LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
30


__ADS_3

" Mpmmmm.." terlihat Melly dengan mulut tertutup lakban berwarna silver.


" Kak..." Dito langsung menghampiri Melly yang terikat di bangku di dalam kamar.


Terlihat Stefan yang mencoba melarikan diri, namun di halangi oleh dua orang security.


" Jimmy, kau urus pria itu. " teriak Dito sambil melepaskan ikatan tali di bagian tangan Melly.


Melly membuka lakban di mulutnya, lalu memeluk adiknya dengan erat.


" Dito, kakak takut." tangis Melly histeris, dan memeluk Dito dengan erat.


" Maafkan kakak, yang tidak mendengar ucapan mu." kata Melly yang masih menangis.


Dito melihat kamar Stefan yang begitu berantakan. Ada alat suntik beserta obat-obatan yang tergeletak di atas meja.


Sungguh terkejut Dito, saat melihat ada alat kontrasepsi yang terletak di atas kasur. Dia memegang bungkusan berwarna pink, denganll000ppp? gambar stroberi.


" Apa yang akan dia lakukan padamu?" geram Dito yang langsung menghampiri Stefan.


" Kau ingin melakukan apa, pada kakakku." bentak Dito sambil mencengkram leher Stefan.


" Kau pun tahu, kalau memegang alat itu fungsinya untuk apa?" ejek Stefan memancing amarah Dito.


" Bugh..." satu pukulan di layangkan ke pipi Stefan.


Sudut bibir Stefan mengeluarkan darah segar, berwarna merah pekat. Dia tidak bisa melawan karena di pegang oleh security apartemen.


" Pengecut, kalau berani satu lawan satu." ejek Stefan sambil meludah ke arah Dito, " Cuih.."


Saat Dito akan memukul Stefan, dihalangi oleh Jimmy


" Tuan, sebaiknya kita bawa ke kantor polisi." kata Jimmy yang menahan tangan Dito.


" Cepat, kau urus laki-laki bajingan ini. Jangan sampai dia membawa korban lainnya." kata Dito .


Dito langsung berjalan menuju kamar mandi, ingin membersihkan ludah yang di semprotkan oleh Stefan.


" Dito." panggil Melly yang berdiri di depan kamar mandi.


" Kau, sudah tidak apa-apa?" tanya Dito yang telah mengelap wajahnya dengan handuk kecil.


" Aku sudah lebih baik, sebaiknya kita pulang." kata Melly.


" Nona, anda akan dimintai keterangan." kata security yang menghampiri Melly.


" Baik, Pak. Nanti kami akan menyusul ke ruang pos security." kata Dito.


Melly membersihkan wajahnya, dan mengikuti langkah Dito.

__ADS_1


" Dito, darimana kau tahu kalau aku ada di sini?" tanya Melly yang berjalan di sebelah Dito.


" Hal itu tidak penting, untuk di bahas saat ini." kata Dito dengan wajahnya yang dingin.


Dia begitu kesal dengan Stefan, namun juga dengan Melly. Andai saja dia menuruti ucapan Dito, mungkin tidak akan terjadi hal-hal yang akan merenggut kesucian kakaknya.


Mereka telah sampai di pos security, dan Melly mulai menjelaskan kronologi kejadian dari awal.


Kebetulan polisi yang bertugas malam hari, sedang berpatroli. Jadi Stefan langsung di bawa ke kantor polisi terdekat.


Dito dan Melly pun pulang, sedangkan Jimmy kembali ke rumahnya.


" Terima kasih, Jimmy." kata Dito yang telah masuk ke dalam mobilnya.


Melly tidak pernah menjelaskan kepada teman-teman nya, jika Dito memiliki asisten yang juga tampan.


Melly pun tidak di perbolehkan oleh Dito, untuk memamerkan bisnis dan usahanya. Sehingga akan membuat aman kehidupan Melly, dan pastinya teman-temannya haruslah menganggap mereka seperti orang biasa saja.


" Iya, Tuan." kata Dito, " Oh iya, mulai besok kau berpindah tugas menjaga Kak Melly. Sepulang kuliah, kau baru kembali ke kantor." pesan Dito.


" Baik, Tuan." kata Jimmy.


