LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 68


__ADS_3

" Dit, bagaimana keadaanmu?" tanya Sinta yang mendekati Dito.


" Masih sedikit pusing," jawab Dito." Dan nanti sore, aku mau pulang."


" Apa kamu sudah merasa enakan?" tanya Sinta.


" Sudah, aku tidak betah berlama-lama tinggal di rumah sakit," ucap Dito. " Sebaiknya, nanti malam kalian menginap di rumahku," pinta Dito pada ketiga teman Sinta.


" Aku tinggal di rumah kakakku saja," jawab Raja menolak, dia tidak ingin hatinya semakin hancur melihat kedekatan Sinta dan Dito.


" Terus kita dimana?" tanya Raka sambil melihat ke arah Dito dan Raja.


" Aku sama Sinta," jawab Gendis." Aku mau jadi obat nyamuknya, Sinta! " ucap Gendis seraya mengedipkan satu matanya ke arah Sinta.


" Baiklah, aku ikut Gendis. Lebih asyik menginap bersama gadis-gadis." Tubuh Raka langsung bergeser ke arah Gendis.


" Ish, kamu jangan genit!" Gendis mencubit pinggang Raka.


" He, he, he ..." Raka terkekeh.


Mereka menunggu kedatangan dokter, yang akan memeriksa Dito


" Gimana perjalanan kalian?" tanya Melly yang sudah masuk ke dalam kamar Dito. Dia baru saja pulang dari magangnya.


" Seru," jawab Raka sambil menunjukkan jari jempolnya.


" Oh, bagus kalau begitu." Melly tersenyum ke arah Raka. " Dit, tadi dokter bilang sama kakak. Katanya kamu minta pulang hari ini?" tanya Melly meminta penjelasan.


" Iya, aku meminta di rawat di rumah saja. Di sini sangat membosankan." Dito menjawab pertanyaan Melly.


" Kata dokter, harus ada perawat yang standby menemani kamu," ucap Melly memberitahu.


" Perawatnya cantik gak, Kak?" celetuk Gendis bertanya pada Melly dengan nada bercanda.


" Orang bule, cantiknya standar." Melly sambil memainkan bibirnya.


" Kalo bisa yang sudah lansia aja, Kak!" Raka kembali membalas candaan Melly.


" Ish, kamu kok lansia?" Gendis memukul lengan Raka.


" Oh, maksud ku yang sudah dewasa dan tidak muda." Raka tertawa melihat ke arah Sinta.


" Iya, nanti aku carikan yang janda. Ha, ha, ha ... " Melly tertawa cekikikan.


" Kalian kok malah bercanda?" Terlihat Dito sambil mencebikkan bibirnya." Kamu gak apa-apa, Sayang? " tanya Dito sambil melirik ke arah Sinta.

__ADS_1


" Asal jangan, Sarah aja!" sahut Sinta sambil memutar kedua bola matanya malas.


" Cie, cie yang cemburu," ledek Gendis sambil mendekat ke arah Sinta dengan wajah yang cemberut.


" Permisi," sapa seorang dokter yang masuk ke dalam kamar.


" Silakan, Dok!" Melly mempersilakan masuk dokter yang ingin memeriksa Dito.


Dokter pun sudah berdiri di sebelah tempat tidur Dito. Dengan teliti, memeriksa bagian kepala Dito. Perawat pendamping pun mencatat semua keluhan Dito. Dan dokter memberikan resep obat, untuk diminum Dito pada saat rawat jalan.


Usai melakukan pemeriksaan, Melly mengajukan seorang perawat yang akan mengurus Dito.


" Aku keluar sebentar, kalian tolong bantu Dito berkemas." Melly meminta bantuan pada teman-teman Sinta.


" Kamu pulang, bukan karena kehadiran aku bukan?" tanya Sinta sambil melihat ke arah Dito.


" Ih, kamu ge-er banget!" ucap Dito sambil mencubit hidung Sinta.


" Ih, sakit tahu!" Sinta langsung menepis tangan Dito.


" Iya, aku cepat sembuh karena ada kehadiran kamu di sini." Dito mencolek hidung Sinta.


Gendis dan Raka mematung, melihat kemesraan antara Sinta dan Dito.


" Hey kalian, jangan kayak penonton. Sebaiknya kita keluar," ucap Raja yang langsung berjalan menuju pintu luar.


