LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
31


__ADS_3

Jangan lupa klik like dan masukkan ke list favorit mu ya.


Sinta mundur selangkah, karena kedua pria di hadapannya mulai maju mendekati nya.


Seperti biasanya, Sinta mengambil ancang-ancang ala karate. Dengan tangan di kepal yang satu ke depan dan yang lain di tarik ke arah wajahnya.


Kedua pria di hadapannya, nampak senyum mengejek melihat gaya Sinta.


" Nona cantik, memang kamu berani sama kami?" ucapnya dengan senyum mengejek.


Sinta terus memundurkan langkahnya, dan terhenti kala ada seseorang di belakangnya.


Sinta pun menoleh, " Raja..."


" Kamu masih saja, sok berani seperti kemarin." sambung Raka, yang berada di belakang Raja.


" Raka?" kata Sinta, " Panji?"


" Kalau mau reuni, jangan di sini." bentak pria berkulit hitam.


" Heh, bapak-bapak. Kenapa kalian gak nyari duit aja sih, buat keluarga kalian?" Cibir Raka yang maju selangkah, dan kini berada di depan Sinta. Sambil menarik lengan bajunya, dan menggulung nya Raka mengambil ancang-ancang ala Bruce Lee.


" Ciat..."


Kedua pria di hadapannya bingung, melihat sikap Raka yang sok jagoan.


" Kalian, bocah ingusan." ejek salah satu pria dan langsung maju menghampiri Raka.


" Bugh...!" satu pukulan di layangkan dari tangan Raka, dan mengenai perut lelaki kekar di hadapannya.


Kemudian menyusul, Panji dan juga Raja yang maju dengan membawa sebatang balok sepanjang 50 cm. Kedua pria itu di pukuli, dan ditarik ke luar dari gang sempit.


" Ampun..." suara mereka meminta tolong.


Raka dan Raja serta Panji membawanya ke pinggir jalan. Sinta langsung menghampiri Nindi, yang terlihat ketakutan.


" Kamu, enggak apa-apa?" tanya Sinta yang langsung memeluk Nindi.


" Gak apa-apa, Kak." jawab Nindi.


" Ya udah, kita pulang yuk!" ajak Sinta sambil menuntun tangan Nindi


Terlihat dua pria yang memalak Nindi, sudah babak belur. Dan ada satpam kantor, yang mengamankannya.


" Tolong, Pak. Bawa mereka ke pihak yang berwajib, karena telah memalak anak di bawah umur." kata Sinta sambil menatap sebal ke arah dua lelaki kucel di hadapannya.


" Nindi, tolong pak lek." kata lelaki bertubuh tambun.


Nindi terlihat ketakutan, dan berlindung di belakang Sinta.

__ADS_1


" Nindi, apa benar dia pak lek kamu?" tanya Sinta yang berlutut mensejajarkan tubuh nya dengan Nindi.


Nindi pun menganggukkan kepalanya, namun terlihat rona ketakutan di wajahnya.


" Kenapa kamu bisa ngamen?" tanya Sinta dengan tatapan menyelidik.


" A-ku di paksa ikut pak lek, sewaktu beli Pampers untuk adek Kansa." aduk Nindi pada Sinta.


" Oh, jadi kamu di culik?" Sinta menyipitkan matanya ke arah pak lek Nindi.


" Kalau kamu menculik Nindi lalu memberi makan serta mengasuhnya, itu gak apa-apa. Tapi kamu malah menyuruhnya mengamen, dasar pemalas." geram Sinta dengan wajah yang kesal.


Pak lek Nindi hanya menundukkan kepalanya, merasa malu dengan sikapnya.


" Kamu mau di penjara, atau berubah?" tanya Sinta.


" Maaf, aku gak akan mengganggunya lagi." katanya sambil menunduk.


" Tapi aku gak percaya, soalnya diakan preman pasar sini." celetuk Panji yang telah mengenali pak leknya Nindi.


Seketika pak lek Nindi langsung mengangkat kepalanya, dan melotot ke arah Panji.


Panji langsung memalingkan wajahnya, ketakutan melihat kedua mata pak lek Nindi.


Akhirnya mereka berdua di bawa oleh pihak kepolisian. Karena kebetulan ada polisi datang, saat melihat banyak kerumunan.


