LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Masih penasaran dengan Dita


__ADS_3

Raja melirik ke arah Dito, apa yang harus dia jelaskan kepada Sinta.


"Sin, besok aku jemput. Kamu harus bangun pagi-pagi, karena jalanan akan sangat macet. Karena besok hari senin." Dito mengalihkan pembicaraan agar Sinta tak lagi bertanya tentang Dita.


"Iya," jawab Sinta


"Tapi sebelum kita pulang, sebaiknya ke panti dulu. Aku ingin melihat kabar anak-anak dan juga ibunya Risma," ucap Sinta meminta kepada Dito


"Oke, aku akan mengantarmu ke panti." Dito menyetujui permintaan Sinta. Hal itu lebih baik daripada Sinta terus bertanya tentang Dita.


Dito akan sangat malu sekali, jika Sinta melihatnya memakai baju perempuan.


"Ah, iya. Saat tadi di kantor polisi, aku melihat ada seorang gadis yang begitu intens melihat kamu," ucap Sinta seraya menoleh ke arah Dito.


"Ah, mungkin itu hanya perasaan kamu saja." Dito merasa tak ada yang patut dicurigai tentang dirinya kecuali penyamaran sebagai Dita.


"Aku sempat berkenalan dengan gadis itu saat pergi ke toilet di kantor polisi," kekeh Sinta yang ingin mengetahui gadis yang tadi berbicara dengannya.


"Memangnya tadi kamu berkenalan sama seseorang? Kok aku gak tahu?" tanya Dito


"Iya, iyalah. Kamu kan gak masuk toilet perempuan," cibir Sinta.


"Memangnya ada apa?" tanya Dito yang menatapnya dengan pandangan cemburu.

__ADS_1


"Apakah dia yang kamu maksud Dita?" cecar Sinta seraya mengerucutkan bibirnya. "Jadi kamu merubah nama Rinjani menjadi Dita? Supaya aku gak curiga?" Suara Sinta terdengar emosi.


Dito semakin tersudut dengan tuduhan Sinta. Apa yang harus dia jelaskan tentang Dita? Padahal penyamarannya tidak boleh diketahui oleh orang-orang termasuk Sinta. Jika penyamaran Dito terungkap, dia akan menjadi target utama Ferdi. Ferdi akan menuntut balas pada Dito saat bebas nantinya.


"Sin, memangnya apa yang dikatakan Rinjani kepadamu?" tanya Raja mencoba mengalihkan perhatian emosi Sinta yang hampir meledak.


"Dia hanya memperkenalkan diri kepadaku, lalu bertanya hubungan ku dengan Dito." Sinta menjawab dengan nada emosi.


"Lalu kamu menjawab apa?" tanya Raja.


"Iya, aku jawab jujur kalau aku adalah tunangannya." Sinta berucap dengan nada emosi sembari menatap tajam ke arah Dito


"Iya, sudah. Bagus itu, apalagi yang harus kamu khawatirkan?" tanya Raja yang melihat Dito merasa tersudutkan.


"Kita sudah sampai," kata Dito yang telah memarkirkan mobilnya di pinggir.


Sinta masih terlihat kesal pada Dito, karena telah membohongi dirinya soal Dita.


Sinta pun keluar dari mobil dan berjalan menuju panti.


"Assalamualaikum," ucap Sinta memberikan salam saat akan masuk ke dalam panti.


"Wa'alaikumsalam," jawab Nindi seraya membuka pintu. "Kak Sinta," panggil Nindi begitu bahagia melihat kedatangan Sinta.

__ADS_1


Sinta langsung memeluk Nindi.


"Apa kabar?" tanya Sinta.


"Baik," jawab Nindi


Sinta melepaskan pelukan Nindi, kemudian dia berjalan masuk kedalam panti.


"Kak, ada yang ingin kami bicarakan." Alya mendekati Sinta


"Mau bicara soal apa?" tanya Sinta.


"Nak, terima kasih ya. Kamu sudah menyelamatkan Risma," kata ibunya Risma yang tiba-tiba datang memeluk Sinta.


Sinta terkejut saat mendengar penuturan ibunya Risma.


"Apa maksudnya ibu?" tanya Sinta


Dito dan Raja juga sangat terkejut mendengar penuturan ibunya Risma.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Risma keluar dari dalam kamar. Kemudian disusul dengan Gendis yang berada di belakang Risma.


"Gendis!" ucap Sinta menatap tajam ke arah Gendis.

__ADS_1


Silakan komentar ya


__ADS_2