LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
50


__ADS_3

Waktu nya istirahat, usai bel berbunyi Gendis langsung berlari menuju kelas Sinta. Gendis ingin menemui Sinta, karena ada sesuatu hal yang ingin dia ceritakan.


" Raka, dimana Sinta?" tanya Gendis dengan nafas terengah-engah. Karena dia berlari kecil, dari kelasnya menuju kelas Sinta.


Raka menyuruh Gendis untuk duduk, agar bisa mengatur nafasnya." Duduklah, kenapa kamu berlari-lari?"


" Ada sesuatu yang ingin aku katakan, dan aku harus menemui Sinta, " kata Gendis dengan nafas yang sudah mulai teratur.


" Dia berada di kantin, bersama Riska dan Ayu," ucap Raka, lalu Gendis langsung berdiri dan berlari meninggalkan Raka.


" Tuh anak, ada apa ya?" Raka bingung dengan sikap Gendis yang tak biasa. Padahal Gendis sangat membenci Sinta. Atau jangan-jangan, Gendis akan melakukan hal buruk pada Sinta?


Raka segera berlari menyusul Gendis, menuju ke kantin.


Gendis mencari keberadaan Sinta, yang katanya Raka berada di kantin. Dia melihat ke arah meja panjang di hadapan nya.


Gendis hanya melihat Ayu, tanpa Sinta dan Riska. Segera dia menghampiri Ayu, " Yu, Sinta mana?"


" Gen-dis?" Ayu takut melihat Gendis menanyakan Sinta, dia tidak ingin Sinta menjadi bahan bully-an Gendis.


" Cepat, keburu masuk, " desak Gendis sambil mendorong pelan lengan Ayu.


Ayu merasa ketakutan, karena Gendis sering kali membully orang yang tidak disukai nya.


Ayu nampak ketakutan, " I-tu di tukang si-omay, " ucap Ayu dengan nada gemetar.


Gendis langsung menghampiri Sinta, yang sedang mengantri somay.


Ayu merasa cemas, jika Gendis melakukan hal buruk pada Sinta.


Gendis sudah berdiri di belakang Sinta, saat akan mencolek Sinta, tangannya langsung di tarik oleh Raka." Gendis, kamu mau ngapain Sinta?"


" Raka, aku ingin berbicara dengan Sinta," kata Gendis yang langsung menepis tangan Raka.


Sinta menoleh ke arah Gendis, " Gendis!"


" Sinta, kamu bisa ikut aku?" tanya Gendis yang sudah berdiri di hadapannya.


" Iya, " jawab Sinta mengangguk, lalu mengikuti langkah Gendis. Disusul Raka, yang mengikuti Sinta.

__ADS_1


Gendis mencari bangku kosong, yang berada di kantin. Gendis sudah duduk berhadapan dengan Sinta, begitu pun Raka yang berada di samping Sinta.


" Raka, bisa pesankan es teh manis?" pinta Gendis pada Raka." Dua gelas, tapi kalau kamu mau jadi tiga gelas. Ini uangnya," titah Gendis seraya memberikan uang lima puluh ribu kepada Raka.


" Ish, aku bukan pesuruhmu." Raka kesal dengan Gendis yang menyuruh seenaknya.


" Aku minta tolong, masa gak mau nolongin?" Gendis melirik ke arah Sinta.


" Iya, iya ... pakai uangku saja!" ucap Raka lirih, yang langsung berdiri dan berjalan menuju kedai minuman.


" Ada apa, Gendis?" tanya Sinta dengan mengangkat kedua alisnya.


" Aku minta nomor telepon mu, boleh?" tanya Gendis sambil mengeluarkan ponselnya.


Sinta langsung mengambil ponsel Gendis, lalu mengetikkan nomor nya.


" Maafkan aku, soal kemarin." Gendis meminta maaf, dia mengakui kesalahannya dan berharap Sinta dapat memaafkan nya


" Iya, aku sudah memaafkan mu, " jawab Sinta dengan hati yang tulus.


" Kemarin, aku ingin mengetahui keadaan mu. Tapi Raja mencegahku, untuk menemui mu." Sinta berbisik, tidak ingin pembicaraan nya di dengar oleh teman yang lain.


