
" He, he, he... aku pikir kau tidak akan membahas soal itu. Lebih baik kau mandi, dan bersiap sekolah."
Dito mengalihkan pembicaraan, dan tak membahas soal pernikahan.
" Iya, aku mau sekolah. Sudah mandi juga, wangi dan cantik."
" Jangan terlalu cantik, nanti kamu ke gaet orang."
" ( Emoticon kepala sedang menjulurkan lidahnya) " terkirim untuk Dito.
Dito semakin gemas dengan tingkah kekasihnya, ingin rasanya dia kembali ke Indonesia.
Seperti nya Sinta sedang sibuk, dan Dito langsung mengakhiri pesannya.
Dia langsung menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
****
Sinta
" Ada apa sih, senyum-senyum sendiri?" Tanya Sulis yang melihat adiknya senyum saat keluar dari kamarnya.
" Ada deh, kepo banget sih!" kata Sinta sambil memanyunkan bibirnya.
Kedua orang tua Sulis pun sudah berkumpul di meja makan.
" Idih, jelek banget, " ejek Sulis.
" Biarin, wuek ..." kata Sinta sambil menjulurkan lidahnya.
" Udah sarapan, jangan kebanyakan senyum nanti di kira gak waras." kata Sulis sambil sibuk menggigit daging ayam goreng.
" Kak, bagaimana kabar kak Dito?" tanya Pasha.
" Dia katanya mau melamar kakak, sesudah kak Sulis menikah. " Sinta keceplosan saat Pasha menanyakan kabar Dito.
" Apa? Dito mau ngelamar?" celetuk Sulis.
Kedua mata Sinta terbelalak, dia keceplosan berbicara.
" Memangnya, kamu mau menikah muda?" tanya Mama.
" He, he ,he.." Sinta terkekeh mendengar pertanyaan dari mamanya.
Sungguh amat malu dirinya, telah membongkar rahasia nya bersama Dito.
" Enggak apa-apa, kalau memang sudah jodoh. Anak perempuan gak baik menikah terlalu tua. " Kata Ayah yang membela Sinta.
Sinta menjadi salah tingkah dan memerah wajahnya.
Mereka memulai sarapan bersama, menikmati masakan Sulis dan mama.
__ADS_1
" Sin, mama akan pulang sore nanti. Soalnya Pasha kan cuma minta libur dua." kata mama.
" Iya, nanti kamu jangan telat pulang nya. Kita akan antar mama ke stasiun." pesan Sulis, " Jangan lupa, handphone nya." kata Sulis mengingatkan.
" Oh, jadi kakak kerja setengah hari?" tanya Sinta.
" Enggak, kakak hari ini ijin. Dan cuma nganterin kamu aja." kata Sulis.
" Oh, " jawab Sinta, " Sinta jalan dulu, Ma, Yah. Assalamualaikum." Sinta langsung mencium tangan kedua orang tua, untuk pamit berangkat ke sekolah.
" Wa'alaikum salam." jawab mama dan ayah Sinta.
Sinta pun masuk kedalam mobil, dan sungguh terkejut melihat kehadiran Pasha di jok belakang.
" Pasha, kamu ngapain?" tanya Sinta sambil menoleh ke arah belakang.
" Aku mau lihat sekolah kak Sinta, sekalian jalan-jalan sama kak Sulis." jawab Pasha.
" Ih, curang. Masa aku gak di ajak?" kata Sinta dengan wajah yang cemberut.
" Jangan manja, lagian kamu juga uda sering jalan-jalan sama cowok yang kemarin itu." kata Sulis yang belum mengetahui nama Raja.
" Loh, kok kakak bisa tahu?" kata Sinta yang terkejut dengan penuturan Sulis.
" Iya tahulah, kemarin kakak ngeliat kamu lagi sama cowok itu sambil berboncengan motor. Dan berhenti di kafe, sayangnya kakak lagi nyetir mobil karena jemput ayah dan mama." kata Sulis
Sinta langsung menundukkan kepalanya, dia merasa bersalah karena telah membohongi kakaknya.
" Kamu jangan pernah macam-macam, Sinta. Nanti kalau mama dan ayah tahu, bisa malu dengarnya. Karena kamu sudah tunangan sama Dito." kata Sulis mengingatkan.
" Udah, gak usah tapi-tapi. Kasihan Dito, dia sangat menyayangi kamu. Kamu harus jaga kepercayaan dia." pesan Sulis.
