
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
Sinta membuka perlahan paket, yang sudah berada di pangkuannya.
Terdapat pita berwarna putih, yang membalut kotak berwarna merah cabe.
Perlahan dia menggunting pitanya, dan membuka kardus nya.
" Coklat dan sekuntum mawar merah." lirih Sulis .
" Dari siapa? " tanyanya penasaran.
" Enggak ada nama pengirim nya, kak!" kata Sinta yang sudah mengangkat coklat dan bunga mawar.
" Ya udah, coklat nya buat kakak." kata Sulis yang langsung mengambil coklat di tangan Sinta.
Sinta masih bingung, dengan paket yang berada di tangan nya.
****
Raja
" Raja, mulai besok akan ada yang mengajarkan kamu belajar. " kata ayah Raja yang bernama Cakra buana.
" Aku pikir, ayah tidak akan perduli lagi padaku!" ketus Raja yang baru saja masuk ke dalam rumah, tanpa menoleh ke arah ayahnya.
" Raja, ayah sedang bicara sama kamu." panggil Cakra buana dengan nada tinggi.
Langkah Raja pun terhenti, dan segera dia menoleh ke arah ayahnya.
" Memang aku sebodoh itu, hingga harus di panggil kan guru privat?" tanya Raja dengan nada malas.
" Ayah hanya ingin, kamu bisa meneruskan bisnis milik ayah!" terang Cakra buana.
" Mulai kapan?" tanya Raja.
" Besok Minggu, dan ayah menyuruh nya datang ke rumah ini. Ayah harap kamu jangan berbuat ulah, dan buat dia nyaman untuk mengajarmu." pesan Cakra buana.
" Iya." jawab Raja yang langsung menuju kamarnya.
Segera dia mengganti bajunya dengan memakai kaos oblong, dan celana pendek.
Raja membuka ponsel nya, dan melihat banyak pesan dari para customer serta Dito.
Pesan yang pertama dia buka, adalah pesan dari Dito.
" Raja, Sinta mendapatkan tawaran untuk menjadi guru privat. Sebenarnya aku tidak ingin dia mengajar, dan aku bisa saja mengirim uang untuk nya. Namun sekali lagi, Sinta tidak suka menerima uang secara cuma-cuma. Apa kau bisa membujuk nya agar mengurus usaha milikku saja?"
Begitu panjang pesan dari Dito, biasanya dia hanya menanyakan perihal usaha nya. Apakah usaha nya berjalan dengan lancar, atau tidak?
Kemudian Raja membaca lagi pesan dari Dito, perihal Sinta yang akan menjadi guru privat.
" Sinta mau mengajar? Apa dia melamar jadi guru privat?" batin Raja sambil merebahkan dirinya di atas kasur, sambil menatap langit-langit rumah nya.
__ADS_1
" Aku masih mengkhawatirkan hidung nya, pasti sakit karena kena pukulanku kemarin?" gumam Raja.
Segera dia bangkit dari tidurnya, dan meraih Hoodie yang tergantung di belakang pintu.
Di pakai Hoodie dan juga topi berwarna hitam, dan mencari kunci motor di dalam laci.
Setelah menatap dirinya di cermin, dan merapikan penampilan nya Raja pun keluar dari kamarnya.
" Raja, kamu mau kemana?" tanya Cakra buana yang sudah memakai jasnya, ingin kembali ke tempat kerja nya.
" Mau, main." jawab Raja tanpa melihat ke ayahnya.
Kemudian dia langsung memakai motor gedenya, dan meninggalkan motor matic bututnya.
Deru mesin menyala, terdengar sangat bising di dalam garasi.
" Brrm, brrm..." dua kali dia menarik gas, dan memegang kopling lalu memindahkan gigi netral ke gigi satu. Secepat kilat dia melesatkan motor gedenya, menuju rumah Sinta.
Sepanjang perjalanan Raja memikirkan tentang alasannya, ingin melihat keadaan Sinta.
Dia bingung apakah masuk bertamu, atau hanya melihat nya dari kejauhan. Karena sejujurnya, dia sangat mengkhawatirkan Sinta.
Sebelumnya, dia membeli makanan untuk Sinta. Dia akan memikirkan cara mengasih nya, apakah di taruh di depan pintu atau masuk bertamu.
Raja membeli aneka cemilan kriuk, dan juga buah apel merah. Di motor nya sudah tergantung, dua bungkus buah tangan.
Segera dia menuju rumah Sinta, memantapkan hatinya untuk masuk bertamu.
Sesampainya di depan portal, Raja menghentikan motornya. Melihat keadaan rumah Sinta, yang terlihat sangat sepi.
