
Raja pun kembali berpikir tentang Sinta, ada perjanjian apa antara Sinta dan papanya?
"Sebaiknya hal ini aku bahas setelah masalah Gendis selesai," gumam Raja.
***
Pagi pun tiba, Raja mengecek ponsel miliknya.
'Ja, apakah sudah kamu laporkan ke polisi?'
Ternyata pesan dari Dito.
'Raja, untuk seminggu ini aku sedikit sibuk. Jadi aku tidak dapat menghubungi mu dengan cepat. Setidaknya nanti aku balas pesanmu saat aku memegang handphone.'
Pesan dari Terry
Raja kembali mengscroll pesan sampai chat terakhir. Ternyata Sinta tak mengirim pesan untuk nya.
'Kak, ternyata kak Risma rajin dan pandai. Kami di ajari belajar oleh kak Risma.'
Nindi melaporkan pesan untuk Raja.
Raja merasa lega, jika anak-anak panti menerima keberadaan Risma. Tapi lagi-lagi dia cemas jika saja Feri mengetahui persembunyian Risma. Pasti akan membuat celaka anak-anak panti. Tapi secepatnya Raja akan membuat Feri masuk ke dalam sel.
"Raja, ada yang ingin papa sampai kan." Cakrabuana memanggil Raja yang baru saja turun dari kamar nya.
"Kalau bahas soal Gendis, aku gak bisa!" jawab Raja dengan nada ketus.
"Bukan," jawab Cakrabuana. "Cepat kesini, lalu ikut sarapan." Cakrabuana melambaikan tangan ke arah Raja
Raja pun datang menghampiri Cakrabuana, lalu duduk di kursi makan.
__ADS_1
"Makanlah, agar kau kuat menghadapi pelajaran nanti di sekolah," ujar Cakrabuana.
Raja bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba saja baik kepada nya.
"Ada apa papa memanggilku?" tanya Raja.
"Sebenarnya papa tidak setuju kamu menikahi Gendis," ujar Cakrabuana
"Lalu?" tanya Raja singkat.
"Papa hanya takut foto yang di berikan oleh Gendis tersebar." Cakrabuana terlihat muram dan bersedih.
"Tenang saja, aku akan mengatasi semua nya." Raja mulai menyantap makanan nya, lalu menghabiskan nya.
"Aku berangkat," pamit Raja seraya mencium punggung tangan mama dan papanya.
Cakrabuana dan istrinya terkejut, saat melihat Raja menjadi anak yang santun.
"Tidak, ini nyata. Sepertinya Sinta telah mengubah gaya hidupnya." Cakrabuana melihat kepergian Raja.
Sementara Sinta tidak masuk sekolah, dikarenakan dia sakit. Sinta sakit maag, karena dia lupa makan. Pikiran nya terlalu sibuk memikirkan urusan orang lain.
Raja telah sampai di sekolah nya, dia begitu sangat bersemangat untuk menceritakan hal yang dilakukan kemarin.
Bel telah berbunyi, terlihat bangku Sinta masih saja kosong.
"Raja, Sinta kemana?" tanya Ayu seraya menoleh ke arah belakang.
"Aku gak tahu," jawab Raja.
"Bukannya kamu dekat sekali dengan Sinta?" tanya Riska.
__ADS_1
"Siapa yang bilang?" tanya Raja dengan nada ketus.
"Ish, gitu aja sewot!" ujar Riska seraya mengerucutkan bibirnya.
Pelajaran pun dimulai, Raja ingin sekali mengirimkan pesan kepada Sinta. Ingin menanyakan tentang kabar Sinta yang tidak masuk ke sekolah. Tetapi pelajaran pak Taufik sungguh menguras pikiran nya, tak ada waktu untuk sekedar melihat ponselnya.
Karena hari ini pak Taufik mengadakan ulangan harian matematika.
Selesai mengerjakan ulangan, Raja bergegas ke toilet.
Segera dia mengirim pesan kepada Sinta.
'Sinta, kamu kenapa gak masuk?'
Pesan dari Raja belum terbaca, karena masih ceklist satu.
Sementara Sinta kini berada di klinik bersama dengan Sulis.
"Kak, perutku sakit banget!" keluh Sinta seraya memegang perutnya.
"Sabar, sebentar lagi juga nama kamu di panggil." Sulis membantu mengelus perut Sinta.
"Makanya, banyakin makan jangan pikiran!" Sulis meledek Sinta.
"Ish, kakak! Orang lagi sakit begini masih aja di ledek."
"Sinta, kamu boleh perhatian sama orang. Tetapi kamu juga harus memperhatikan diri kamu sendiri." Sulis menasehati Sinta.
Sinta hanya terdiam mendengar nasihat Sulis.
Jangan lupa untuk like dan komentar
__ADS_1