Raka datang, mereka menghentikan pembicaraan nya, lalu beralih ke topik lain.


" Ini tehnya, Nyonya," ucap Raka penuh penekanan seraya menatap sinis ke arah Gendis.


Gendis hanya tersenyum, dia sangat tahu jika Raka menyukai Sinta. Sengaja Gendis menyuruhnya untuk membeli teh manis, pasti gengsi jika Raka menerima uang dari Gendis di depan Sinta. Padahal setahu Gendis, Raka teramat pelit. Walaupun dia anak kepala sekolah, bukan berarti dia mempunyai banyak uang. Yang jelas, Gendis pernah melihat Raka di marahi habis-habisan oleh ayahnya, saat mentraktir teman-teman nya. Padahal saat itu, Raka ingin merayakan hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas, dengan cara mentraktir teman sekelasnya.


Raka membawakan tiga gelas es teh manis, dan menaruhnya di atas meja.


" Terima kasih, " ucap Gendis sambil tersenyum meledek ke arah Raka.


" Sinta, kamu mau makan apa?" Raka menyeruput es teh manis di hadapannya.


" Sin, kamu gak apa-apa?" Ayu terlihat panik dan berdiri di belakang Sinta.


Ayu dan Riska datang menghampiri Sinta, dengan membawa Raja.


" Hey, memangnya Sinta mau aku apain?" ucap Gendis bingung, dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" Aku pikir, kau akan membully Sinta. Makanya aku cepat-cepat memanggil Raja," kata Riska yang berdiri di sebelah Raja.


" Kamu gak apa-apa?" Raja bertanya pada Sinta.


" Aku gak apa-apa, Gendis hanya ingin berbicara dengan ku, itu saja!" kata Sinta sambil menoleh kan kepalanya ke arah Raja.


" Tenang Raja, sudah ada aku di sini. Kau tak perlu cemas dengan Sinta. Sinta juga bukan pacarmu juga, kan?" Raka menegaskan, agar Raja mengakui jika tak ada hubungan antara dia dan Sinta.


Raja malas meladeni Raka, akhirnya dia berbalik dan meninggalkan mereka berlima.


" Sin, kita mau balik bareng gak?" tanya Riska seraya menarik tangan Sinta.


" Ya, aku balik duluan ke kelas." Sinta pamit, dan meninggalkan Raka juga Gendis.


Ayu langsung menuntun Sinta, keluar dari kantin.


" Sin, kok Gendis bisa baik gitu sama kamu?" Riska bertanya sambil berjalan di sebelah Sinta. Mereka jalan beriringan menuju kelas.


" Dia mau minta maaf, dan aku maafkan, " jawab Sinta beralasan. Karena dia sudah berjanji pada Gendis untuk tidak membuka rahasia nya.


" Eh, tapi si Raka kok nanya kamu soal hubungan kamu sama Raja? Padahal kamu udah punya pacar, " sambung Riska bertanya, dia sangat penasaran dengan sikap Raja yang berubah setelah kehadiran Sinta di sekolah.


" Enggak tahu," jawab Sinta seraya menggelengkan kepalanya.


" Setahu aku, Raka emang suka sama kamu. Tapi apa dia belum tahu, kalau kamu sudah punya pacar?" tanya Ayu yang menghentikan langkah Sinta.


Ayu berdiri di depan Sinta, meminta jawaban soal Raka yang masih menyukai Sinta.


" Kalian, kerjaannya ngeggosip aja, " kata Sinta seraya menyingkirkan tubuh Ayu dari hadapannya.


" Ish Sinta, kamu pelit banget gak mau berbagi sama kita. " Riska merengek, bergelayut di lengan Sinta.


Sinta hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah dua temannya.


Mereka bertiga sudah sampai di kelas, lalu menuju tempat duduknya masing-masing.


Raja tidak ada di tempat duduknya, seperti ya dia masih menikmati detik-detik jam istirahat.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, jam istirahat pun berakhir. Seluruh siswa kembali ke kelas masingmasing. Terlihat Raja sudah memasuki kelas, dan Sinta berdiri untuk memberikan jalan Raja menuju tempat duduknya.

__ADS_1


Silakan like dan berikan komentar untuk karyaku


__ADS_2