Lalu Dito pun menutup kaca jendela, dan pergi meninggalkan Jimmy yang masih berdiri di parkiran apartemen.


" Apa? Kamu, menyuruh Jimmy buat ngawal kakak?" kaget Melly saat mendengar penuturan Dito.


" Semua demi kebaikan mu, Kak." kata Dito dengan ekspresi wajah yang datar.


" Kau boleh main, kemanapun kau suka." jawab Dito.


" Tapi, dengan mengajak Jimmy?" kata Melly penuh penekanan sambil memutar kedua bola mata nya.


" Iya, " jawab Dito.


" Ish, " kesal Melly sambil tangannya bersedekap ke dada.


" Apa masih kurang pelajaran hari ini?" tanya Dito yang ingin membuat sadar sang kakak.


Melly hanya terdiam tak menjawab pertanyaan dari Dito. Dan waktu menunjukkan pukul lima pagi, mobil Dito pun sudah terparkir di garasi.


Dito langsung menuju kamar nya, dan membersihkan diri. Walaupun tidak tidur semalaman, tapi dia harus bertanggung jawab pada sekolah nya.


Dito bergegas menuju kamar mandi, dia berendam di bathtub air hangat. Sambil menyandarkan kepalanya, perlahan langsung memejamkan kedua matanya. Menikmati sensasi aroma dari lilin terapi.


***


Sinta


" Raja, lihat itu." kata Sinta sambil menepuk pundak Raja. Posisi mereka masih berboncengan naik motor.

__ADS_1


" Apa?" tanya Raja yang langsung memundurkan badan nya.


" Bukankah itu, Nindi?" tanya Sinta, yang melihat Nindi sedang mengamen di pinggir jalan.


Raja langsung menepikan motor nya, saat Sinta mengatakan melihat Nindi.


" Dimana?" tanya Raja.


" Itu, dia mau ke kafe." kata Sinta sambil menunjukkan jari nya ke arah kafe di belakangnya.


" Aku akan ke sana." kata Sinta yang langsung turun dari motor, dan masih mengenakan helm.


" Sinta, aku cari parkir dulu." teriak Raja.


Sinta tidak mendengar, dia hanya fokus melihat gadis kecil usia enam tahun sedang membawa botol berisi beras.


Sinta hampir kehilangan jejaknya, karena suasana kafe yang cukup ramai.


Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat ke setiap sudut. Tak juga nampak gadis kecil berambut keriting gantung.


" Nindi, kamu di mana?" gumam Sinta yang masih melangkahkan kakinya mencari keberadaan Nindi.


Kemudian dia berjalan ke arah bangunan di sebelah, dan langkah nya terhenti. Kala melihat gang sempit, yang terdapat dua orang laki-laki menutupi gang sempit itu.


Sinta mengamati sepasang kaki kecil, yang berhadapan di depan dua laki-laki berbadan tegap.


Perlahan Sinta melangkahkan kakinya, mendekati dua pria yang membelakangi nya.


Melalui celah dari badan dua lelaki berpenampilan lusuh, Sinta melihat wajah Nindi sedang ketakutan sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


" Nindi..." panggil Sinta.


Sontak dua lelaki kekar itu menoleh ke arah Sinta secara bersamaan.


" Siapa kau?" tanya lelaki berkulit hitam legam yang langsung memutar tubuhnya menghadap Sinta.


" Kalian, mau malak gadis kecil itu?" Cibir Sinta sambil menyipitkan kedua matanya, berlagak sok berani padahal hatinya sangat takut.


" Apa urusannya sama kamu, gadis cantik?" ucap lelaki bertubuh tegap dan agak tambun dengan perutnya yang membuncit.


" Dia, adikku." kata Sinta sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Nindi


" Apa, adik?" cibir lelaki preman berkulit legam.


" Dia ponakanku, yang hilang dua bulan yang lalu. Namanya Nindi, dan gak mungkin dia adik kamu." kata laki-laki bertubuh tambun.


Sinta melihat uang yang di berikan Nindi, di pegang oleh lelaki bertubuh tambun.


Kemudian kedua matanya melihat ke arah dua lelaki di hadapannya. Berpikir rencana apa, yang akan dia lakukan untuk membebaskan Nindi.

__ADS_1


Silakan like dan berikan vote untuk karyaku.


__ADS_2