
"Oh, mungkin Dito mau buat kejutan untuk bi Inah," pikir Sinta.
"Ah, sebaiknya aku tidak usah mengatakan kepada Bi Inah," batin Sinta sembari tersenyum simpul.
"Baju apa sih Non?" tanya bi Inah penasaran.
"Enggak jadi, Bi."
Sinta kembali menyeruput es jeruk buatan bi Inah.
"Bi, apa Dito akan pergi kerumahku?" tanya Sinta.
"Enggak tahu, Non! Sepenglihatan bibi, tadi Den Dito membawa paper bag. Mungkin dia mau bikin kejutan untuk Non?" kata Bi Inah yang semakin membuat Sinta menjadi bingung.
Akhirnya tanpa banyak berpikir, Sinta langsung menghubungi Dito.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif."
Terdengar suara operator menjawab panggilan dari Sinta.
"Loh, kok gak aktif?" kata Sinta cemas sembari melihat layar ponselnya.
"Bi, sebenarnya Dito itu kemana?" tanya Sinta kepada bi Inah.
Sementara Dito telah sampai di kantor Herman. Sudah ada Raja, Herman dan Sudirja yang sudah menunggu Dito sejak tadi.
Kali ini mereka melihatkan Sudirja, karena butuh dukungan perlindungan dari pihak kepolisian.
__ADS_1
"Kenapa lama?" sindir Raja.
"Aku kesiangan karena kemarin bingung memilih baju di mall," ujar Dito.
"Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Herman. "Aku sudah membelikan alat penyadap yang paling canggih," kata Herman sembari menunjukkan beberapa alat-alat untuk melakukan pengintaian.
"Kita mulai hari ini," kata Dito.
"Baiklah, kita survei saat kamu mengenakan gamis. Apa reaksi pemilik yayasan itu?" sambung Raja.
Kemudian Herman memasangkan alat-alatnya di telinga Dito. Memakaikan bros yang merupakan kamera pengintai untuk melihat situasi serta merekamnya.
"Pak, apa kau tidak takut dengan atasanmu?" tanya Raja yang sibuk memakaikan jilbab di kepala Dito.
"Sekalipun aku dipecat, mungkin akan merasa bangga karena telah membantu kalian menangkap penjahat kelas kakap seperti Feri," ucap Sudirja seraya mengulas senyum.
Setelah mereka telah merapikan semua penyamaran, Dito berboncengan dengan Raja.
Raja bertugas sebagai tukang ojek yang mengantar Dito. Dia pun sudah membelikan jaket berserta helm ojek online.
"Kita, berangkat." Herman memberi aba-aba.
Herman dan Sudirja menaiki mobil untuk mengamati Dito menggunakan laptop dan peralatan lain. Karena setiap kejadian dan percakapan harus di rekam. Semua itu merupakan bukti yang akan memberatkan Feri saat sudah tertangkap.
Sepanjang perjalanan, Raja terus saja meledek Dito.
"Untung saja kamu tidak bertemu dengan Sinta," kata Raja dari arah kemudi.
__ADS_1
"Ah, iya. Aku sampai melupakan dia," gumam Dito yang langsung mengambil ponselnya.
Dito sengaja menonaktifkan ponselnya, agar tidak ada yang mengganggu saat sedang diadakan rapat penting.
Setelah beberapa detik kemudian, ponselnya menyala. Terlihat banyak pesan dan juga panggilan masuk dari sang kekasih.
"Sinta ..." Dito terkejut saat membaca pesan dari Sinta.
"Ada apa?" teriak Raja dari arah kemudi.
"Dia kerumahku," kata Dito
"Ha, ha, ha ... Apa sebaiknya aku antar kau kesana?" ledek Raja.
"Dia ..." Dito kembali membaca pesan tentang baju yang kemarin mereka beli.
"Dit, kamu ingin membuat kejutan untuk bi Inah? Soalnya tadi aku tanya bi Inah, dia gak tahu soal baju gamis." Pesan dari Sinta
Dito menepuk keningnya, merasa bodoh dengan tindakannya.
Dito melupakan masalah baju yang akan di berikan untuk bi Inah. Semua diluar rencana, jika Sinta akan berkunjung kerumahnya.
"Dito, apa kamu sekarang ada dirumahku?"
Kembali Sinta mengirim pesan, dan masih banyak lagi tulisan yang dikirim oleh Sinta.
Dan itu membuat Dito menjadi frustasi, terlebih lagi ada dua puluh kali panggilan tak terjawab.
__ADS_1
Silakan berikan gift dan komentar untuk mendukung karya Author.