
Dito dan Sinta telah sampai di mall, mereka segera mencari toko baju muslim.
"Mau cari baju model apa?" tanya Sinta.
"Yang lagi model, baju kaya gimana?" tanya Dito.
"Sebentar," kata Sinta sembari memilih gamis yang ada di hadapannya. "Kayanya maxi dress ini cocok buat bi Inah," kata Sinta seraya menunjuk ke arah baju gamis di sebelah kanannya.
"Silakan kakak, apa ada yang bisa dibantu?" tanya salah seorang pegawai wanita yang menghampiri Dito dan juga Sinta.
"Gini Mbak, aku lagi nyari baju gamis seukuran dia." Sinta menunjuk ke arah Dito.
Pegawai wanita itu pun menoleh ke arah Dito.
"Maksudnya buat mas ini?" tanyanya seraya mengernyitkan keningnya.
"Bukan, buat seseorang tapi dengan ukuran seperti dia," sahut Sinta.
"Oh, saya pikir buat Mas-nya!" ucap pegawai wanita itu dengan senyum meringis.
Dito terlihat tak memperdulikan senyuman dari pegawai wanita dihadapannya.
"Mari saya bantu," kata pegawai itu sembari memilih baju dengan ukuran Dito.
__ADS_1
"Warna putih, hitam atau marun?" tanya Sinta kepada Dito sembari menunjuk kearah maxi dress.
"Cocoknya kalau dipakai oleh bi Inah warna apa?" tany Dito berpura-pura, agar misinya tidak diketahui oleh Sinta.
"Bagusnya sih, warna marun," kata Sinta. "Tapi gak cocok dengan kulit bi Inah yg gelap, sebaiknya warna krem."
Sinta menunjuk gamis di belakang Dito.
Dito hanya memutar malas kedua bola matanya. Ternyata sebegitu ribet dan repotnya berbelanja dengan wanita. Karena sebelumnya Dito hanya mengantarkan ibunya berbelanja, dan dia tidak pernah di ikut sertakan dalam memilih barang.
Padahal tadi Sinta sendiri yang memilih, kenapa dia juga yang membatalkannya?
Dan perkataan para lelaki itu benar, jika wanita terlalu banyak memilih jika berbelanja, dan ujung-ujungnya pasti yang di beli bukanlah pilihannya. Kadang ada yang tidak jadi membeli, kadang para wanita membeli barang yang paling murah. Mereka selalu mencari diskon, atau harga yang lebih murah hingga kesudut ruangan.
"Sudah ketemu?" tanya Dito dengan perasaan bosan yang kini menyelimutinya.
"Sepertinya ini cocok," kata Sinta sembari menunjuk Maxi dress pertama yang berwarna merah marun.
Dito menghela nafasnya berat, karena sudah sejam dia mengitari area pakaian ternyata pilihannya tetap pada maxi dress berwarna merah marun.
"Iya, sudah. Sebaiknya kita langsung bayar, karena kakiku sudah lelah." Dito mengeluh sembari mengambil maxi dress dari tangan Sinta.
"Kamu gak beli jilbabnya sekalian?" tanya Sinta sembari mengikuti langkah Dito.
__ADS_1
"Ah, iya. Sebaiknya kamu yang carikan, aku menunggu di kasir." Dito langsung berjalan menuju ke arah kasir.
Dito terus memperhatikan sang kekasih yang sedang kerepotan mencari jilbab dengan warna senada.
"Sudah?" tanya Dito yang melihat Sinta sudah berada dihadapannya.
"Sudah, ini jilbabnya." Sinta memberikan bergo berbahan ceruty warna merah marun kepada Dito.
"Baiklah, aku bayar sekarang." Dito langsung menuju meja kasir untuk membayar gamis dan jilbab pilihan kekasihnya.
Usai berbelanja, Dito mengajak Sinta untuk makan sore. Karena memang sedari tadi perutnya sudah sangat lapar.
Setelah selesai dengan aktivitas di mall, Dito mengantar Sinta pulang ke rumah.
"Jangan lupa, kamu kecilin bagian bawahnya. Karena bi Inah itu gak setinggi kamu." Sinta berpesan kepada Dito sembari membuka gamis yang baru saja dibeli.
"Bagian pinggang juga, kalo memang kebesaran suruh kecilin sama tukang permak."
Dito hanya menganggukkan kepalanya menurut dengan perkataan sang kekasih.
Padahal baju gamis yang baru saja dibeli adalah untuk keperluan menyamar Dito untuk masuk kedalam yayasan milik Feri.
Jangan lupa berikan like, gift dan komentar untuk mendukung karya author. Author akan lebih bersemangat jika banyak yang memberikan poin.
__ADS_1