
Dito
Sarah di hubungi oleh Dito, agar menghampiri nya di sebuah coffe shop.
Segera dia meminta tolong pada Rossi, agar mengantar nya ke tempat Dito
" Rossi, bisakah kamu mengantarku ke Caffe Roseblack?" tanya Sarah yang duduk di sebelah Rossi. Mereka sedang makan siang di kantin.
" Memang, kamu mau menemui siapa?" tanya Rossi sambil menyantap makan siangnya.
Kantin di kampusnya menyediakan makan siang, khusus mahasiswa. Setiap mahasiswa dengan bebas, mengambil jatah makan siangnya.
" Dito?" ucap Rossi yang menghentikan kunyahan nya.
" Iya." jawab Sarah sambil menganggukkan kepalanya.
" Apakah hubungan kalian sudah sangat dekat? Hingga aku tak mengetahui nya?" tanya Rossi yang merasa kecewa dengan Sarah, yang tidak memberitahu kelanjutan hubungan nya dengan Dito.
" Hanya sebatas partner bisnis, gak lebih. " jawab Sarah dengan santai.
" Partner bisnis? Maksud mu?" tanya Rossi dengan mengerlingkan kedua matanya.
" Aku di minta Dito, untuk bekerja menjadi konsultan keuangannya." kata Sarah.
" Apa? Memangnya Dito punya perusahaan?" tanya Rossi mencoba meminta penjelasan pada Sarah.
" Entahlah, dia hanya bercerita tentang sebuah kafe yang di miliki di Indonesia. " kata Sarah, " Mungkin saja, dia menghubungi ku ingin membahas soal itu." kata Sarah.
" Oh ya sudah, kita cepat habiskan makanan nya." kata Rossi bersemangat, seperti nya dia sangat antusias ingin bertemu dengan Dito.
Dan Sarah, tidak menaruh curiga sedikitpun pada Rossi. Sarah hanya berpikir, Rossi akan membantu soal hubungan nya dengan Dito.
Setelah menghabiskan makanannya, mereka bergegas meninggalkan kantin. Lalu berjalan menuju ke arah parkiran mobil.
" Kamu tahu Caffe Rose black?" tanya Sarah.
" Iya, tahu dong. Masa orang Inggris gak tahu tempat itu!" kata Rossi yang mulai menjalankan mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya, keluar dari area parkiran.
Selang setengah jam, mereka telah sampai di Caffe Rose black. Mobil Rossi pun telah terparkir, di kafe milik keluarga Dito.
" Wah, besar juga kafenya. " kata Sarah yang takjub dengan bangunan kafe di hadapannya.
" Iya, aku juga belum pernah masuk ke sini. Hanya tahu saja, katanya kafe ini hanya orang yang berduit tebal bisa menikmati hidangan di kafe ini." kata Rossi yang telah mengunci mobil nya.
" Ayo masuk." ajak Rossi, sambil menuntun tangan Sarah, " Dito, mau traktir kita makan apa ya?" tanya Rossi sambil tersenyum, memikirkan menu hidangan di dalam kafe.
" Kamu jangan terus berkhayal, siapa tahu kita hanya duduk mengobrol dan Dito tidak memesan apapun." kata Sarah yang berjalan di sisi kanan Rossi.
__ADS_1
Rossi mencebikkan bibir nya, merasa lamunannya telah di buyar kan oleh Sarah.
Mereka mencari keberadaan Dito, namun tak terlihat keberadaan nya.
Sarah langsung mengambil ponselnya, lalu menghubungi Dito.
" Halo, Dit." ucap Sarah mengawali pembicaraan.
" Iya, apa kamu sudah sampai?" tanya Dito.
" Sudah, dan kamu duduk dimana? Aku sudah sampai di dalam kafe." lapor Sarah.
" Oh, kalau begitu kau minta tolong pada pegawai di sana. Agar mengantarkan mu kantor." ucap Dito.
" Kantor?" Sarah terlihat bingung, ada apa dengan Dito? Hingga dia harus menghampiri Dito di kantor.
Apakah Dito tidak sanggup membayar makanan di kafe ini? batin Sarah cemas, karena uangnya kini tidak cukup untuk membayar menu makanan di kafe ini. Yang di bilang Rossi, kalau menu di kafe ini sangat mahal.