Iya, tapikan memang Dito yang menyuruh ku untuk bekerja sama dengan Raja. Batin Sinta bermonolog pada dirinya sendiri.
Sinta terlihat kesal, karena dia tak di kasih kesempatan untuk berbicara.
" Kak, lebih tampan mana Kak Dito apa teman kak Sinta yang kemarin kakak lihat?" celetuk Pasha dari arah belakang sambil memajukan badannya, mendekati jok depan.
" Hust, kamu masih kecil. Gak usah bahas soal itu, dan jangan pernah cerita ke mama dan ayah." kata Sulis memperingatkan.
" Iya, iya..." ucap Pasha yang langsung memundurkan badan nya ke sandaran kursi.
Pasha merasa bukan lagi anak kecil, usianya sudah remaja dan kini duduk di kelas 9 SMP.
Sesampainya di sekolah, Sinta langsung keluar dari mobil. Dan mencium tangan Sulis, serta Pasha mencium tangannya.
" Ingat Kak, jangan macam-macam." kata Pasha yang memajukan kepalanya ke luar jendela.
Namun pada saat Sinta ingin mendekati nya, bermaksud mentoyor kepalanya, Pasha langsung memundurkan kepalanya dan langsung menutup jendela mobil dengan cepat.
" Ish," Sinta terlihat kesal, melihat tingkah adik laki-laki satu-satunya.
__ADS_1
Sulis pun menjalankan mobilnya, lalu Sinta masuk ke dalam sekolah.
Saat memasuki kelas, dia bertemu dengan Gendis.
" Sinta." sapanya.
" Iya " jawab Sinta yang menoleh ke arah Gendis.
" Tadi kamu di anter siapa?" tanya Gendis yang melihat Sinta turun dari mobil.
Selama ini Gendis selalu bersikap sombong, terhadap teman yang ekonomi menengah kebawah. Karena dia merasa anak dari wakil kepala sekolah, dan hanya dia dan Raka yang mempunyai mobil. Selebihnya anak-anak yang lain hanya berjalan kaki, ataupun naik motor saat sampai di sekolah.
" Kakak, aku." jawab Sinta.
Gendis merasa tersaingi oleh Sinta, dengan wajah nya yang cantik juga merupakan anak orang berada.
Padahal Sinta, hanya seorang anak tukang kue di Jakarta. Sedangkan ayahnya, hanya tukang ojek online.
" Oh, " jawab Gendis dengan menyunggingkan senyum nya.
Gendis berpikir, dia akan kalah bersaing dengan Sinta. Sehingga Raka akan berpaling darinya, dan mendekati Sinta.
" Aku masuk kelas dulu, ya." kata Sinta sambil tersenyum.
" Iya." jawab Gendis dengan senyum kepura-puraan.
Terlihat Ayu dan Riska sudah sampai di bangku mereka masing-masing.
" Sinta, kamu bareng sama Gendis?" tanya Ayu dengan badan yang memutar ke arah belakang.
" Aku, ketemu di lorong sekolah." kata Sinta sambil menaruh tasnya.
" Apa, dia berbuat yang macam-macam lagi sama kamu?" tanya Riska penasaran.
" Enggak, " jawab Sinta.
" Memangnya kenapa?" tanya Sinta.
" Enggak apa-apa, baguslah kalau dia sudah berubah." kata Ayu yang mengkhawatirkan Sinta.
" Memang nya, dia akan berubah seperti apa?" tanya Sinta sambil menangkupkan dagunya di atas tangan nya yang bertumpu di meja.
" Barangkali akan berubah seperti mak lampir, ckckck ..." kata Riska sambil tertawa renyah.
" Hush, kamu jangan begitu. Nanti ada yang dengar, bisa kena labrak kamu, " bisik Ayu.
Bel masuk pun berbunyi, tandanya seluruh siswa harus sudah menempati bangkunya masing-masing.
Pelajaran pertama di mulai, seperti biasa Raja tidak datang. Namun tasnya sudah berada di kolong meja, terlihat tali tas yang keluar dari lacinya.
" Ish dasar, kalau jarang masuk pelajaran matematika kapan pintarnya?" gumam Sinta dalam hatinya.
__ADS_1
Pagi ini pelajaran matematika, dan Raja tidak lagi masuk.
Silakan like dan berikan hadiah bunga atau kopi untuk karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar nya.