LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 66


__ADS_3

" Maksudnya, aku harus di sini selama enam bulan? " Sinta salah mengartikan penuturan dari Sulis.


" Di sini ada perawat, kamu gak usah repot-repot ngurusin Dito. " Sulis menggelengkan kepala, melihat kecemasan di wajah adiknya. " Semua keluarga Dito ada di sini, " ucap Sulis.


" Iya, aku hanya khawatir aja. " Sinta terlihat sedih.


Mereka pun sampai di depan kamar Dito, Sinta masuk terlebih dahulu. Dia memasang raut wajah sedih, dan terlihat tak bergairah.


Sinta berjalan menuju tempat tidur, dan duduk di bangku.


" Wajah kamu, kenapa? " tanya Dito yang bingung melihat wajah kekasihnya.


" Aku gak apa-apa, hanya ..., " ucapannya terhenti kala Sulis memotong pembicaraannya.


" Hanya khawatir sama kondisi kamu, " jawab Sulis meneruskan.


" Memangnya, ada apa dengan kondisiku? " tanya Dito seraya mengangkat kedua alisnya.


Sinta memang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Perasaannya sangat sensitif, kala mendengar penjelasan dokter.


" Kamu harus menjalani perawatan selama enam bulan, dan aku gak bisa menemani kamu. " Sinta terlihat bersedih, sambil memegang tangan Dito.


Sarah menganggap berita dari Sinta, merupakan keberuntungan baginya. Karena Dito akan menjalani perawatan selama enam bulan. Hal itu merupakan kesempatan untuknya, merawat Dito selama masa penyembuhan. Terlihat Sarah mengangkat sudut bibirnya, seraya tersenyum licik.


" Sinta, kamu harus memberi semangat kepada Dito. " Hasan menimpali. " Hubungan jarak jauh, bukan penghalang untuk kamu memberikan perhatian pada Dito. Terus memberikan support dan juga doa, " ujar Hasan.


" Ish, abang. Kenapa kamu memberikan support untuk Sinta. Padahal aku yang adikmu, seharusnya kamu membantu aku untuk mengambil hati Dito. " Sarah melihat sinis ke arah Hasan.


" Dit, kamu harus lekas sembuh. Kami akan segera melangsungkan acara pernikahan, " ucap Hasan. " Jadi kamu harus cepat sembuh untuk menghadiri acara pernikahan kami, " lanjut Hasan.


" Apa? Abang mau menikah? " Sarah terkejut mendengar berita dari Hasan.


" Iya, memang kamu gak di kasih tahu sama ayah dan ibu? " tanya Hasan dengan mengangkat kedua alisnya.


" Aku bukan terkejut, mendengar pernikahanmu. Aku hanya terkejut, kenapa harus berbesanan dengan gadis yang merupakan sainganku! " Sarah terus bergumam dalam hatinya. Sepertinya dia tidak rela, jika abangnya benar-benar menikah dengan kakaknya Sinta.


" Sarah ... " Hasan memanggil Sarah yang sedang melamun.


" Eh iya, Kak! " Sontak Sarah kaget mendengar panggilan dari sang abang.


" Bisa abang menginap, di rumah kalian? " tanya Hasan.


" Bisa, Bang! Nanti aku hubungi kak Salsa, agar merapikan kamar untuk Abang, " ucap Sarah.


" Iya sudah, sekarang kami mau ke kantin. " Hasan langsung mengajak Sulis, " ayo kita ke kantin, " ucap Hasan.


" Sin, kakak mau ke kantin. Kamu mau nitip gak? " tanya Sulis.


" Di sini makanan sudah banyak, " jawab Sinta.

__ADS_1


" Iya sudah, kami ke kantin dulu. " Hasan langsung menuntun Sulis.


" Eits, Kakak ... Jangan pegangan tangan, " teriak Sinta sambil memicingkan kedua matanya ke arah Hasan.


Hasan langsung melepaskan tangan Sulis, saat Sinta berteriak.


" Kalian cuma alasan mau ke kantin, padahal mau berduaan, bukan? " Sinta terlihat menatap sinis ke arah kakaknya.


" Sinta, kamu jangan kekanakan gitu. " Dito menegur Sinta.


" Kamu -- " Mulut Sinta langsung di tutup dengan telapak tangan Dito yang sebelah kiri.


" Iya udah, Kak! Kalian makan aja, " ucap Dito sambil mengibaskan tangan yang sebelah kanan.


