
" Kamu lagi ngapain?" Tanya Dito melalui sambungan telepon selulernya.
" Aku sedang duduk di depan halte sekolah." Kata Sinta.
" Kenapa tidak langsung pulang?"
" Aku ingin berjalan-jalan dulu."
" Pulanglah, besok minggu aku akan menyuruh Pak Paijo menjemputmu."
" Gak usah repot-repot. " Sinta menolak.
" Sinta, kau belum tahu daerah Yogyakarta. Kalau ingin jalan-jalan, besok saja aku suruh Pak Paijo menjemputmu. Kau boleh mengajak teman-teman barumu." Kata Dito, " Itu juga, kalau kau sudah punya teman baru." Ledek Dito sambil terkekeh.
" Ih kamu, masih aja ngeledek aku." Kesal Sinta.
" Baiklah, aku akan menghubungimu jika sudah sampai di rumah." Pesan Dito, dan mereka menghentikan pembicaraan.
Sinta pun langsung mencari tukang ojek di dekat sekolahnya.
Sinta menunggu ojek online, yang sudah dia pesan.
Selang beberapa menit, tukang ojek sampai di hadapannya.
" Bang, sesuai aplikasi ya!" Kata Sinta yang sudah naik di atas motor.
" Iya, dek." Jawab sang supir ojek.
Motor melaju meninggalkan halte bus, arah jalan mengikuti map google.
Dari jauh terlihat motor Raja mengikuti Sinta, yang sudah berjalan lebih dulu.
Motor matic berwarna hitam, dengan cat sudah kusam dan hampir luntur.
Berjalan setia mengawal kepulangan Sinta, hingga sampai di depan perumnas.
Raja menghentikan laju motornya, karena Sinta telah berhenti tepat dua rumah sesudah portal milik perumahan.
Setelah mengetahui rumah Sinta, Raja langsung melajukan motornya.
Sinta telah sampai di rumahnya, dia mengambil kunci serep di dalam tas lalu membuka pintunya.
" Assalamualaikum..." Sinta mengucap salam.
Kemudian dia langsung menuju kamarnya, untuk mengganti seragam dengan baju santai.
Usai mengganti bajunya, dia melihat ke arah dapur. Perutnya sudah kering keroncongan, dan meminta untuk di isi.
Saat melihat tudung saji, ternyata kosong tak ada makanan di atas meja.
Dia lupa, kalau Sulis tidak masak tadi pagi.
Akhirnya dia memutuskan, untuk membeli makanan di luar rumah.
__ADS_1
Sinta langsung menyambar jilbabnya, yang tergantung di balik pintu.
Dengan langkah cepat, dia menuju pintu keluar lalu menguncinya.
Sinta melihat pemandangan yang begitu sepi, di kanan kiri tidak nampak seorang pun. Mungkin karena rumah dinas, dan yang mengisinya adalah para pegawai PNS yang masih lajang seperti kakaknya.
Sesampainya di palang, dia bingung untuk melajukan arahnya. Warung makanan terletak sebelah kanan atau kiri.
" Ah, aku ke kanan saja. " Batin Sinta yang berjalan ke arah kanan.
Saat hendak berjalan ke arah persimpangan, dia melihat ada tukang lesehan gudeg. Kemudian dengan langkah cepat, dia mengayuh kakinya menghampiri lesehan.
Saat menoleh ke arah gang, Sinta melihat ada beberapa pemuda yang sedang berkelahi. Ada empat pemuda, namun satu pemuda tubuhnya di kunci oleh pemuda lain. Sedangkan yang dua lagi sedang memukulinya.
Sinta panik, dia ingin mencari pertolongan. Namun sepi tak ada orang satupun, kecuali sang nenek yang duduk berjualan lesehan.
Segera dia berteriak, " Tolong.... rampok...." suaranya memecahkan telinga.
Ketiga orang yang mengeroyok seorang pemuda pun, langsung menoleh ke arah Sinta.
Sinta mengambil ancang-ancang, bermaksud menakuti mereka. Ketiganya langsung menghampiri Sinta, sambil merenggangkan otot-otot tangan mereka.
Sinta sedikit ketakutan, namun dia terus berlagak seperti orang yang bisa ilmu bela diri.
Dengan angkuhnya, Sinta menoleh ke kanan dan ke kiri bermaksud agar pemuda itu keluar dari gang sempit.
