
Sebelumnya author harapkan agar klik favorit dan tap like ya. Kalau kamu suka berikan vote dan hadiah bunga.
Happy reading
Raja menggandeng tangan Sinta, menuju motornya.
Kemudian Sinta melepas tangan Raja, lalu memarahi Raja.
" Aku belum tahu keadaan Gendis." Bentak Sinta yang menatap tajam ke arah Raja. Lalu Sinta membalikkan badannya, bermaksud ingin kembali ke dalam rumah Gendis.
" Apa, kau masih tidak mengerti dengan maksud Gendis tadi? Hah?" Tekan Raja seraya menahan tangan Sinta.
" Iya aku tahu, tapi aku hanya ingin memastikan Gendis baik-baik saja." Kata Sinta seraya menoleh ke arah Raja.
" Dia sudah cukup baik, menghinamu." Kata Raja dengan tatapan sinis dan penuh penekanan.
" Cukup Sinta, kebaikanmu tak pantas untuk manusia seperti itu." Kata Raja dengan nada emosi.
Raut wajah Raja terlihat memerah, karena emosi yang mulai membuncah. Dia tidak tahan, melihat Sinta di hina oleh Gendis.
" Sinta, kau terlalu baik. Dan kebaikanmu hanya untuk orang baik. Dia tidak membutuhkan kebaikanmu. Aku mohon, aku gak rela kamu di perlakukan seperti itu oleh Gendis." Kata Raja menatap sendu ke arah Sinta. Berharap secepatnya Sinta sadar, dan tidak lagi perduli dengan Gendis.
Sinta menunduk, seketika dia menitikkan air matanya.
" Aku hanya ingin menolongnya, dia punya masalah besar. Dia pasti punya alasan, kenapa bersikap arogan di sekolah. Aku berharap dia menjadi gadis yang baik." Kata Sinta sambil menyeka air matanya.
" Tapi itu bukan alasan yang tepat, dia sangat membencimu. Untuk apa kau menolongnya?" Ucap Raja agar Sinta bisa sadar. " Jangan membuang tenagamu, untuk orang yang sudah keras hatinya." Kata Raja sambil mengusap air mata Sinta.
Dari jauh terlihat Gendis, melihat Raja dan Sinta sedang beradu mulut. Dia tahu, jika Sinta ingin membantunya keluar dari masalah. Terlihat saat Sinta akan kembali ke rumahnya, namun di tahan oleh Raja.
Gendis melihat Sinta dan Raja, dari balik jendela rumahnya.
Ingin rasanya Gendis, mencegah Sinta dan Raja pergi dari rumahnya. Tapi hal itu dia urungkan, karena malu dengan semua perbuatannya kemarin.
Badannya masih terasa sakit, akibat penganiayaan yang di lakukan pria asal korea yang mengencaninya.
Biasanya Gendis selalu mencari teman kencan di media sosial, untuk bersenang-senang dan menambah uang jajannya.
Perilaku Gendis memang sudah di luar batas, karena memang dirinya tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Anggita telah bercerai, dari suaminya sejak setahun yang lalu.
__ADS_1
Suami Anggita memiliki wanita idaman lain, hingga memaksa mereka harus bercerai.
Hingga Gendis menjadi anak terlantar, dan memaksanya mencari belaian laki-laki hidung belang.
Gendis memang salah memilih jalan, namun hal itu semata-mata bukanlah kesalahannya.
Dia hanya gadis yang kurang perhatian, dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Di tambah lagi Anggita, yang sibuk dengan pekerjaannya. Dia jadi sering pulang larut malam, karena ingin melupakan masalahnya dengan sang mantan suami.
Hingga Anggita memutuskan menikah, dengan lelaki yang lebih muda darinya lima tahun.
Gendis sangat syok, saat melihat lelaki yang bersama ibundanya. Karena pria yang dia lihat, adalah pria yang sama dia kenal di media sosial. Dan pernah meniduri Gendis, saat itu.
Gendis sangat terpukul, dia merasa malu pada dirinya sendiri dan juga Sinta yang telah mengetahui pekerjaannya. Di tambah lagi sang ibu, yang menikah dengan pria yang pernah menidurinya.
" Gendis..." panggil Anggita yang telah berdiri di belakang Gendis.