Sulis hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah aneh adiknya. Sulis dan Hasan pun sudah keluar dari kamar rawat Dito.


" Kamu gak keluar, juga? " Sinta melihat ke arah Sarah.


" Maksud kamu, apa? " tanya Sarah mendengus kesal ke arah Sinta. " Apa kamu ngusir aku? " Sarah merasa tersindir dengan ucapan Sinta.


"Memangnya, kamu mau jadi obat nyamuk? " sindir Sinta.


Sarah terlihat kesal dengan sindiran Sinta, segera dia bergegas pergi meninggalkan Dito.


" Dit, aku mau ke kampus dulu! " Sarah dengan wajah cemberut pamit pada Dito.


Sarah pun keluar dari kamar Dito, wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah


" Aku sebal aja, sama calon adik ipar kakakku. " Sinta berceloteh ketus.


" Sarah, maksudmu? " tanya Dito


" Iya, siapa lagi? " jawab Sinta. " Dito, apakah temanmu hanya Sarah? " tanya Sinta dengan tatapan menyelidik.


" Banyak, memangnya kenapa? " tanya Dito


" Aku perhatikan, hanya Sarah yang sering berkunjung ke sini, " ucap Sinta dengan nada cemburu.


" Kamu, cemburu? " tanya Dito


Sinta hanya terdiam dia menjadi salah tingah, saat tebakan Dito ada benarnya.


" Kamu gak usah khawatir, aku lelaki sejati yang tidak akan berpaling ke lain hati. " Dito mencolek dagu Sinta.


" Ih, kamu genit! " Sinta langsung menggelitik perut Dito.


" Iya, iya ... udah, cukup! " Dito merasa kegelian.


Raja, Raka dan juga Gendis pun tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ke kamar Dito.

__ADS_1


LDR


" Sin, " panggil Gendis yang telah masuk ke dalam kamar Dito.


" Gendis, " ucap Sinta yang langsung menghentikan bercandanya dengan Dito.


" Kamu lagi jagain orang sakit, bukannya ngasuh anak Playground. " Raka terlihat menyindir Sinta, karena melihat mereka sedang bercanda.


" Maksudnya? " Sinta menyipitkan kedua mata nya melihat ke arah Raka


Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar rawat inap.


" Sin, kami mau jalan-jalan. Boleh, gak? Mumpung kita lagi ada di Inggris, " ucap Gendis yang merasa tidak enak hati pada Sinta.


" Iya kamu, jalan-jalan aja. " Sinta mengiyakan.


"Tapi kami gak enak sama kamu, " kata Gendis sambil memainkan jari-jarinya.


" Aku gak apa-apa, " jawab Sinta


" Kamu gak mau ikut? " tanya Gendis penuh harap.


" Sin, kamu ikut aja. Aku gak apa-apa kok, di sini sendiri, " ucap Dito.


" Aku di sini aja, nungguin kamu! " kata Sinta sambil menatap iba ke arah Dito.


" Kamu sebaiknya ikut mereka, nanti malam bisa tidur di sini lagi, " bujuk Dito.


Sinta melirik ke arah Raka, Raja dan Gendis. Sepertinya mereka ingin jalan-jalan menikmati kota Inggris.


" Baiklah, aku ikut kalian. " Sinta menyerah, mereka mengikuti permintaan Gendis.


" Besok kalau aku sudah membaik, baru kita jalan sama-sama, " ucap Dito


" Iya sudah, aku ikut kalian. " Sinta langsung berdiri dari tempat duduknya. " Aku pergi dulu, maaf aku tinggal dulu! " Sinta pamit kepada Dito.


Berat langkahnya untuk meninggalkan Dito, namun dia juga ingin menikmati suasana kota Inggris.


Mereka berempat pun pergi, menggunakan mobil milik Dito. Sebelumnya Dito telah menghubungi Jimmy untuk mengantar kekasihnya jalan-jalan.


Raka duduk di bangku depan, bersama Jimmy.


Sedangkan Raja, Gendis dan Sinta duduk bertiga di bangku belakang.


Sepanjang perjalanan, Gendis dan Sinta saling berbincang. Mereka menikmati pemandangan kota Inggris dari dalam mobil.


Raka pun mengajak Jimmy berbicara, agak sulit karena bahasa yang di gunakan oleh Jimmy adalah bahasa Inggris.


Untungnya Raja, sangat paham dengan bahasa Inggris.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentarmu guys.


__ADS_2