
"Kalau kamu baik, pasti akan mendapakan kekasih yang baik juga," jawab Sinta.
"Semoga aku bisa mendapatkan kekasih yang baik, seperti..." Gendis melirik ke arah Raja.
Sinta hanya tersenyum melihat Gendis sedang menyindir Raja.
"Kamu pasti bisa, mendapatkan hati Raja," bisik Sinta di telinga Gendis.
Gendis pun tersipu malu, saat Sinta mengetahui maksud dari Gendis.
Sesampainya di bandara, mereka membangunkan Raka yang tertidur lelap sejak berangkat dari rumah Dito. Raka sangat kelelahan, karena dia selalu berkeliling London pada siang hari.
"Ah, sudah sampai!" Raka merenggangkan tubuhnya. Dia duduk di bangku depan sejajar dengan Jimmy.
"Thank you Jimmy, semoga kita dapat bertemu lagi!" ucap Raka seraya menjabat tangan Jimmy.
Karena selama di London, Jimmy selalu setia menemani Raka mengelilingi kota.
"You're welcome," jawab Jimmy.
Jimmy pun pamit meninggalkan Sinta dan teman-temannya.
Mereka berempat menunggu pesawat di ruang tunggu. Raja memesan makanan fast food, karena perutnya sudah sangat lapar.
"Sin, aku mau beli burger. Kamu mau nitip gak?" tanya Raja.
__ADS_1
"Kamu kok, gak nawarin aku?" tanya Gendis sambil merajuk.
Raja mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan sikap Gendis.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Raja seraya menatap malas ke arah Gendis.
"Samain aja kayak kamu," jawab Gendis dengan suara manja
Akhirnya Raja bergegas menuju restoran cepat saji.
"Eh, aku lupa ngasih uang!" kata Sinta yang sudah menatap kepergian Raja.
"Biar aku aja," ucap Gendis menawarkan diri. "Pakai uangku, saja." Gendis langsung berlari ke arah Raja.
"Sepertinya si Gendis naksir Raja, ya?" tanya Raka yang mendekati Sinta.
"Masa kamu gak bisa lihat gelagat, Gendis?" tanya Raka menatap curiga ke arah Gendis.
"Aku bukan psikolog, dan bukan dukun!" Sinta memutar kedua bola matanya dengan malas.
Sementara Gendis sudah mendekati Raja, yang sedang mengantri makanan.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Raja dengan nada ketus.
"Sinta ingin menitipkan uang, tapi biar aku saja yang membayar." Gendis ingin mengeluarkan dompet.
__ADS_1
"Aku sudah bayar, dan hanya tinggal menunggu saja!" jawab Raja.
"Iya sudah, aku akan bantu kamu membawakan makanan." Gendis mengulas senyum ke arah Raja.
"Gak usah sok manis depan aku," ucap Raja dengan nada ketus.
"Memangnya kenapa?" tanya Gendis yang menatap lekat Raja, namun Raja memalingkan wajahnya.
"Aku mendengar curhatan kamu dengan Sinta, soal kamu menyukaiku."
"Lantas kamu--" ucapan Gendis terpotong. " Jangan harap, aku membalasnya!" jawab Raja tanpa menatap Gendis.
Seketika hati Gendis menciut, dia patah hati karena cintanya di tolak oleh Raja. Gendis menyadari, jika dirinya sudah bukan gadis lagi. Apalagi Raja telah mengetahui semuanya. Pastinya Raja akan menolak secara terang-terangan soal perasaannya.
Gendis nampak kecewa, dia segera berlari meninggalkan Raja.
"Gendis..." panggil Raja yang tanpa sadar telah menyakiti perasaan Gendis.
Raja menghela nafasnya, dia benar-benar tak bisa menjaga ucapannya. Hal itu karena dirinya sedang kalut, soal perasaannya pada Sinta.
Raka dan Sinta melihat Gendis yang berlari meninggalkan Raja. Sedangkan Raja terlihat menyusul Gendis.
"Ada apa sih sama mereka?" tanya Raka yang langsung berdiri.
Raka dan Sinta segera menyusul Gendis dan Raja.
__ADS_1
"Sin, pegang tanganku!" panggil Raka yang langsung mengulurkan tangannya.
"Raka, jangan lebay! Kita hanya mengejar Gendis, bukan di kejar oleh penjahat," ucap Sinta yang menepis uluran tangan Raka.