Dito pun di bawa pulang oleh Sinta dan kawan-kawannya menuju rumah kedua orang tuanya.


Mereka menuju mansion utama, dengan bangunan yang cukup megah.


" Wah, besar banget rumahnya!" Raka tercengang melihat kemegahan mansion milik keluarga Dito.


" Raka, kamu jangan norak!" Gendis memukul lengan Raka.


Mereka pun masuk ke dalam ruang utama, dengan dekorasi ala Eropa nan klasik serta tiang pancang yang tinggi menjulang, mengokohkan bangunan bak istana.


Sinta tidak terkejut, karena dia sangat tahu jika pacar nya memang seorang miliarder muda. Hanya saja Dito harus bersikap biasa saja terhadap nya. Sinta lebih menyukai sikap Dito yang sederhana. Dan Dito pun sudah memahami sifat kekasihnya, yang tidak suka jika Dito memamerkan harta benda miliknya.


" Aku gak menyangka, jika pacarmu seorang miliarder?" Gendis berbisik di telinga Dito.


Sinta hanya mengulas senyum tipis, karena dia tidak ingin dianggap sebagai cewek matre. Sinta mengenal Dito, karena pribadi yang sopan dan sederhana. Awal pertemuan mereka memang di angkot, dan itu yang membuat Sinta berkesan, karena terus memikirkan Dito si ketua kelas.


" Kalian mau makan?" tanya Dito.


" Boleh kita keliling dulu, melihat keindahan arsitektur rumah kamu?" tanya Raka sambil memperhatikan ukiran kayu di depannya.

__ADS_1


" Itu dari Indonesia, semua perabotan di sini di beli di sana." Dito menjelaskan.


" Iya, hampir sama dengan punyaku di rumah!" ujar Raka yang memang ibunya menyukai barang antik.


" Punya mamaku, dan belinya juga di Yogyakarta," ucap Dito.


" Oh," jawab Raka seraya membulatkan mulutnya membentuk huruf o.


" Apa kamu mau ke kamar?" tanya Sinta yang berdiri di belakang Dito.


" Boleh," jawab Dito. " Di sana kamarku," ucap Dito sambil menunjukkan jarinya ke arah depan.


" Itu lift," ucap Sinta.


" Kita naik, lift!" jawab Dito.


" Baiklah, suster bisa ikut kami?" tanya Sinta.


Perawat pun menganggukkan kepalanya, dia mengikuti langkah Dito dan Sinta.


" Oh iya, nanti kalau sudah keliling. Kalian silakan berkumpul di ruang makan," ucap Dito memberitahu.


" Iya," jawab serempak Raka dan Gendis.


Sinta mendorong Dito menuju lift, diikuti perawat di belakang nya.


Sementara di rumah Sarah, terlihat Hasan yang sudah pulang usai mengantar Sulis ke mansion milik Dito.


" Dek, abang akan melangsungkan pernikahan usai pulang dari sini," ucap Hasan memberitahukan kedua adiknya.


" Apa, Bang! Kenapa mendadak?" Sarah terkejut dengan keputusan Hasan.


" Kok, kamu jadi kaget gitu?" tanya Salsa dengan nada santai.


" Eh enggak, aku hanya terkejut kenapa acaranya mendadak." Sarah beralasan, padahal dia tidak suka jika berbesanan dengan Sinta.


" Sarah, abang sudah membicarakan dengan ayah dan ibu. Sebenarnya acaranya akan di laksanakan usai Sinta lulus sekolah. Hanya saja aku ingin secepatnya menghalalkan, hubunganku dengan Sulis." Hasan berucap sambil tersenyum.


Karena bagi Hasan, dirinya sudah cukup mapan dan dewasa. Apalagi Hasan mengenal Sulis sudah cukup lama. Dan menurutnya kisah cinta hubungan jarak jauh, membuatnya sedikit jenuh.


" Aku sih terserah Abang, asal uang jajanku gak berkurang aja!" ucap Salsa sambil memainkan layar ponselnya.


" Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu seperti Sarah. Dia bisa mencari pekerjaan untuk membantu abang dan kedua orang tua kita." Hasan menasehati Salsa. Salsa selalu hidup dengan banyak gaya. Dia tidak ingin terlihat miskin di mata teman-temannya.


" Ish, Abang! Aku masih ingin menikmati masa mudaku, dan belum memikirkan tentang pekerjaan!" hardik Salsa dan langsung pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentarmu


__ADS_2