
Selang setengah jam, kemudian Dito dan Raja memberitahu Sudirja.
"Apakah kalian mendapatkan informasi?" tanya Sudirja
"Mereka tidak ada yang punya cctv," kata Dito dengan raut wajah kecewa.
Raja memang membangun rumah panti di area kampung kumuh. Hingga tak ada satupun rumah yang memiliki kamera cctv.
"Baiklah, aku akan mengambil foto perusakan yang dilakukan oleh Ferdi." Sudirja langsung mengeluarkan ponselnya, untuk mengambil gambar seluruh isi ruangan yang sudah porak-poranda.
Sementara di tempat lain ada Ferdi yang sedang bersama Risma.
"Pak, maafkan aku." Risma meminta maaf kepada Ferdi karena sudah melarikan diri dari bisnisnya.
"Kau tahu Risma, jika saja gadis itu berhasil membuatku masuk penjara, pasti semua bisnis ilegal yang aku miliki akan ketahuan oleh pihak kepolisian. Pastinya aku akan mengalami banyak kerugian," kecam Ferdi sambil mencengkeram lengan Risma.
"Iya, tapi semua bukan sepenuhnya salahku. Kalau saja Gendis tidak berteman dengan gadis itu, pasti semuanya tidak akan kacau." Risma mencoba mencari pembelaan.
Ferdi sengaja menculik Risma karena hanya dia saksi kunci satu-satunya untuk menjebloskan dirinya ke penjara. Ferdi tak ingin usaha ilegal yang dia bangun selama ini harus hancur hanya karena Sinta telah melaporkannya ke polisi.
__ADS_1
Sementara Sinta telah berhasil menegakkan tubuhnya untuk duduk. Karena tangan dan kakinya diikat hingga menyulitkan dia untuk bangun.
Terdengar suara kaki melangkah mendekati pintu. Sinta langsung menoleh ke arah pintu, memastikan jika ada orang yang ingin masuk kedalam ruangan tempat dia di sekap.
Ceklek...
Pintu pun terbuka, terlihat seseorang masuk ke dalam ruangan.
Sungguh terkejut Sinta saat melihat seorang gadis berpakaian sekolah masuk ke dalam ruangan.
"Gendis ..." kaget Sinta dengan wajah terkejut.
Gendis hanya terdiam dan berjalan menghampiri Sinta. Dia pun merendahkan tubuhnya sejajar dengan Sinta.
Sinta hanya mampu menggelengkan kepalanya, menandakan jika dia ingin memberontak dan ingin berbicara.
"Maaf, ya! Aku tidak ingin kamu menggagalkan semua rencanaku," ucap Gendis dengan seringai licik.
"Kamu harus tahu, kalau aku sangat menyukai Raja. Jadi aku tidak ingin kamu menghalangi rencanaku untuk menikah dengan Raja." Gendis menarik jilbab Sinta, hingga membuatnya menjadi mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Mmmppp..."Sinta mencoba memberontak, dan ingin melawan Gendis. Namun tidak bisa karena kedua tangannya diikat ke belakang.
"Oh, kamu mau ngomong?" tanya Gendis dengan mengulas senyum sarkasme.
Sinta hanya bisa menggelengkan kepalanya menandakan agar Gendis segera melepaskannya.
"Aku tinggal dulu, mungkin ini terakhir kali kita akan bertemu. Karena besok, kamu akan dikirim ke Hongkong."
Gendis langsung pergi meninggalkan Sinta yang sedang duduk di lantai.
"Apa yang dimaksud Gendis, aku akan di kirim ke Hongkong?" pikir Sinta bertanya dalam hatinya.
Seketika otaknya mendapat jawaban dari pernyataan Gendis.
"Apakah aku akan dijual? Ah, tidak mungkin."
Sinta terlihat menggelengkan kepalanya tak percaya jika dirinya akan bernasib seperti yang ada di film-film.
Sinta sering sekali menonton drama thriller dan penculikan. Lalu dia teringat dengan salah satu judul film tentang penculikan gadis yang akan dijual keluar negeri. Dan para korban dijadikan sebagai budak pemuas nafsu laki-laki hidung belang.
__ADS_1
"Tolong," ucap Sinta berteriak dalam hatinya. Teriakannya tidak akan terdengar oleh siapapun, hanya saja Sinta mencoba menenangkan dirinya agar bisa berpikir untuk lolos dari penyekapan.
Silakan berikan komentar dan like