
Dito
Dito kembali mendapatkan pesan dari sang kekasih. Seperti nya, dia harus menjelaskan soal Raja pada Sinta.
" Maaf Sarah, aku mau menelpon dulu." kata Dito meminta ijin pada Sarah.
" Iya, silakan." kata Sarah.
Kemudian Dito langsung beranjak dari duduknya, dan keluar dari rumah Sarah. Dito akan menghubungi Sinta, dan kini dia berada di halaman rumah Sarah.
" Assalamualaikum..." terlihat senyum keceriaan di wajah Sinta. Ucapan salam yang begitu semangat, membuat Dito tersenyum sendiri.
Sarah sedang memperhatikan Dito dari arah jendela. Terlihat senyum kebahagiaan, saat Dito menghubungi sang kekasih.
Wajah yang dingin, berubah menjadi teduh dan hangat. Selaras dengan wajah tampan miliknya, membuat hati para gadis luluh akan senyumannya.
Sayangnya senyuman hangat itu, hanya untuk kekasihnya. Sarah harus mengurungkan niatnya, untuk mendekati Dito.
Seperti nya cinta Dito pada kekasih nya, amatlah besar.
" Wa'alaikum salam " jawab Dito.
" Kamu masih marah sama aku?" tanya Sinta di sambungan telepon seluler
" Aku, gak pernah marah sama kamu." jawab Dito.
" Terus, kenapa kamu gak pernah jawab telpon dariku? Balas chat dariku?" tanya Sinta.
" Aku hanya sedang sibuk, di tambah lagi akan praktek magang." jelas Dito.
" Oh, apa aku sekarang mengganggu mu?" tanya Sinta
" Enggak, aku malah seneng bisa nelpon kamu. Ngerjain kamu tuh susah, bikin aku tambah rindu aja." goda Dito.
" Ish, jadi kamu cuma ngeprank aku?" kesal Sinta.
" Iya, tapi aku gak sanggup lama-lama diemin kamu.' ungkap Dito.
" Lalu bagaimana dengan Raja? Apa kamu masih cemburu?' tanya Sinta.
" Raja, sudah ku percaya untuk menjagamu.'" kata Dito yang mulai menjelaskan tentang Raja.
" Kejadian kemarin?" tanya Sinta.
" Iya, aku hanya tidak ingin berlama-lama denganmu. Jadi aku sengaja membuat rencana itu. Aku hanya tidak ingin meninggalkan mu, dengan perpisahan yang menyedihkan. " kata Dito.
" Ih, kamu jahat. Ninggalin aku dengan rasa bersalah." kesal Sinta.
" iya maafin aku, aku salah ninggalin kamu dengan sikap seperti itu. Apa kamu sudah menerima coklat dan bunga dariku?" tanya Dito.
Sarah mendengar kan Dito memberi hadiah pada kekasihnya. Langsung bergetar hatinya, sungguh romantis Dito saat bersama dengan kekasihnya.
Sarah menyandarkan kepalanya di jendela, agar dengan mudah mendengar percakapan Dito dan kekasihnya.
__ADS_1
" Sudah, coklatnya di makan Kak Sulis. Dan mawarnya sudah layu." kata Sinta.
" Iya enggak apa-apa, besok aku belikan kebun mawar untuk mu." kata Dito menggombal.
" Jangan, aku gak sanggup merawat mereka. Mau mandi sore aja aku sering malas." canda Sinta.
" Oh, jadi kamu gak pernah mandi sore?" Ledek Dito dengan seulas senyum di bibirnya. Nampak rona kebahagiaan terpancar dari raut wajahnya yang handsome.
" Sungguh lelaki idaman." puji Sarah dari balik jendela, saat melihat senyum kegembiraan di wajah Dito.
" Nanti Raja akan menjelaskan tentang usahaku, aku mohon kau mulai belajar untuk mengelolanya." pesan Dito.
" Apa? Aku harus mengelola keuangan?" kaget Sinta.
" Iya, aku percayakan semuanya padamu." kata Dito.
Kemudian mereka pun mengakhiri pembicaraan, dengan mengucapkan salam.
Dito pun memasukkan ponselnya di dalam kantong jaketnya. Lalu dia masuk ke dalam rumah Sarah.
Saat melihat Dito telah mengakhiri percakapan nya, dia segera bergegas menuju tempat nya belajar.
Segera dia merapikan rambutnya yang sempat berantakan, karena menyandarkan kepalanya di jendela.