Setelah mereka hampir mendekati Sinta, segera dia berteriak.u
" Tolong... tolong..." Teriak Sinta dengan suara yang lantang.
" Tolong... rampok...." teriak Sinta.
Pembeli di warung lesehan yang merupakan tiga orang pemuda, langsung berlari menghampiri Sinta.
Dan ada beberapa pengendara sepeda motor yang melintas, langsung berhenti.
Ketiga pemuda itu panik, segera berlari menuju motornya masing-masing.
" Kamu ndak apa-apa, toh ndok?" Tanya ibu-ibu yang menghentikan laju motornya.
Orang-orang berdatangan menghampiri Sinta, memastikan keadaannya baik-baik saja.
" Saya baik-baik saja, hanya..." Sinta menunjuk ke arah dalam gang.
" Maaf, saya hanya ingin menyelamatkan pemuda di sana." Kata Sinta yang menunjukkan jari telunjuknya ke dalam gang.
Terlihat seorang pemuda, yang telah terkapar di dalam gang sempit.
Sinta menghampiri pemuda itu, bersama para warga yang tadi sedang makan di lesehan.
Sinta mendekati wajah pemuda yang tertidur lemas, wajahnya sudah babak belur.
" Sepertinya aku kenal sama kamu?" Lirih Sinta sambil mengamati wajah anak laki-laki yang terlihat sudah sadar.
__ADS_1
" Kamu, Raja! Iya kan?" Tanya Sinta yang mengingat teman sebangkunya.
Raja bingung dengan banyak orang di hadapannya.
Segera dia berdiri, dan meraba dinding untuk menyangga tubuhnya.
" Ish, kamu tuh udah bonyok. Gak usah sok kuat gitu, deh!" Cibir Sinta.
" Aku obatin lukanya." Kata Sinta yang langsung memapah Raja.
" Mas, bisa minta tolong bawakan motornya ke rumahku." Pinta Sinta pada seorang pemuda.
Terlihat motor Raja yang tergeletak di pinggir jalan.
Sinta membawa Raja ke rumahnya, dan motor pun sudah di parkir di halaman. Beberapa pemuda yang memapah Raja, langsung pergi meninggalkan rumah Sinta.
Sinta langsung mengambil air hangat, untuk mengompres luka di wajah Raja.
" Raja, kamu betul kan Raja?" Tanya Sinta memastikan, karena wajahnya terlihat sudah lebam kebiruan.
Raja hanya terdiam, dia tak menyangka akan masuk ke rumah Sinta dengan wajah lebam.
" Sini, aku kompres." Kata Sinta yang sudah memeras handuk kecil.
" Biar aku saja." Kata Raja yang mengambil handuk kecil dari tangan Sinta.
" Nah, gitu dong ada suaranya. Dari tadi aku ajak ngobrol diem aja." Keluh Sinta.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, segera Sinta menjawabnya.
" Sebentar, ya." Sinta langsung bangun dan menjauh dari Raja.
" Iya, kak?" Jawab Sinta
" Kamu sudah, makan?" Tanya Sulis
" Belum, aku mau beli makanan di persimpangan jalan." Kata Sinta.
" Oh iya, gudeg sama kreceknya enak. Jangan lupa sisain kakak, soalnya dia laris banget." Kata Sulis.
" Ish, aku pikir kakak mau bawain makanan!" Keluh Sinta.
" Anak gadis, gak boleh ngeluh." Sindir Sulis.
" Ya udah, aku mau beli gudeg dulu." Kata Sinta yang langsung menutup sambungan teleponnya.
" Dasar Kak Sulis, bukannya pesenin aku lewat online malah nyuruh beli gudeg di persimpangan jalan." gerutu Sinta sambil menghampiri Raja.
" Ada apa?" tanya Raja yang melihat wajah Sinta sedang cemberut.
" Kakakku kerjaannya meledek aku saja. Padahal perutku sudah sangat lapar, harusnya dia memesankan makanan lewat ojek online." keluh Sinta.
" Maafkan aku, seharusnya tadi kau tidak usah menolong ku." ujar Raja.
__ADS_1
" Oh enggak, enggak. Bukan maksudku menyinggung mu, hanya saja kakakku yang selalu usil kepada ku " kelit Sinta
Silakan like dan komen ya. Kalau kamu berkenaan, berikan vote dan poin hadiah untuk karyaku