
Kemudian mereka telah sampai di pesawat, Sinta duduk di sebelah Gendis. Raka dan Raja duduk di belakang mereka. Semua hening saat pesawat akan terbang.
Selang delapan jam perjalanan, semua penumpang di bangunkan oleh pramugari.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." Sinta membuka kedua matanya.
"Raka, Raja bangun." Sinta membangunkan kedua temannya.
Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan antara ketiga teman Sinta.
Gendis merasa malu pada Raja, hingga akhirnya dia memisahkan diri dengan memesan taksi online sendiri.
"Raja, aku pulang sama kamu," panggil Raka sambil membawa kopernya.
"Gak biasanya Gendis malu kayak gitu, biasanya dia selalu cuek." Raka bergumam di dalam mobil.
"Mungkin kini Gendis sudah berubah, dan ingin merubah dirinya menjadi lebih baik," tutur Sinta.
"Andai saja mereka tahu, kalau aku di jodohkan oleh Gendis. Pasti mereka akan menertawakanku." Raja berucap dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah jalanan.
"Raja, kamu ngelamunin apa?" tanya Sinta seraya menepuk pundak Raja. Raja memilih duduk di depan, karena tidak ingin duduk di samping Sinta.
"Ah, aku hanya memikirkan anak-anak panti." Raja berkilah mencari alasan agar Sinta tak lagi menanyakan soal Gendis padanya.
__ADS_1
"Oh iya, aku juga kangen sama Nindi. Sejak Dito menuduhku berselingkuh denganmu, aku tak lagi menengoknya." Sinta mengerucutkan bibirnya.
"Apa! Kalian berselingkuh?" celetuk Raka.
"Kamu jangan alay, aku bilang hanya di tuduh. Jadi jangan membesar-besarkan suatu masalah." Sinta menatap malas ke arah Raka. Wajahnya memang tampan, tetapi tidak di sikap dan cara berpikirnya. Raka tidak bisa menjaga image ketampanannya. Sikapnya ceroboh dan belum dewasa.
"Nindi, sepertinya aku pernah dengar!" Raka sedang berpikir.
"Kamu pernah ke panti milik Raja," jawab Sinta.
"Oh, jadi panti itu milik Raja?" tanya Raka mengulang.
"Iya," jawab Sinta.
"Minggu depan, kita main ke panti, yuk!" ajak Raka.
"Ya sudah, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Raka bersemangat.
"Raka, kamu jangan lebay gitu. Ini hanya acara keluarga, belum ada pesta. Nanti kalau ada pesta, pasti aku menyuruhmu untuk menjadi tukang cuci piring." Sinta menjelaskan
Raja hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan antara Sinta dan Raka. Sejenak dia bisa melupakan perasaannya terhadap Sinta.
Mungkin lebih baik, perasaan suka terhadap Sinta harus di pendam. Itu akan merusak hubungan pertemanan mereka. Biarkan Raja mencintai Sinta dalam diam, agar semua menjadi baik-baik saja.
__ADS_1
Mobil pun sampai di rumah Raka, karena rumah Raka yang pertama di lewati oleh taksi online.
"Aku duluan, ya! Raja, tolong jaga Sinta, antarkan sampai depan rumahnya." Raka berucap sembari turun dari mobil.
"Raka, aku bukan anak kecil yang harus di antar sampai depan pintu," ucap Sinta seraya menyipitkan kedua matanya ke arah Raka.
Terlihat Raka tersenyum dengan menarik pipinya ke atas.
"Da,da, Cantik!" ucap Raka seraya mengedipkan satu matanya dan langsung menutup pintu mobil.
"Huft, abis makan apa sih Raka?" tanya Sinta seraya menghela nafasnya.
"Abis kena angin London, makanya dia jadi aneh gitu," jawab Raja menimpali.
"Oh, kalau kena angin London, jadi aneh gitu ya, Mas?" tanya supir taksi online yang diam sejak tadi.
"Ckckck..." Sinta tertawa kecil mendengar penuturan supir taksi online.
"Raja, kamu sudah hampir sampai di rumahmu," ucap Sinta yang duduk di bangku belakang.
"Aku nganterin kamu dulu," jawab Raja.
"Lah, nanti kamu malah harus balik lagi."
__ADS_1
"Enggak apa-apa, bukannya pesan Raka kalau aku harus mengantarmu sampai depan pintu."
Raja sambil menoleh ke arah belakang. Dia masih gugup jika harus bertemu pandang dengan Sinta. Padahal sikap Sinta biasa saja terhadapnya.