Raja mulai mengatur nafasnya, lalu menyiapkan kata-kata untuk bertamu. Setelah dirinya yakin dan siap, Raja langsung menyalakan mesin motor. Segera dia menjalankan motor nya pelan-pelan, untuk meyakinkan hatinya.
Motor nya telah terparkir di depan rumah Sinta. Dia pun turun dari motor sambil merapikan jaket Hoodie nya.
Sambil menarik nafas, Raja melangkahkan kaki menuju depan pintu.
Tangan kanannya diangkat, ingin mengetuk pintu. Namun saat akan mengetuk, dia di kagetkan dengan suara wanita dari arah belakang.
" No Perfect365?" ucap suara yang tak asing di telinga Raja.
Raja segera membalikkan badannya, menghadap ke belakang.
" Sinta..." Lirihnya dengan suara kecil.
" Kamu, mau ngapain?" tanya Sinta dengan menatap sinis ke arah Raja.
" Ka-mu?" gugup Raja, " Aku, cuma mau mastiin keadaan kamu." ucapnya gugup.
" Aku, baik-baik saja." jawab Sinta sembari memalingkan wajahnya, " Eh tapi, jaket kamu kayak pernah aku liat." kata Sinta sambil memperhatikan jaket Hoodie milik Raja.
" Oh, jaket ini pasaran. Di Malioboro banyak." kata Raja mengelak, padahal jaket Hoodie yang di pakai adalah hasil karya design nya.
" Tapi...." ucapan Sinta terhenti, saat Raja memberikan bungkusan berisi buah dan cemilan kriuk.
__ADS_1
" Ini buat kamu, supaya hidung nya cepat sembuh." kata Raja.
" Terima kasih. " jawab Sinta yang menerima bungkusan dari Raja.
" Sin," panggil Raja saat Sinta akan membuka pintu rumah nya.
" Iya, " jawab Sinta yang langsung menoleh ke arah Raja.
" Apa kamu melamar jadi guru privat?" tanya Raja.
Raja telah di hubungi Dito sebelumnya, dia harus mencari tahu dengan siapa Sinta bekerja.
" Iya, lalu apa urusannya sama kamu? Aku bilang jangan deketin aku lagi, karena kamu hubungan ku dengan Dito jadi berantakan." ucap Sinta kasar.
Raja hanya menundukkan kepalanya, dia merasa telah menjadi kambing hitam. Tapi semua harus rela dia lakukan, demi membalas kebaikan Dito padanya.
Berkat Dito, Raja tak lagi meminta uang pada ayahnya. Dia menjadi mandiri saat di tawarkan bisnis oleh Dito melalui media sosial. Kala itu dia dan Dito tidak pernah bertatap muka, namun Dito sangat percaya padanya. Hubungan itu yang harus dia jaga, karena Dito telah membantu nya melepaskan diri dari ayahnya.
Semenjak tinggal bersama ayahnya, Raja menjadi orang yang sulit di atur. Karena ayahnya menginginkan Raja menjadi anak yang pintar, agar bisa meneruskan usahanya.
Sedangkan Raja punya cara tersendiri, untuk menentukan masa depannya.
Sinta pun masuk ke dalam rumah nya, dan menutup pintu dengan kencang.
" Brak..." Raja terlonjak kaget, saat pintu di banting oleh Sinta
Kemudian dia langsung pergi, dari rumah Sinta.
***
Sinta
" No Perfect365, sepertinya aku pernah melihatnya. " Sinta masih memikirkan jaket yang di pakai oleh Raja.
" Ah iya, dia orang yang nabrak aku sewaktu di kereta." Sinta mengingat lagi kejadian sewaktu di kereta.
" Dan dia lelaki, yang membangunkan ku saat di kereta?" gumamnya yang menaruh di atas meja bungkusan yang di berikan Raja.
Sulis sudah pulang bekerja, segera Sinta bangkit dari kasur untuk menghampiri nya
" Kak.." panggil Sinta yang berdiri di depan pintu kamar.
" Iya." jawab Sulis sambil membuka jilbabnya.
" Aku ada job, jadi guru privat matematika." kata Sinta seraya berjalan ke tempat tidur Sulis, Sinta langsung merebahkan tubuhnya.
" Ngajar, siapa?" tanya Sulis sambil membuka bajunya untuk di ganti dengan daster tangan panjang.
" Katanya anak ketua yayasan, aku belum tahu orang nya. Apa boleh aku mengajar?" tanya Sinta.
" Boleh-boleh aja, hitung-hitung buat nambahin uang jajan kamu. " kata Sulis yang duduk di sebelah Sinta.
" Baiklah, kak. Aku akan menghubungi pemilik yayasan." kata Sinta yang langsung bangkit dari tidurnya, lalu bergegas menuju kamarnya.
__ADS_1