" Kamu jangan takut lagi, ya. Pak lek mu sudah di bawa ke kantor polisi. Mungkin catatan kejahatan nya sudah banyak." kata Sinta sambil tersenyum.


" Iya udah, sekarang kita pulang." ajak Raja.


" Ayo Nindi, kakak antar ke panti." kata Sinta sambil menuntun tangan Nindi.


" Raja, aku boleh ikut?" tanya Raka yang menarik tangan Raja


" Boleh. " jawab Raja


Panji dan Raka pun mengikuti Raja di belakangnya. Mereka berjalan, menuju parkiran kafe yang jaraknya 50 meter.


" Bos, katanya Sinta sudah punya kekasih. Tapi kenapa dia selalu bersama Raja?" bisik Panji yang berjalan di sebelah Raka.


" Ini akan aku selidiki, siapa tahu Raja berbohong." balas Raka sambil menoleh ke arah Panji.


" Dan, siapa anak itu?" tanya Panji sambil memperhatikan Sinta bersama Nindi.


" Sudahlah, kau jangan banyak bicara. Sebaiknya kita ikuti mereka. " Kata Raka.


Mereka telah sampai di parkiran, dan menaiki motornya masing-masing.


Raja pun membonceng Sinta dan juga Nindi, berjalan terlebih dahulu. Selanjutnya di susul Raka dan Panji.

__ADS_1


****


" Sin, sudah jam lima lewat. Apa kamu nanti akan di marahi oleh kakakmu?" tanya Raja, yang sudah menghentikan motornya.


Mereka sudah sampai di depan panti, dan anak-anak sedang berkumpul di ruang depan.


" Aku rasa akan di marahi, tapi aku akan terima kok." kata Sinta yang sudah turun dari motor.


" Raja, tempat apa ini?" tanya Raka yang berdiri di sebelah Sinta.


" Ini panti, tempat anak-anak yang di tinggalkan oleh orang tua mereka. Ada yang hanya mampir, dan sore akan pulang ke rumah masing-masing." kata Sinta menjelaskan.


" Panti ini punya, siapa?" tanya Raka.


" Punyaku." jawab Raja.


" Sinta, sebaiknya kita pulang." kata Raja sambil melihat jam di dinding.


" Anak-anak, kakak pulang dulu. Kalian kalau mau keluar, harus dengan orang yang besar. Dan kalau butuh sesuatu, langsung telpon kakak ya." kata Sinta, " Nanti akan kakak berikan ponsel, jadi akan mempermudah kalian untuk memberikan informasi ke kakak." kata Sinta menjelaskan kepada anak-anak panti.


" Iya, kakak." jawab anak-anak serentak


Kemudian Sinta pamit kepada anak-anak, dan Raka serta Panji juga pamit pulang.


" Raja, bisakah kau belikan handphone untuk mereka?" tanya Sinta dengan suara yang keras. Karena mereka sedang naik motor berboncengan.


" Bisa." jawab Raja sambil memundurkan badan nya.


"Bisa kau pinjamkan uangmu, bulan depan aku ganti jika ayah mu membayarku." kata Sinta.


" Anak-anak panti itu urusan ku, bukan urusan mu." kata Raja, " Dan untuk handphone, aku akan membelikan. Agar aku tidak kecolongan lagi dalam menjaga mereka." kata Raja.


Hati Sinta pun merasa lega, dan dia senang bisa membantu anak-anak panti.


Sesampainya di rumah, Sulis belum juga sampai. Kemudian Sinta langsung masuk ke dalam rumah, dan pintu tidak terkunci.


" Loh, kok gak di kunci?" tanya Sinta yang sudah membuka pintu.


" Sin, aku balik dulu ya!" ucap Raja dengan nada suara yang pelan.


" Iya, terima kasih." sahut Sinta.


Sinta melihat sudah ada Sulis yang duduk di ruang tamu, bersama kedua orang tua mereka.


" Sinta, kok kamu baru pulang?" tanya mama Sinta.


" Mama, kok gak ngabarin mau datang ke sini?" kaget Sinta melihat ayah dan mamanya sudah sampai di Yogyakarta.


- Silakan like dan berikan vote mu, jangan lupa kasih komentar ya.

__ADS_1


__ADS_2