" Ada apa Sarah?" tanya Rossi yang melihat kecemasan di wajah Sarah.
" Dito menyuruhku, menemuinya di kantor." ucap Sarah dengan wajah ketakutan.
" Kantor? " bingung Rossi, seketika dia pun ikut cemas," Apa kau yakin, ingin menemui Dito?" tanya Rossi yang berbisik-bisik di sebelah Sarah.
" Aku hanya takut, di suruh bertanggung jawab soal Dito yang di tangkap oleh pihak kafe." pikir Sarah.
" Aku rasa, seperti itu." jawab Sarah sambil menarik ujung bibirnya.
Dito pun keluar dari kantornya, karena telah menunggu lama kedatangan Sarah.
" Sarah..." panggil Dito sambil melambaikan tangan nya.
" Sarah, bukankah itu Dito?" kata Rossi seraya melihat ke arah kantor.
" Sepertinya, apa dia melihat kita?" tanya Sarah sambil memalingkan wajahnya, lalu berbalik badan.
" Iya dia mengejar kita." jawab Rossi yang ikut panik.
Dito bingung melihat sikap Sarah, yang langsung berbalik badan saat di panggil oleh nya.
Ada apa dengan mereka? batin Dito sambil mengernyitkan keningnya.
Dito langsung berlari kecil, menyusul Sarah.
" Sarah.." tangan Dito meraih pundak Sarah, untuk menghentikan langkahnya.
" Dit-to." kata Sarah gugup, " Maaf, aku tak punya uang untuk membebaskan mu." kata Sarah sambil membalikkan badannya.
__ADS_1
" Maksud kamu, apa?" tanya Dito sambil mengerutkan alisnya.
" Dit, kami bawa uang pas-pasan. Jika kamu di tahan oleh pemilik kafe, karena tidak cukup uang untuk membayar makanan mu." sambung Rossi dari arah belakang.
Dito hanya tersenyum, mendengar penuturan Rossi.
" Jadi itu yang kalian pikirkan sejak tadi?" tanya Dito sambil menautkan kedua alisnya.
" Iya, hehehehe..." jawab Sarah terkekeh.
" Sebaiknya kita bicara di kantor." ajak Dito sambil menoleh ke arah kantor nya.
" Ma-mau ngapain Dit?" gugup Rossi yang merasa ketakutan jika akan di tagih pembayaran.
" Kita ke kantor ku." ucap Dito menjelaskan.
" A-pa? Kantormu?" bingung Sarah sambil melihat sekeliling kafe.
" Sudah ayo, aku lagi banyak kerjaan." ajak Dito yang langsung memutar badannya, dan berjalan menuju kantor nya.
Sarah dan Rossi pun mengekori langkah Dito, dan berjalan di belakangnya.
" Apa kau percaya, jika kafe ini milik Dito?" bisik Rossi di tengah perjalanan nya menuju kantor.
" Entahlah, aku hanya percaya pada Dito. Dia lelaki yang bertanggung jawab." kembali Sarah berbisik di telinga Rossi.
Mereka pun sampai di depan kantor milik Dito.
Sungguh megah ruangannya, dengan dekorasi ala Eropa. Membuat ruangannya menjadi rapi dan terlihat elegan juga mewah.
" Silakan duduk." kata Dito yang telah duduk di sofa.
Rossi dan Sarah pun duduk berdampingan. Mereka tak melihat ada orang, yang ada di dalam pikiran mereka. Bahwa Dito telah di hakimi, karena tidak punya uang untuk membayar menu makanan yang di santap.
Dito langsung bangun, dan mengambil map berwarna merah yang berada di atas meja.
Map itu berisikan surat perjanjian kerja, antara dirinya dan Sarah.
Sarah pun membuka map, dan membacakan.
Tertera namanya, dan beberapa butir perjanjian kerjasama.
" Ini data perusahaan mu, Dito?" tanya Sarah.
" Iya, kau pasti paham pelajaran akuntansi?" tanya Dito.
" Iya, aku mengambil jurusan itu saat ini." kata Sarah sambil memperhatikan bagian yang belum dia baca.
__ADS_1
" Wah, rupanya Dito adalah miliarder muda. " batin Rossi yang melihat beberapa map dengan laporan keuangannya.