
"Iya, dia papa tiri ku." Gendis menjawab seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan nya.
Sinta pun melihat Gendis dengan tatapan mengiba. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kasus pelecehan seksual seperti ini.
" Apa langkah mu selanjutnya?" tanya Sinta
" Aku akan melaporkan nya ke polisi," ucap Gendis penuh penegasan.
" Bagaimana dengan ibumu?" Sinta memberikan pertanyaan pilihan, karena yang telah melecehkan Gendis adalah papa tirinya
" Aku sudah memikirkan nya, yang pasti ibuku akan syok mengetahui kelakuan anaknya," ucap Gendis penuh penyesalan.
" Baiklah, aku akan membantumu." Sinta memberi semangat untuk Gendis.
" Aku akan melaporkan ke pihak berwajib, " kata Sinta yang langsung mengambil ponselnya.
" Apa kau sudah siap, menanggung semuanya?" tanya Sinta meyakinkan Gendis.
" Iya, aku sudah muak dengan laki-laki itu." Gendis terlihat emosi.
Sinta segera menghubungi pihak berwajib, dan juga ibu Gendis.
Sementara Anggita tidak bisa di hubungi, karena sedang melakukan seminar di luar kota.
Tapi Sinta sudah mengumpulkan bukti-bukti kekerasan di tubuh Gendis.
" Sinta, terima kasih." Gendis langsung memeluk tubuh Sinta seraya kedua matanya sudah berurai air mata.
Dia tidak menyangka jika Sinta tidak marah atas kelakuan nya selama ini. Dia baru menyadari, ada teman yang setulus dan sebaik Sinta.
Karena selama ini semua teman Gendis hanya memanfaatkan nya.
Sinta memapah Gendis untuk keluar dari kamar. Mereka berjalan menuju anak tangga, untuk turun ke lantai satu.
Raja yang melihat Sinta sedang memegang Gendis, segera berlari menuju lantai dua.
Dia dengan langkah cepat, menaiki setiap anak tangga.
" Aku bantu, " ucap Raja yang kini berada di sebelah Gendis.
Gendis berjalan di rangkul oleh Raja, dia merasa nyaman berada pelukan Raja.
' Kenapa aku baru tahu, kalau Raja adalah pemuda yang baik dan perhatian. ' Suara hati Gendis, dia terlihat mengulas senyum bahagia.
Sesampainya di lantai satu, mereka menghampiri Raka yang sedang menjahili Bram
" Aku sudah lapor polisi, kita tunggu saja penyelidikan lebih lanjut." Sinta berdiri di sebelah Raja
" Gendis, apa kau tidak takut pada mamamu?" Bram mengancam Gendis.
" Aku tidak takut, yang aku takutkan jika nanti mamaku akan terkena penyakit kelamin. Karena kau sering berkencan dengan banyak wanita." Gendis melihat Bram dengan tatapan mengejek
" Apa kau tidak malu dengan teman-teman mu di sini? Hah?" Bram berucap dengan nada mengancam. "Bisa saja mereka menyebar berita jika kau sudah gak perawan," ejeknya.
__ADS_1
Gendis melihat ke arah Sinta, Raja dan Raka.
" Aku percaya pada mereka," ucap Gendis penuh penekanan, "mereka anak baik, gak mungkin menyebar berita tentang aku!" Gendis menatap penuh kebencian ke arah Bram.
" Iya, mana mungkin aku menyebarkan gosip seperti itu. Lagi pula akulah orang paling depan yang akan bersaksi tentang kejahatan mu pada Gendis," ucap Raka dengan lantang sambil membusungkan dada nya.
Sinta hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, melihat sikap Raka yang seperti sok jagoan.
Sinta merasakan mempunyai pengalaman baru, dalam pertemanan nya. Sinta berpikir jika kehidupan di Yogyakarta akan aman dan tentram. Ternyata pergaulan di sini sama seperti di Jakarta. Sinta salah menduga, yang dirinya terlihat polos harus melihat tuyul tanpa busana.
Sinta bergidik ngeri saat melihat laki-laki di hadapannya sedang duduk dengan tangan terikat ke belakang. Sungguh pengalaman yang tak biasa untuk Sinta hari ini.
