
" Hey, apa kabar?" tanya Rossi sambil menatap Dito dengan senyum manis.
" Baik." jawab Dito.
" Dit, soal pekerjaan yang kau tawarkan aku harus bagaimana?" tanya Sarah.
" Nanti aku kabari, jika aku sudah mendapatkan laporan keuangan dari Jakarta." kata Dito.
" Maaf, seperti nya pelajaran untuk hari ini aku sudahi." kata Dito yang telah mengajari Sarah tentang soal matematika dari gurunya.
" Ya, aku rasa cukup. Karena aku telah mengerti. Oh iya, soal Stefan dan kakak kun?" kata Sarah sambil menundukkan kepalanya.
" Tak usah kau pikirkan, aku bersyukur telah mengetahui identitas pria itu. Kini saatnya aku akan menjaga kakakku." kata Dito yang telah merapikan buku-buku nya, dan juga laptopnya.
Semua peralatan belajar nya di masukkan ke dalam tas.
" Aku pulang dulu." kata Dito yang pamit pada Sarah.
" Terima kasih." jawab Sarah yang mengiringi kepergian Dito.
Sarah membukakan pintu untuk Dito, dan melihatnya masuk ke dalam mobil nya.
Setelah kepergian Dito, Sarah pun masuk ke dalam rumah nya. Menghampiri Rossi, yang sedang duduk di sofa.
" Bagaimana hubungan mu, dengan Dito?" tanya Rossi, " Seperti nya, dia perhatian." ungkap Rossi.
" Aku baru saja mendengar, percakapan dengan kekasihnya. Seperti nya dia sangat mencintai nya, dan terlihat begitu romantis dari cara bicaranya. Apalagi senyum nya begitu manis, saat meledek kekasih nya. Aku jadi iri pada kekasih nya, mendapatkan pria Perfeksionis seperti Dito." ujar Sarah sambil membayangkan wajah Dito.
" Iya, aku juga terpesona dengan tatapan nya." ucap Rossi sambil melamun.
" Rossi, apa kau juga suka sama Dito?" tanya Sarah yang menyadari perkataan Rossi, jika dia juga tertarik pada Dito.
" Oh, " Rossi menjadi salah tingkah, dia merasa malu dengan ucapannya.
" Maaf, Sarah. Wanita mana, yang tidak terpesona dengan senyuman nya." kata Rossi yang memuji Dito.
" Oh, jadi kamu mau jadi saingan ku?" Sindir Sarah.
" Enggak mungkin lah, aku gak mungkin menjadi pagar makan tanaman." kata Rossi sambil mengelus lengan Sarah.
Mereka berdua memang terbiasa meluapkan isi hatinya. Hidup jauh dari orang tua, membuat Sarah merasa kesepian. Apalagi dia harus selektif memilih teman. Agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Di Inggris pergaulan bebas memang terlihat biasa. Namun hanya segelintir orang yang melakukannya. Selebihnya mereka taat dengan aturan hukum dan agama.
" Sarah, dia siapa?" tanya Rossi yang baru saja mengamati foto pria dalam figura foto di kamar Sarah.
" Dia, kakakku. Kakak tertua yang kini hidup di Jakarta. " kata Sarah yang melihat sosok Hasan di figura foto nya.
__ADS_1
Hasan adalah kakak Sarah yang pertama. Dia meminta ijin kepada kedua orang tua, untuk mengadu nasib di Jakarta.
Hingga sekarang sukses, menjadi orang kepercayaan bosnya. Dan mampu membiayai kuliah Salsa dan Sarah di Inggris. Walaupun mereka mengikuti jalur beasiswa, namun tetap saja harus membutuhkan biaya yang besar untuk hidup di negeri orang.
Dan Hasan mampu membiayai pendidikan kedua adiknya.
" Handsome, " puji Rossi.
" Iya, setelah menjadi orang kepercayaan bos, penampilan kakakku langsung berubah drastis. " kata Sarah, kemudian dia mengambil album foto yang selalu dia bawa saat akan kuliah di Inggris.
" Lihatlah, dia masih hitam dan kucel lagi." kata Sarah yang mengingat wajah kakaknya sewaktu masih lulus SMA.
" Aku bangga padanya, karena kegigihannya yang tidak pantang menyerah. Membuat kehidupan kami berubah drastis." kata Sarah memuji kakak sulungnya.
