
Keesokan paginya, Dito kembali bersiap untuk pergi menuju yayasan. Karena namanya ada dalam daftar yang lolos. Kemarin dia mendapatkan telpon dari bagian admin, hanya saja nama yang lolos adalah Dita.
Raja pandai memanipulasi data untuk Dito. Mulai dari foto dan juga semua identitas milik Dito diubah menjadi Dita.
"Apa kau sudah siap?" tanya Raja yang kembali bertugas sebagai supir ojek online.
"Siap," jawab Dito.
Sebenarnya Dito masih memikirkan keadaan Sinta, hanya saja dia harus profesional pada pekerjaannya.
"Bagaimana dengan nasib Sinta?" batin Dito yang cemas memikirkan keadaan sang kekasih.
"Kau tidak perlu mencemaskan keadaan Sinta, dia pasti akan baik-baik saja. Sinta itu gadis yang cerdas," teriak Raja tanpa menoleh ke arah belakang.
Dito bingung dengan Raja yang tahu tentang isi hatinya. Kenapa Raja bisa mengetahui jika saat ini dia sedang memikirkan Sinta?
"Hey, darimana kau tahu kalau aku sedang memikirkan Sinta?" tanya Dito.
"Aku hanya menebak, karena sedari tadi kau diam saja."
"Aku pikir kau cenayang," gumam Dito.
Raja pun fokus menjalankan motornya menuju yayasan.
__ADS_1
"Apakah Dito akan berhasil?" tanya Sudirja sembari mengikuti Raja dari arah belakang.
Sudirja dan Herman mengikuti Raja dan juga Dito dari arah belakang menggunakan mobil. Dan Sudirja sudah menyiapkan timnya untuk segera bersiap menyergap yayasan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.
Dito telah diberi tahu oleh Sudirja, jika keadaan mendesak dan membutuhkan bantuan, langsung menekan tombol di ujung pena.
Herman telah menyiapkan berbagai macam alat untuk melakukan penyamaran.
Segala macam alat penyadap biasa maupun
yang canggih di borong olehnya.
"Aku rasa dia anak yang pintar," sahut Herman. "Apa kau tahu siapa dia?" tanya Herman
Sudirja menggelengkan kepalanya, dia tidak mengetahui asal-usul Dito.
"Apa!" kaget Sudirja. "Tapi kenapa dia tidak seperti orang kaya?" tanya Sudirja.
"Aku tak tahu," jawab Herman.
"Iya, lebih bagus tidak pamer seperti mu." Sudirja menyindir Herman.
"Hey, apa kau menyindirku?" gumam Herman seraya menatap tajam ke arah Sudirja.
__ADS_1
"Tidak," elak Sudirja. "Aku hanya salut kepadanya, yang tidak mengenal Ferdi. Tetapi mau berurusan dengan maling kelas Kakap itu. Apa dia tidak tahu jika Ferdi sangat berbahaya?"
"Dia hanya bilang, akan terus mendukung pacarnya. Dia sangat mencintai pacarnya yang kini di culik oleh Ferdi."
"Anak muda zaman sekarang," ucap Sudirja menggelengkan kepalanya.
"Apakah kau akan berbuat yang sama jika istrimu di culik?" tanya Herman
"Iya, pastilah. Aku akan melakukan hal yang sama."
"Tetapi, kenapa kau takut menangkap Ferdi. Padahal jelas-jelas kau memegang kartunya," ucap Herman menyindir Sudirja.
"Hey, kenapa kita saling menyindir?" tanya Sudirja
"Bukankah kau duluan yang menyindir ku?" ungkap Herman yang tak mau mengalah.
"Sudahlah, kita tak usah bertengkar. Umur kita sudah tua, dan gak cocok bertengkar." Sudirja mengalihkan pembicaraan.
Sesampainya di yayasan, Dito pun turun dari motor. Kemudian dia pura-pura membayar ongkos ojek kepada Raja.
"Terima kasih ya, Bang." Dito memberikan beberapa lembar uang kepada Raja.
"Sama-sama," jawab Raja menerima uang dari Dito.
__ADS_1
Terlihat dua orang laki-laki bertubuh tegap berdiri di depan pintu gerbang.
Sepertinya mereka memang ditugaskan untuk mengamankan yayasan.