Dito pun masuk ke dalam rumah, dan melihat Sarah sedang memegang pensil juga buku.
" Sarah, apa kah ada yang belum kau mengerti?" tanya Dito.
" Tok, tok, tok..."
Terdengar suara ketukan pintu rumah, " Sebentar ya Dit, aku lihat dulu." Kata Sarah yang langsung bangun dari duduknya.
Sarah berjalan menuju pintu rumah, lalu membukanya.
" Sarah, apakah ada tamu?" tanya Salsa yang masuk dengan seorang laki-laki.
" Kak, kakak..." panggil Sarah yang mencegah Salsa untuk masuk ke dalam.
" Ada apa sih?" tanya Salsa yang menghentikan langkahnya saat melihat Dito.
" Dito?" kaget Salsa melihat kehadiran Dito saat dia sedang memeluk Stefan.
Dito hanya memandang dingin Salsa dan Stefan. Kemudian dia melanjutkan lagi melihat ke layar laptopnya.
" Di-to, maafkan aku." kata Salsa yang berdiri di depan Dito.
Dito tak bergeming, dia masih fokus melihat ke arah laptop nya.
" Kak, sudah sana. Aku sedang belajar dengan Dito, jangan ganggu kami." kata Sarah yang menarik tangan Salsa dan menyuruhnya ke kamar.
" Dan kau Stefan, sebaiknya pulang." kata Sarah.
" Kenapa, aku harus pulang?" kata Stefan sambil menatap sinis Dito, " Aku akan membalas pukulannya, kemarin." kata Stefan yang ingin menghampiri Dito.
__ADS_1
" Jangan membuat keributan di rumahku." kata Sarah mencegah langkah Stefan.
" Kau memang pantas di pukul, agar tidak sembarang melecehkan wanita." geram Dito yang akhirnya membuka suaranya.
" Salsa, sebaiknya kau jaga diri. Jangan mau di lecehkan oleh lelaki hidung belang seperti dia." ucap Dito sembari matanya melotot ke arah Stefan.
" Apa katamu?" kata Stefan yang ingin memukul Dito.
" Stefan, cukup." bentak Salsa yang langsung mendorong tubuh Stefan.
" Oh, jadi kau lebih membela dia daripada aku?" tanya Stefan sambil menunjuk jarinya ke arah Dito.
" Aku bukan memilih dia, hanya saja dia telah memperingatkan ku agar aku berhati-hati." kata Salsa yang langsung pergi ke kamar nya.
Stefan langsung pergi dari rumah Salsa, sambil membanting pintu dengan keras.
" Brak...!"
" Maafkan, kakakku." kata Sarah yang masih berdiri di hadapan Dito.
" Tidak apa-apa, aku hanya mengingatkan dia agar jangan mendekat pada lelaki bajingan itu " kata Dito.
" A-pa yang di lakukan nya pada Kak Melly?" tanya Sarah ragu.
" Kau tak perlu tahu, cukup menjauh saja darinya." pesan Dito.
" Terima kasih." jawab Sarah yang kini duduk berhadapan dengan Dito.
Sarah semakin kagum dengan sikap Dito, yang melindungi dan menghargai wanita.
Terlebih lagi sikapnya terhadap sang kekasih, yang begitu lembut dan hangat saat berbicara di telepon.
" Sarah..." tiba-tiba Rossi datang tanpa mengetuk pintu.
Memang sudah kebiasaan bagi Rossi, saat pintu rumah Sarah tak terkunci dia langsung masuk ke dalam.
" Ka-mu ada tamu?" ucap Rossi gugup saat melihat Dito.
Rossi gadis keturunan bule Inggris, dengan rambut coklat muda dan kulit putih mulus.
Mereka masih berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Karena Rossi belum bisa bahasa Indonesia. Namun Sarah dan Rossi sudah berteman selama setahun, dan mereka berdua nyaman dan akrab.
Maafkan author yang tidak memasukkan bahasa Inggris.
" Rossi, kenapa kau tidak mengabariku jika mau datang ke sini?" tanya Sarah.
" Maaf, aku hanya sedang suntuk di rumah. Karena tak punya tujuan, maka aku langsung menuju rumahmu." kata Rossi yang sudah duduk di sebelah Sarah.
Rossi baru pertama kali berhadapan dengan Dito. Dia pun langsung terpesona saat melihat wajah Dito dengan jarak yang dekat.
Silakan like, vote dan berikan komentar.
Jangan lupa kasih hadiah untuk karya author dengan berikan poin hadiahnya.
__ADS_1