
Akhirnya setelah pulang sekolah, Risma merencanakan sesuatu. Dia mencegat Gendis di depan pintu gerbang.
"Dis!" panggil Risma yang menghadang Gendis dengan merentangkan kedua tangannya.
"Risma! Ada apa?" tanya Gendis yang telah menghentikan langkahnya.
"Aku..." ucap Risma ragu. Dia telah memanggil Om Feri untuk menjemput Gendis di sekolah. Dan mobilnya sudah berada di seberang sekolah. Risma mengalihkan perhatian, agar Gendis bisa masuk ke dalam mobil om Feri.
"Aku, kenapa?" tanya Gendis yang bingung melihat tingkah Risma.
"Dis!" Suara Sinta memanggil Gendis dari arah belakang.
"Ish, kenapa harus ada wanita sok alim itu sih!" gerutu Risma
"Ayo Dis, ikut aku!" Risma memaksa Gendis dengan menarik tangannya.
"Sebentar, aku ingin berbicara dengan Sinta." Gendis melepas tangan Risma.
"Dis, udah ayo gak ada waktu!" Risma memaksa Gendis dengan menarik tangan nya, lalu membawanya ke sebuah mobil sedan berwarna hitam.
Sinta curiga saat Risma memaksa Gendis, akhirnya dia mengikuti Risma.
Gendis di paksa masuk ke dalam mobil. "Om Feri!" Gendis terkejut, saat melihat orang yang di dalam mobil adalah om Feri.
"Hey, Sayang! Aku uda kangen sama kamu, apa kamu gak kangen sama aku?" Om Feri langsung menarik tangan Gendis.
__ADS_1
"Tolong..." Gendis berteriak namun Risma memaksanya masuk.
Sinta yang mendengar suara Gendis meminta tolong, langsung menghampiri mobil sedan berwarna hitam.
"Dis, kamu gak apa-apa?" Sinta mengetuk pintu kaca mobil.
"Ris, ada hubungan apa kamu sama om Feri?" tanya Gendis seraya memberontak ingin keluar, namun di himpit oleh Risma dan Om Feri.
"Dia mucikari, apa kamu gak tahu?" kata om Feri yang menahan tangan Gendis
"Sinta... tolong!" Gendis berteriak meminta tolong, tetapi mulutnya di bekap oleh om Feri.
"Buka, pintunya!" teriak Sinta sambil menggedor-gedor kaca mobil.
Mobil pun berjalan, dan Sinta tertinggal. Segera Sinta menuju sekolah untuk mencari bantuan.
"Raja!" panggil Sinta.
"Iya," jawab Raja.
"Bantu aku, kejar mobil sedan hitam di depan." Sinta langsung mengambil helm. Sebelumnya Sinta telah mencatat nomor mobil pemilik sedan yang menculik Gendis.
"Memang ada apa?" tanya Raja.
"Gendis di culik," jawab Sinta.
__ADS_1
Segera Raja memakai helmnya, dan menaiki motor nya. Sinta pun naik di belakang Raja, dan motor pun melaju meninggalkan sekolah.
"Kau tahu darimana Gendis di culik?" teriak Raja.
"Aku melihatnya, dia bersama temannya masuk ke dalam mobil sedan. Lalu Gendis berteriak minta tolong." Sinta menjelaskan.
"Yang mana mobilnya?" tanya Raja yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.
"Yang itu, aku ingat plat nomor nya." Sinta menunjuk ke arah mobil sedan di depannya.
Sementara Gendis sudah pingsan karena pengaruh obat bius, yang di berikan oleh om Feri.
"Om, aku turun di depan aja!" kata Risma sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah halte bus.
"Ini uangnya, terima kasih kau telah membawa gadisku." Om Feri memberikan amplop coklat berisi uang.
"Terima kasih, Om!" jawab Risma seraya menerima amplop, lalu mencium amplopnya.
Mobil pun berhenti, Risma di turunkan di depan halte bus.
"Dah, Om! Semoga puas ya!" Risma sudah turun lalu melambaikan tangan, sebagai salam perpisahan.
"Itu, temannya Gendis." Sinta memberi tahu Raja. "Kita ikuti aja mobil itu, pasti Gendis ada di dalam."
Raja pun mengikuti sedan hitam, yang telah meninggalkan halte bus.
__ADS_1