Terlihat raut kemarahan di wajah Gendis, saat menoleh ke arah Anggita.
" Maafkan, Mama." ucapnya lirih sambil mendekati Gendis.
" Mama tidak kuat, untuk hidup sendiri." ucapnya lirih yang langsung memeluk Gendis. Anggita mengungkapkan isi hatinya, bahwa dia tidak sanggup hidup sendirian.
Anggita wanita normal, yang ingin di cintai laki-laki. Dan dia berhak memberi tahu anaknya, karena dia merasa Gendis sudah cukup dewasa untuk mendengarkan keluhan nya.
" Tapi bukan sama laki-laki itu, Ma." kata Gendis dengan nada emosi.
" Memang ada apa, dengan dia?" tanya Anggita yang langsung menatap Gendis.
" Memangnya tidak ada laki-laki, yang seumuran dengan Mama?" tanya Gendis sambil mengalihkan pandangan, dia tidak ingin mamanya tahu kalau lelaki itu pernah meniduri nya.
" Bram, namanya Bram." kata Anggita memberitahu Gendis.
" Iya, aku tahu." kata Gendis yang keceplosan, " Ops!" Dia langsung menutup mulutnya.
" Apa? Apa Kamu sudah mengenal, Bram?" tanya Anggita curiga.
" Oh, enggak." jawab Gendis yang menjadi salah tingkah, dia langsung pergi dari hadapan Anggita.
" Gendis, kenapa kamu gak jawab pertanyaan mama?" tanya Anggita yang curiga terhadap anaknya.
__ADS_1
" Aku bilang gak kenal sama dia, Mama!" kata Gendis yang langsung membalikkan badannya dan menghadap Anggita.
" Ya sudah, nanti malam akan Mama kenalkan pada Bram." kata Anggita.
" Aku gak perlu kenal sama dia." kata Gendis yang langsung masuk ke dalam kamarnya.
Gendis langsung menutup pintu, dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Dia menangis, meratapi nasib baik yang tidak memihak padanya.
Ingin rasanya, dia menumpahkan cerita pada seseorang. Dia butuh seseorang, yang dapat mendengarkan cerita nya.
Gendis duduk bersimpuh, sambil memeluk erat kedua kakinya. Menangis sekeras-kerasnya, meluapkan segala perasaannya.
Ayahnya, bahkan tak perduli dengan keadaannya. Dia lebih memilih hidup bersama dengan pelakor, yang merupakan sekertaris nya .
Gendis mencoba mencari sesuatu, yang bisa mengakhiri hidupnya. Dia berjalan menuju laci mejanya, mencari gunting atau pisau kater.
Sayangnya, dia tidak menyimpan benda tajam di dalam lacinya.
Gendis menyandarkan tubuhnya di dinding, terlihat wallpaper dengan gambar pelangi dan boneka Teddy bear berwarna pink.
" Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya putus asa.
Akhirnya dia mengambil benda pipih berwarna putih, dilapisi softcase berwarna pink bergambar Teddy bear. Iya, Gendis sangat suka sekali dengan boneka Teddy bear.
Dia menghubungi nomor Raka, ' *Halo.'
' Halo*.' Raka langsung menjawab, karena dia sedang memainkan game di ponselnya.
' Raka, kamu tahu nomor Si-nta?' ucap Gendis ragu.
' Tidak, tapi aku punya nomor Raja. Soalnya Sinta gak pernah kasih aku nomor telepon nya.' kata Raka yang selalu meminta nomor ponsel Sinta, namun tak kunjung di berikan.
' Oh, ya sudah. Berikan nomor Raja.' pinta Gendis.
' Memangnya ada apa kamu meminta nomor Sinta?' tanya Raka penasaran, ' Bukankan kamu sudah mengakhiri perjanjian kemarin?' Raka terus memberondong berbagai pertanyaan.
' Tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Karena hari ini dia menjengukku.' kata Gendis mencari alasan.
'Oke, aku akan kirim nomor Raja. Eh tapi, apakah Sinta ke rumah kamu bareng Raja?' Tanya Raka yang masih cemburu soal kedekatan Raja dan Sinta.
Silakan like dan berikan Vote ya. masukkan ke favorit mu.
__ADS_1