
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
" Ish, manja banget." Ejek Sinta.
" Jangan ingkar janji, dosa tahu." Ledek Raja.
" Iya, iya .." jawab Sinta malas, lalu mengikuti Raja di belakangnya.
" Sinta, kamu mau kemana?" Panggil Raka yang duduk di depan kelas.
" Dia mau mentraktir ku, jajan." Ucap Raja yang menoleh ke arah belakang.
" Kasian banget di jajanin sama cewek, gak punya duit ya?" Ledek Tomi sambil tertawa cengengesan.
" Eh, apa maksudnya?" Geram Raja yang langsung mencengkeram kerah baju Tomi.
" Raja, udah Raja. " Cegah Sinta yang menarik tangan Raja.
" Seharusnya tuh kamu, yang jajanin cewek. " Cibir Panji.
" Kalian gak tahu, apa-apa. Jadi gak usah nebak-nebak, dan urusi saja urusan kalian." Bentak Raja yang langsung menuntun tangan Sinta.
" Dasar, banci." ejek Raka dan suaranya terdengar oleh Raja.
Segera Raja menghampiri Raka, lalu memukul pipinya. Membuat Raka jatuh tersungkur ke lantai.
" Bukannya yang banci itu kalian? Beraninya main keroyokan." Kata Raja yang lagi-lagi ingin memukul Raka, namun tangannya langsung di cegah oleh Sinta.
" Raja, kenapa kamu emosian gitu sih?" Bentak Sinta.
" Dia, yang memulai duluan." Jawab Raja membela diri.
Kemudian para siswa berkumpul, melihat pertengkaran antara Raja dan Raka.
Raka yang tersulut emosi, pun kembali menghajar Raja.
Satu pukulan kembali dilayangkan olehnya, hingga mengenai pipi Raja.
Raja pun jatuh, dan bangkit lagi melawan Raka.
Teman-teman nya bukan memisahkan malah menyoraki. Hingga Sinta mencoba melerai, namun terkena pukulan di bagian hidungnya.
Entah pukulan dari siapa, yang jelas Sinta jatuh dan mengeluarkan darah di lubang hidung nya.
Tak pelak perkelahian pun terjadi, hingga mengundang guru yang melintas.
" Hey, hentikan..." Teriak Pak Azis yang merupakan guru BP di sekolah.
Kedua pun berhenti, dan saling melempar tatapan sinis.
__ADS_1
" Kalian berdua, ikut bapak." Perintah Pak Azis yang langsung berjalan mengikuti mereka.
Sinta meringis kesakitan, lalu di bawa ke UKS oleh teman-temannya.
" Kamu enggak, apa-apa?" Tanya Riska dan Ayu yang sudah tiba di UKS.
" Aku gak, apa-apa." Jawab Sinta seraya memegang hidung nya yang terlihat kemerahan dan biru.
" Sakit di bagian hidung ku " lirih Sinta yang terbaring di atas tempat tidur.
" Maafin kita, ya! " Kata Ayu yang memegang tangan Sinta.
" Iya, memangnya kalian salah?" Tanya Sinta.
" Ya enggak seharusnya, kamu jalan berdua dengan Raja. Kita-kita tahu, kalau Raja itu pembuat onar." Sesal Ayu sambil menundukkan kepalanya.
" Iya, enggak apa-apa. Toh uda kejadian, mau bilang apa?" Ucap Sinta.
" Besok-besok, kita bakal jagain kamu kok." Kata Ayu dan Riska penuh penyesalan.
" Enggak, usah." jawab Sinta malas.
" Loh, kok kamu gitu sih?" Sahut Riska.
" Aku gak bisa gaji kalian, jika terus menjaga ku." Balas Sinta.
" Ish, bukan soal bayaran. Tapi kita akan berusaha jadi teman yang baik buat kamu." Tekan Riska.
Sementara di ruang guru, terlihat Raka dan Raja sedang di interogasi. Keduanya berdiri menghadap pak Azis, dengan mengangkat kaki satu dan tangan memegang kedua telinga.
" Kalian tahu, kenapa bapak gak bisa menghukum kalian?" Bentak Pak Azis.
" Iya, " jawab mereka berdua serentak.
" Iya, karena kedua orang tua kalian sangat berpengaruh di sekolah ini." Jawab Pak Azis.
