
"Nak, jika memang kamu ada hubungannya dengan Ferdi. Maka papa akan siap membantumu," kata Cakrabuana.
Herman tidak menceritakan Raja kepada Cakrabuana, karena memang ini adalah misi rahasia. Herman hanya bercerita kepada Cakrabuana kalau Ferdi akan masuk penjara karena sebuah kasus.
Herman sangat mengetahui hubungan Ferdi dengan Herlina kala itu.
Cakrabuana memang tidak begitu akrab dengan Ferdi. Karena dia sangat membenci Ferdi yang ingin merebut Herlina dari sisinya.
Ferdi rela melakukan segala cara untuk mendapatkan Herlina.
"Tapi, Pah! Aku tidak mau tahu urusan orang," kata Raja yang menghindari pembicaraan tentang Ferdi
Raja tidak ingin terlalu jauh membahas tentang Ferdi dengan kedua orang tuanya. Pastinya akan menggagalkan rencananya jika kedua orang tuanya ikut campur.
"Aku mau makan," ucap Raja yang langsung berjalan menuju dapur.
"Itu anak kebiasaan kalo di ajak ngobrol langsung mengalihkan pembicaraan," keluh Herlina.
"Sudahlah, ayo kita tidur!" ajak Cakrabuana yang langsung bergegas menuju kamarnya.
Herlina pun mengikuti langkah suaminya menuju kamar tidur.
Sementara Raja sedang menyantap menu makan malam. Perutnya memang terasa lapar, tapi menjadi tidak bernafsu mengingat kejadian saat di panti.
"Oh, jadi aku tahu tentang penyakit Sinta. Jika terlalu banyak berpikir pasti tidak akan nafsu makan. Walaupun perut sudah terasa sangat lapar," ujar Raja berpikir.
Dengan sangat terpaksa, Raja memakan nasi yang sudah dia sendok ke piring. Raja tidak ingin sakit seperti Sinta, karena dia harus melindungi Sinta.
Setelah menghabiskan makanannya, Raja bergegas menuju ke kamar.
__ADS_1
Kemudian Raja pun langsung tertidur pulas, karena kedua matanya sudah sangat mengantuk.
***
Pagi pun tiba, Sinta telah rapi mengenakan seragam sekolah. Dia sangat bersemangat karena Dito telah menunggunya di ruang tamu.
Untuk kedepannya Sinta akan terus bersama dengan kekasihnya. Tak adalagi cinta jarak jauh untuk hubungan mereka saat ini.
"Dito, kamu sudah makan?" tanya Sulis.
"Sudah, Kak!" jawab Dito.
Mamanya Sinta telah kembali ke Jakarta pada malam hari. Karena Pasha memintanya untuk kembali pulang ke Jakarta.
"Hasan belum balik?" tanya Dito kepada Sulis.
"Belum," jawab Sulis. "Kami masih harus sabar menunggu untuk beberapa bulan lagi kelulusan Sinta."
"Aku akan menyewa kontrakan untuk aku dan Mas Hasan tinggal," jawab Sulis
"Lalu Sinta?" tanya Dito.
"Dia akan kembali ke Jakarta," jawab Sulis.
"Apa dia tidak ingin kuliah di Yogyakarta?" tanya Dito.
"Entahlah, aku belum menanyakan hal itu."
Sinta pun sudah keluar dari kamarnya, lalu dia berjalan menghampiri Dito dan juga Sulis.
__ADS_1
"Sudah rapi?" tanya Dito.
"Sudah," jawab Sinta seraya merapikan kerudungnya.
"Ayo kita jalan!" ajak Dito.
"Kak, aku jalan dulu." Sinta mencium tangan Sulis. "Assalamualaikum," ucap Sinta memberikan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sulis
Begitu juga dengan Dito yang pamit kepada Sulis.
"Kita naik motor?" tanya Sinta yang melihat motor matic milik Dito terparkir di depan rumah nya.
"Iya, aku akan jalan pelan-pelan."
Dito sedang terburu-buru, karena dia sedang merencanakan sesuatu.
"Apa kamu tidak merindukan naik motor bersama ku?" goda Dito.
"Kalau kamu godain aku terus, kapan berangkat sekolah nya?" kata Sinta merajuk.
"Iya, sudah kita berangkat!" Kata Dito yang langsung mengambil helmnya.
Kemudian Dito mengambil helm untuk Sinta, lalu di pakaikan di kepalanya.
"Ayo jalan tuan putri," kata Dito yang sudah naik ke atas motor.
Sinta pun naik ke motor, dan Dito langsung melajukan motornya.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentar