LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Bab 64


__ADS_3

" Sin, Sinta ... " Dito mencoba memanggil kekasihnya yang sudah terbaring di sofa dengan membelakanginya.


Tiga kali Dito mencoba mengeraskan suaranya, namun tak juga di respon oleh Sinta.


" Pasti dia sudah tertidur, " gumam Dito sambil mengulas senyum.


Pacaran yang mereka jalani memang terbilang sehat. Hanya sebatas sentuhan tangan ataupun saling pandang. Karena Dito hanya ingin memiliki Sinta, dengan cara yang halal. Dia akan selalu menjaga kesucian kekasihnya, hingga menuju gerbang pernikahan.


Dito dengan rela membayar seseorang,  demi menjaga Sinta. Semenjak kejadian penculikan  bersama Rio tempo hari, Dito menjadi sangat protektif.


Sinta gadis berjilbab yang telah meluluhkan hatinya, dengan senyum termanisnya. Sinta yang mempunyai sifat polos dan selalu jujur dengan perasaannya, membuat Dito tertarik pada pandangan pertama.


Banyak sudah kejadian yang mereka berdua alami, namun kejujuran adalah kunci utama dari hubungan mereka.


*****


Pagi pun tiba, Sinta telah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Begitupun Dito, dia tak lupa menjalankan kewajibannya walaupun sedang sakit.


" Dit, masih sakit kepalanya? " tanya Sinta yang sudah duduk di sebelah Dito.


" Masih, di bagian sini! " kata Dito sambil menunjuk bibirnya.


" Ish, kamu kerjaannya ngeledek aku aja. " Sinta langsung mencubit kecil perut Dito.


Sinta tak lagi marah pada Dito, dia benar-benar melupakan candaan Dito semalam.


Saat mereka sedang bercanda, tiba-tiba muncul Sarah bersama Melly yang sudah masuk ke dalam kamar Dito.


" Ehem ... " Melly berdehem, menandakan kehadiran dirinya  dan Sarah di dalam kamar.


" Eh, Kakak. " Sinta langsung menghentikan candanya bersama Dito.


Sarah terlihat memalingkan wajahnya, ke arah yang berlawanan. Dia tak ingin terlihat cemburu, di hadapan Sinta dan Dito.


" Kalian, lagi ngapain? " tanya Melly seraya melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Dito.


" Sarah? " Dito melihat ke arah Sarah yang sedang berdiri di depan pintu. 


Terlihat jelas ekspresi kecemburuan, di wajah Sarah. Dito bisa melihat sekilas, walau Sarah mencoba menyembunyikannya.


Namun Dito mencoba menetralisir keadaan, di hadapannya. Dia tahu,  jika Sarah sedang patah hati. Tetapi Dito merasa tidak punya andil, dengan perasaan Sarah. Bukan salahnya, membuat Sarah jatuh cinta kepadanya. Dari awal Dito selalu menjelaskan, jika dirinya sudah mempunyai kekasih, yang kini menjadi tunangannya. 


Dito sangat mencintai Sinta, hingga rela menunggu hati Sinta menjadi luluh kala itu.


" Kak, " panggil Sinta yang mendekati Sarah.


" Eh, iya! " jawab Sarah sambil tersenyum canggung ke arah Sinta.


" Aku belum kenal sama kamu, dan kemarin pertemuan kita hanya sebentar. " Sinta langsung menuntun tangan Sarah dan berjalan menuju sofa.


Melly hanya menatap iba ke arah Sarah, karena dia sangat tahu jika Sarah menyukai adik kesayangannya.

__ADS_1


" Dit, ayah dan mama akan datang siang ini. " Melly memberitahu Dito.


" Oh iya, Kak. Biar nanti Sinta menginap di rumah ayah, " ucap Dito berpesan. " Aku gak tega dia harus tidur di sofa, " sambungnya sambil melihat ke arah Sinta yang sedang berbincang dengan Sarah.


Dito melihat ada senyum keterpaksaan,  di raut wajah Sarah. Sarah tidak benar-benar sedang mendengarkan Sinta. Karena sesekali tatapan matanya, melihat ke arah Dito.


" Kamu yang bilang sama Sinta, kalau sama kakak dia pasti gak mau, " balas Melly.


" Memangnya, Sinta akan berapa hari di sini? " Melly bertanya seraya menolehkan pandangannya ke arah Sinta.


" Aku belum nanya, " jawab Dito. " Tapi aku berharap dia akan lama menemaniku, " ucapnya sambil tersenyum.


Saat Dito tersenyum, terlihat kedua mata Sarah sedang tertuju ke arahnya. 


Sinta dan Sarah telah menyelesaikan perbincangannya. 


" Makasih ya, Kak. Kamu adalah orang pertama yang datang ke rumah sakit, melihat keadaan Dito. " Sinta berucap seraya menggenggam kedua tangan Sarah.


Sarah hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaan Sinta.


Sarah dan Sinta mengakhiri pembicaraan. Karena memang tidak ada bahasan, yang akan mereka perbincangkan.


Kemudian datanglah kedua orang tua Dito.


" Assalamu'alaikum, " sapa ayah Dito yang sudah masuk ke dalam kamar bersama mamanya.


" Wa'alaikumsalam, " jawab orang-orang yang berada di dalam kamar.


" Iya, enggak apa-apa, Yah! " jawab Dito.


" Sinta, apa kabarmu? " tanya mama Dito yang mendekati Sinta. Sinta sedang duduk di sofa bersama Sarah.


" Baik, Ma! " Sinta langsung mencium tangan mamanya Dito.


Mereka langsung berbincang sangat akrab, bagaikan ibu dan anak.


Mamanya Dito sepertinya sangat familiar dengan Sinta. Hal itu yang ada di dalam benak Sarah. Dia lupa, jika Dito dan Sinta sudah bertunangan. Pastinya pernah ada pertemuan antar dua keluarga.


" Hey, kamu siapa? " tanya mama Dito dengan suara yang lembut saat melihat ke arah Sarah.


" Sarah, Tante! " Sarah langsung mencium tangan mama Dito. Sarah melihat kecantikan yang belum pudar, di wajah mamanya Dito. Pantas saja Melly terlihat sangat cantik, begitu juga Dito mempunyai paras yang tampan seperti ayahnya.


Sungguh terlihat harmonis, hubungan kekeluargaan mereka.


" Sarah? " Mama Dito bertanya sembari mengerutkan keningnya.


" Kak Sarah, teman Dito. Dia yang menunggu Dito saat pertama kali di rumah sakit, " ucap Sinta menjelaskan.


" Sarah, darimana kamu tahu jika Dito masuk ke rumah sakit? " tanya mama Dito.


" Kebetulan nomorku, yang pertama kali di hubungi oleh ponsel milik Dito, " jawab Sarah.

__ADS_1


Mama Dito langsung menoleh ke arah Dito, dan langsung menghampiri ke tempat tidurnya.


" Dito, sebelum kecelakaan, apa yang sedang kamu lakukan? " tanya mama Dito menatapnya penasaran.


" Aku mencoba menghubungi Sarah, karena ada hal yang ingin aku bahas." Dito menjawab pertanyaan sang bunda.


" Sebaiknya, saat mengendarai mobil kamu harus menepikan nya apabila ada panggilan mendesak, " ucap mama Dito menasehati.


" Iya, Ma! " jawab Dito.


" Sin, bisakah kamu menginap di rumah , Mama? " Dito bertanya pada Sinta.


Sinta melihat ke arah mama dan ayah Dito.


" Iya, Sayang. Sebaiknya kamu tinggal tempat mama, " ucap mama Dito


Sarah begitu iri saat melihat keakraban antara Sinta dan mama Dito. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamar.


" Maaf, aku mau keluar dulu. " Sarah pamit dan bergegas keluar kamar.


Kemudian Sinta kembali berpikir. " Ma, aku datang bersama ketiga temanku. Dan aku merasa tak enak, jika hanya sendiri menginap di rumah, Mama! "


" Iya sudah, kamu bisa ajak teman-temanmu, ucap Mama Dito


" Berapa lama kamu berada di sini, Sayang? " tanya ayah Dito.


" Seminggu, Yah! " jawab Sinta.


" Baiklah, kami tunggu kedatanganmu. " Kedua orang tua Dito pun pamit, karena ada urusan bisnis yang harus mereka kerjakan.


Sinta mendapat panggilan dari nomor Sulis. Sinta segera berjalan menuju jendela. Dan dia langsung menjawa panggilan masuk dari Sulis.


" Assalamu'alaikum, " Sulis menyapa Sinta melalui sambungan telepon selulernya.


" Wa'alaikum salam. Iya, Kak! "


" Kakak sudah sampai bandara, kamu sekarang ada di mana? "


" Kakak sudah di Inggris? "


" Iya, kakak bersama Mas Hasan, "


" Oh, jadi kalian hanya berdua saja? "


" Sinta, bukan saatnya bercanda. Sekarang kakak tanya, posisi kamu lagi di mana? "


" Aku di rumah sakit English hospital, dan berada di ruang VIP Rose. :


" Baiklah, kakak akan segera ke sana! "


Silakan like dan komentar ya kakak.

__ADS_1


__ADS_2