" Mau kalian pintar, ataupun bodoh gak masalah dengan sekolah ini. Yang jelas jangan pernah membuat keributan, karena akan membuat kesenjangan sosial pada siswa yang lain " jelas penuturan Pak Azis.
Keduanya hanya terdiam, baru kali ini Raja melawan Raka. Karena biasanya, dia hanya terdiam kala Raka mengejeknya.
Penampilan Raja memang terlihat urakan, tanpa di sangka ternyata ayah Raja adalah pemilik yayasan yang mendirikan sekolah.
Raka pun melihat ke arah Raja, jika ayahnya adalah kepala sekolah. Lantas kedudukan apa yang di jabat oleh orang tua Raja.
Hal itu hanya di ketahui oleh para guru, karena Raja menginginkan status nya tidak di ketahui oleh para siswa.
Hukuman masih berlangsung, ayah Raka pun melihat anaknya sedang di hukum.
" Apalagi yang kau perbuat?" tanya Ayah Raka yang bernama Anjasmara.
__ADS_1
Raka hanya terdiam tak menanggapi, dia sangat takut jika berhadapan dengan sang ayah.
Sebelumnya dirinya memang sering membully teman-temannya. Hanya saja tidak pernah ada yang melaporkan, karena takut dengan status ayahnya Raka.
Namun kali ini dia harus berurusan dengan Raja. Anjasmara begitu geram melihat tingkah Raka, dengan reflek tangannya menampar pipi Raka.
" Plak..."
Satu tamparan mendarat di pipinya yang putih, terlihat nyata warna merah membekas di pipinya.
Raja begitu terkejut, melihat kemarahan ayahnya Raka.
" Kalau sampai ayahnya Raja tahu kalian berkelahi, habislah riwayat karir ayah." bentak Anjasmara seraya melirik ke arah Raja.
" Maaf, maksud bapak apa?" tanya Raja yang merasa tersinggung.
Karena selama ini, Raja tidak pernah mengatakan siapapun kalau ayahnya adalah pemilik yayasan di sekolah.
" Sudahlah, kau hanya anak kecil. Jangan pandai mengadu pada orang tua mu." hardiknya.
" Maaf, aku bukanlah tukang pengadu. Hanya saja aku ingin dianggap sebagai siswa lainnya. Jadi tak perlu risau dengan kenakalan anakmu." ujar Raja.
" Kau hanya anak kecil, yang tidak tahu kekuatan dari ayahmu. Walaupun mereka tak menghiraukan mu, nyatanya di saat kau kesulitan mereka selalu naik ke permukaan. Untuk mengatasi semua masalah mu." tutur Anjasmara.
" Maaf, tapi setahuku aku tak pernah punya masalah dengan siapapun." jawab Raja.
" Kau pikir nilaimu bagus? Ada campur tangan ayahmu, di saat nilaimu jelek maka guru yang mengajar langsung di pecat." ujar Anjasmara.
Raja teringat dengan hadirnya guru-guru baru, di saat kenaikan kelasnya. Ternyata semua adalah kesalahannya, karena ulahnya para guru yang tak bersalah akhirnya di pecat.
" Aku tak menyangka dengan perbuatan papa," batin Raja meringis, dia sangat malu dengan perlakuan ayah nya.
" Pantas saja, guru bahasa Inggris di ganti dengan Marisa!" batinnya, padahal Raja suka sekali dengan bahasa Inggris. Hanya saja Raja sering sekali bolos sekolah, dan membuat nilainya menjadi jelek.
Datanglah Cakra buana, pria tampan bertubuh tegap. Walaupun sudah mempunyai dua anak yang sudah besar, namun penampilan masih terlihat muda.
Kedatangannya bukan karena masalah Raja, hanya ada laporan mengenai siswa berprestasi.
" Selamat datang, Pak!" sapa Anjasmara sambil menjabat tangan nya.
" Iya, " jawabnya sambil melihat ke arah Raja dan Raka.
Cakra buana mengerlingkan matanya, menatap anak bungsunya di ruang guru.
" Ada apa dengan mereka?" tanyanya.
" Aku tidak apa-apa, hanya saja aku sering bolos makanya di panggil." jawab Raja yang langsung berbalik dan meninggalkan ayah dan juga kepala sekolah beserta Raka.
Raka hanya terdiam, melihat pembicaraan antara ayahnya dan Raja. Dia sungguh bingung, sebenarnya siapa ayahnya Raja?
__ADS_1
-
Silakan like dan komentar ya