa mungkin aku sudah ketinggalan pelajaran."
"Kamu gak tahu gimana perasaan aku, saat dengar kamu diculik!" batin Dito yang sedikit kesal dengan sikap Sinta yang tidak sensitif pada perasaannya.
"Iya, aku hanya bercanda. Kemarin aku sangat takut sekali, dan berharap kamu datang menyelamatkan aku," ujar Sinta seraya memandang ke arah yayasan.
"Dita! Maksud kamu gimana aku gak ngerti?" tanya Sinta seraya mengerutkan keningnya.
"Eh, enggak." Dito mengelak memberitahu Sinta tentang penyamarannya menjadi seorang wanita.
"Eh, Dit. Tapi tadi aku dengar," kata Sinta
Dito tetap mengelak, dia tidak ingin sang kekasih mengetahui penyamarannya.
"Cepat katakan, siapa Dita?" desak Sinta yang begitu penasaran
__ADS_1
"Bukan, dia bukan siapa-siapa!" ujar Dito. "Sudahlah, kamu jangan membahas soal Dita. Sebaiknya kita menemui Raja saja. Aku ingin tahu perkembangan kasus Ferdi di kantor polisi."
Karena ingin menghindari perdebatan tentang Dita, akhirnya Dito masuk ke dalam mobil.
"Cepat masuk, sebentar lagi akan turun hujan." Dito menyuruh Sinta untuk masuk kedalam mobil
Dengan wajah cemberut, Sinta masuk ke dalam mobil.
"Jangan cemberut gitu dong mukanya, jadi kelihatan gak cantik." Dito menggoda sang kekasih.
Sinta langsung mengalihkan pandangannya kearah jendela mobil.
Dito langsung menyalakan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan yayasan.
Rintik gerimis pun mulai turun membasahi kaca mobil. Terlihat kemacetan di hadapan mereka karena hari sudah menjelang malam.
"Sin, kenapa Gendis sangat takut jika kamu akan menjadi penghalang rencananya?" tanya Dito yang begitu penasaran dengan cerita Sinta.
"Entahlah, hal itu hanya Raja dan Gendis yang tahu."
Dito pun terdiam, dia tidak mungkin menuduh Sinta mempunyai hubungan dengan Raja.
Dito percaya jika sang kekasih tidak akan pernah mengkhianati cintanya.
Raja masih berada di kantor polisi karena harus memberikan beberapa keterangan terkait kasus Ferdi.
__ADS_1
Silakan komentar ya