Setelah bercerita tentang masa lalu Sarah, mereka pun bersantai di ruang tamu menikmati cemilan yang di bawa oleh Rossi.
" Sarah, " panggil Salsa yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Iya, kak?" sahut Sarah.
" Apa, Dito akan mengadu pada Melly?" tanya Salsa.
" Seperti nya tidak, dia bersyukur telah mengetahui sifat Stefan. Jadi harus lebih hati-hati lagi, dengan pria yang mendekati Melly." jawab Sarah.
" Syukur lah, pastinya aku akan bilang sejujurnya pada Melly tentang hubungan ku dengan Stefan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara persahabatan kami." kata Salsa.
Dito telah sampai di rumahnya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Segera dia bergegas ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
" Merry, dimana kak Melly?" Tanya Dito sambil menyuap nasi dan tempe goreng.
" Sepertinya belum pulang, Tuan." Lapor Merry yang berdiri di belakang Dito.
" Dari kapan?" Tanya Dito.
" Dari pagi." Jawab Merry.
" Kemana dia?' gumam Dito sambil berpikir.
" Apa sebaiknya, aku telpon Tuan?" tanya Merry.
" Iya, coba kau hubungi." perintah Dito.
' Baik, Tuan." Kata Merry yang langsung bergegas mengambil ponselnya.
Karena Melly tidak menjawab panggilan dari Merry, segera dia menghampiri Dito.
" Tuan, tidak di jawab panggilan nya." lapor Merry.
__ADS_1
" Iya sudah, nanti biar aku saja yang menghubungi nya." kata Dito yang telah menghabiskan separuh makanan.
" Baik, Tuan." Kata Merry yang langsung pergi meninggalkan Dito.
Dito masih cemas memikirkan kakaknya, kenapa belum juga pulang saat jam menunjukkan pukul delapan malam.
" Apa yang sedang dia lakukan?" batin Dito yang sangat mengkhawatirkan Melly.
Melly belum juga pulang, saat jam menunjukkan pukul dua belas malam.
" Aku, harus menghubungi Salsa." kata Dito yang mengambil ponselnya.
" Berdering..." cukup lama Dito mendapatkan jawaban dari Sarah. Mungkin karena waktu sudah malam, dan Sarah juga sudah tertidur.
" Halo, Sarah." Segera Dito memanggil Sarah, saat sudah ada jawaban.
" Iya, Dit ada apa?" jawab Sarah sambil mengusap kedua mata nya.
" Apakah, kakakmu tahu keberadaan Melly? Maaf, mengganggu mu saat kau sudah tertidur."
" Oh enggak apa-apa. Sebentar, aku akan menanyakan kakakku." ucap Sarah.
Dito menunggu beberapa menit, karena Sarah sedang menuju kamar Salsa.
" Dit, kakakku mengatakan kalau Melly bertemu dengan Stefan. Saat Stefan pergi dari rumahku." Jawab Sarah
" Apa? Kau tahu nomor telepon Stefan?" Tanya Dito
" Aku tanyakan kakakku." Sarah menanyakan pada Salsa nomor telepon Stefan.
" Seperti nya tidak aktif." kata Sarah.
" Apakah kakakmu tahu dimana rumah Stefan?"
Tanya Dito.
" Stefan tinggal di apartemen, dan kakakku tidak tahu nomor apartemen nya. Karena tadi siang, dia hanya menunggu di mobil. Sedangkan Stefan masuk ke dalam apartemen." Jelas Sarah.
" Baiklah, bisa kau kirim alamat nya?" pinta Dito.
" Oke, aku akan kirim alamat apartemen nya."
Selang beberapa menit, Dito mendapatkan alamat apartemen milik Stefan. Tapi sebelumnya, dia harus mengecek GPS milik Melly. Kemarin dia mencoba melacak lewat email, dan berhasil.
Dito pun membuka linimasa dari maps google. Setelah di dapat, ternyata Melly berada di apartemen.
Dito yang panik sempat melupakan GPS yang di sadap kemarin, dari ponsel Melly.
__ADS_1
Segera dia menghubungi Jimmy, asisten pribadinya. Agar segera meluncur ke apartemen, yang alamatnya telah di berikan oleh Dito.
Silakan like dan berikan komentar mu