" Gendis, sebaiknya aku buatkan makanan sembari menunggu pihak kepolisian." Sinta langsung bergegas ke arah dapur.
Sementara Raja keluar rumah, untuk melaporkan pada pihak keamanan.
" Raka, terima kasih. " Gendis mengulurkan tangannya
" Gendis, apa kamu gak takut jika di bikin malu oleh cecunguk ini?" umpat Bram sambil menatap sinis ke arah Raka.
" Hey, diam kau!" bentak Raka. "Jangan kira kau adalah orang dewasa, lantas aku takut padamu?" ejek Raka
" Gendis mana lakban, aku gak tahan sama mulutnya yang kayak perempuan." Raka langsung mencari lakban di laci lemari hias.
Raka terlihat kesal dengan kicauan Bram, dia terus mengeluarkan suara yang menyindir Raka.
"Di dalam kamar ku, di laci meja atas." Gendis memberitahu lakban.
" Ini dia," ucap Raka seraya mengambil lakban berwarna silver. "Kayak di film-film."
Kemudian Raka mencari gunting, agar mempermudah memotong lakban untuk menutup mulut Bram.
Setelah di temukan, Raka langsung berlari menuju lantai satu. Lagi-lagi Raka meledek Bram, dengan menggoyangkan gunting.
" Akan aku tutup mulut mu yang seperti burung kakatua," umpat Raka yang langsung membuka lakban.
Bram melawan dengan cara menendang kaki Raka.
" Akh ..." pekik Raka yang terjatuh ke lantai.
" Rasakan," ucap Bram dengan senyum kepuasan.
" Hey, sudah berani melawan ya?" Raka segera bangkit dan membuka lakban, lalu memaksa Bram untuk diam. Setelah menahan dengan kedua kakinya, Bram terkunci di kedua paha Raka.
Segera Raka menutup mulut Bram, dengan lakban lalu mengguntingnya.
" Mmphh..." Bram memberontak.
" Dasar kucing garong!" Raka terus saja mengumpat.
Sementara Sinta sedang menyiapkan hidangan makan sore. Dia lupa menghubungi Sulis, jika belum pulang ke rumah.
Segera dia mengambil ponselnya, dan menghubungi kakaknya
__ADS_1
'Assalamu'alaikum, Kak!"
' Wa'alaikum salam, '
' Kak, aku masih di rumah teman. Ada keperluan sedikit, nanti aku kabarin di rumah.'
' Rumah siapa? '
' Rumah Gendis, masalahnya sangat genting. Jadi aku belum bisa pulang, karena harus menemaninya dulu. '
' Ya sudah, jangan malam-malam pulangnya. '
' Iya, assalamu'alaikum. '
' Wa'alaikum salam*. '
Sinta langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku baju.
" Sinta, kamu masak apa?" tanya Gendis yang menghampiri Sinta.
" Aku masak nugget, sama sosis. Enggak apa-apa ya, kalau aku masak?" tanya Sinta seraya tangannya menggoreng nugget.
" Aku belum masak nasi," jawab Gendis.
" Dimana berasnya, " ucap Sinta.
" Biar, aku saja. " Gendis langsung mengambil panci stainless magic com.
Setelah mencuci beras, Gendis memasukkannya ke dalam magic com.
" Nunggu sebentar gak apa-apa, 'kan? " tanya Gendis.
" Iya, " jawab Sinta.
Sinta sedang membakar sosis di grill pan, lalu mengoles nya dengan mentega.
Setelah matang, dia menaruhnya di atas piring ceper lalu menatanya dengan rapi. Kemudian dia menuangkan mayones dan saus sambal.
" Gendis, maaf. Aku mengambil bahan makanan mu di kulkas, " ucap Sinta yang sudah membawa sepiring sosis jumbo dan nugget.
" Wah, enak nih! " Raka meledek ke arah Bram.
Dia mengambil setusuk sosis jumbo, yang sudah di balur saos dan mayones.
" Hmmm, mantap ..., " ledek Raka sembari menyodorkan sosis ke hadapan Bram.
Bram hanya berdecak kesal, karena telah di ledek oleh bocah ingusan.
" Raja mana? " Sinta mencari keberadaan Raja.
" Belum balik dari tadi, " jawab Raka.
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1