LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 78


__ADS_3

"Masa bodoh, yang penting temanku selamat!" ucap Sinta dengan nada acuh.


"Apa kamu gak takut?" tanya pak Dirja.


"Enggak! Karena aku benar dan dia yang salah." Sinta menekankan pada pak Dirja.


"Baiklah, sekarang kalian boleh jenguk teman kalian." Pak Dirja langsung berdiri dan mempersilakan Sinta dan Raja untuk segera meninggalkan kantor polisi.


"Pak! Aku tekankan sekali lagi, jika kasus ini tidak di lanjutkan, maka aku akan menggunakan cara lain untuk membuat pak Feri, jera!" ancam Sinta sebelum dia pergi meninggalkan kursinya.


Pak Sudirja hanya menatap Sinta dengan ekspresi wajah yang datar. Dia tidak akan meneruskan kasusnya, karena akan mempengaruhi jabatannya di kepolisian. Makanya Sudirja hanya terdiam mendengar ancaman dari Sinta.


"Pak! Jangan diam saja, sebagai polisi harus jujur dan mengayomi masyarakat. Bukan mementingkan hak pejabat." Raja langsung pergi meninggalkan Sudirja yang diam terpaku karena di ceramahi oleh bocah tanggung.


"Ah, sudahlah! Kalau aku di pecat, anak istriku mau aku beri makan apa?" gumam Sudirja seraya menatap nanar ke arah Raja dan Sinta.


Raja sudah seringkali menemui orang-orang penjilat seperti Sudirja. Apalagi di lingkungan sekitar sekolah nya. Demi naik jabatan, apapun akan dilakukan agar keinginan nya tercapai.


Banyak orang jujur tersingkir, hanya karena kena fitnah sang penjilat. Hukum di negeri ini akan selalu tumpul ke atas. Uang adalah segala, karena orang hanya bekerja untuk uang tanpa memikirkan hati nurani.


Raja akan berbuat sesuatu, jika saja dugaannya terhadap Sudirja adalah benar. Polisi bertubuh gempal itu, pasti tak akan melanjutkan kasus Gendis.

__ADS_1


Tapi bukan berarti Raja menyukai Gendis, melainkan hanya ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Mungkin nantinya Gendis, akan merasa Raja telah menyukainya.


"Sin, seandainya pak Dirja tidak memproses kasus Gendis, gimana?" tanya Raja yang telah menaiki motor nya.


"Aku akan diskusi pada kak Sulis. Bagaimana menyikapi polisi yang tebang pilih pada rakyat kecil," jawab Sinta.


"Sin, kita lagi gak sedang belajar PPKn!" Raja menegaskan.


"Raja! Kita butuh orang dewasa untuk membantu kita memecahkan masalah. Apalagi yang kita hadapi adalah seorang pejabat!" terang Sinta.


"Baiklah, aku rasa kita mencari jawaban masing-masing dulu. Setelah itu, kau baru beritahu aku untuk tindakan selanjutnya," ujar Raja.


Kemudian Raja pun melajukan motornya, meninggalkan kantor polisi.


Sesampainya di rumah sakit, Sinta dan Raja meminta resepsionis menunjukkan tempat Gendis. Rupanya Gendis telah pulang ke rumah, karena dia hanya pingsan karena di bius.


"Apa kamu punya nomor telepon Gendis?" tanya Sinta.


"Aku tidak pernah menyimpan nya," jawab Raja.


"Coba aku lihat handphone mu!" Sinta sambil menengadahkan tangan nya.

__ADS_1


Raja pun memberikan ponselnya kepada Sinta.


"Dikunci gak?" tanya Sinta yang telah menerima ponsel Raja.


"Enggak, aku takut hilang kalo bawa-bawa gembok!" jawab Raja dengan ekspresi wajah datar.


"Apa? Emang kamu pikir ponsel kamu itu pintu gerbang, apa?" tanya Sinta keheranan seraya mengerutkan keningnya.


"Aku hanya bercanda," jawab Raja seraya memutar kedua bola mata dengan malas.


Sinta pun mengusap layar ponsel milik Raja.


Kemudian dia melihat nomor panggilan dan nomor kontak.


Saat mengecek nomor panggilan masuk, ternyata tidak ada keterangan nama, semua hanyalah nomor. Hal itu membuat Sinta semakin bingung untuk mengenali nomor telepon Gendis.


Lalu Sinta melihat nomor kontak, dan sungguh terkejut saat melihat nama yang tersimpan.


"Ayah, kak Putri, Sinta? Raja, kenapa hanya ada tiga nama saja di sini?" tanya Sinta keheranan.


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar mu

__ADS_1


__ADS_2