
" Lalu kalau nilai dia yang jelek?" tanya Sulis dengan pandangan mata yang fokus ke arah jalanan.
" Dia harus berhenti membully anak-anak." kata Sinta mengadu.
" Apa hubungannya, kamu keluar dari sekolah sama dia yang membully anak-anak?" dengus Sulis yang kesal melihat tingkah adiknya.
" Aku hanya ingin dia berubah, dan tidak membully anak-anak lagi." kata Sinta sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa telah salah mengambil langkah, hingga harus merepotkan kakaknya nanti.
Sulis terdiam, dia tidak berpendapat soal permasalahan Sinta.
Mobil mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
" Turun lah " perintah Sulis.
" Iya,kak " jawab Sinta.
" Soal masalah mu, kakak akan bahas dengan Marissa." sambung Sulis yang langsung menutup pintu mobil, lalu pergi meninggalkan Sinta.
Sinta merasa bersalah, karena membuat beban kakaknya. Dia pun masuk ke dalam sekolah, dengan wajah yang lesu.
" Sin, " panggil Ayu yang datang bersamaan dengan Sinta.
" Ayu." balas Sinta sambil tersenyum.
" Kok, wajahnya muram gitu?" tanya Ayu yang melihat gurat kelesuan di wajah Sinta.
" Enggak apa-apa, aku tadi habis cerita sama kakakku soal masalah ku dengan Gendis." kata Sinta yang berjalan di sebelah Ayu.
" Oh iya, maafkan aku ya! Aku gak bisa kasih solusi buat kamu." kata Ayu," Soalnya kita-kita takut kena masalah sama bu Anggita." kata Ayu sambil berbisik di telinga Sinta.
Mereka pun sampai di kelas, dan terlihat Raja sudah sampai di kelas.
Sinta dan Ayu berjalan beriringan, sampai ke tempat duduk masing-masing.
" Raja, tumben kamu sudah sampai ke sekolah sindir Ayu yang menaruh tasnya di bangku
" Lagi, pengen aja." katanya sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
" Sinta." panggil Raka yang baru saja datang.
" Iya, Ka?" jawab Sinta yang langsung menoleh kearah Raka.
" Gendis semalam nelpon aku. Katanya membatalkan perjanjian antara kamu dan dia." kata Raka yang sudah duduk di hadapan Sinta.
Sinta dan Raja saling bertukar pandang, lalu Sinta menoleh ke arah Raka.
__ADS_1
" Kalian ada apa, sih? Pagi-pagi udah main pandang-pandangan?" tutur Raka seraya melihat ke arah Raja dan Sinta.
" Enggak, gak ada apa-apa." kata Sinta gugup.
" Tuh kan Sin, aku bilang juga apa. Pasti semua masalah ada jalan keluarnya." sela Ayu.
Sinta hanya tersenyum menanggapi penuturan Ayu. Sinta hanya berpikir, apakah karena dia sudah menolong Gendis lantas dia membatalkan perjanjian itu?
' Ah mungkin ada hal lain, yang membuat Gendis membatalkan perjanjiannya!' batin Sinta sambil melamun.
" Sin, kamu enggak apa-apa?" tanya Raka sambil menggoyangkan tangan di depan wajah Sinta.
" Eh, aku gak apa-apa." jawab Sinta sambil tersenyum.
" Aduh, kamu jangan senyum gitu ah. Hatiku kan menjadi berbunga liatnya." kata Raka yang menggoda Sinta.
" Raka, pindah sana ke tempat dudukmu." usir Riska yang sudah berdiri di belakang Raka.
" Uh kamu, mengganggu aja." keluh Raka yang langsung bangkit dari duduknya.
" Sin, aku ke bangku dulu ya." pamit Raka.
" Idih, make pamit segala. Kalau mau duduk, ya duduk aja si." kata Riska sambil mengangkat sudut bibirnya.
" Kenapa? Sirik aja, nanti aku suruh Tomi godain kamu baru tahu rasa." ancam Raka sambil meledek Riska.
Raja terlihat mengacuhkan candaan mereka, karena sikap Raja seperti itu dengan teman-teman nya.
Bel berbunyi, tandanya masuk sekolah. Semua siswa keluar kelas untuk berbaris di latar kelas.
Pelajaran pertama adalah bahasa Inggris, Marissa guru termuda di sekolah itu pun masuk. Wajah nya yang cantik, namun tetap terlihat sederhana.
Menyapa seluruh siswa yang berada di kelas 12.
" Selamat pagi, anak-anak." sapa Marissa yang sudah menaruh bukunya di atas meja.
" Pagi, Bu. " jawab anak-anak serempak.
" Kali ini, pelajaran kita adalah diskusi. Apakah kalian sudah menghafal tentang diskusi yang kemarin kita pelajari?" tanya Marisa yang sudah berdiri di depan kelas.
Semua siswa terdiam, mereka sepertinya takut dan ragu jika tidak bisa menghafal.
" Come on, kids, when you don't memorize it too?" ucap Marissa sambil melihat sekeliling siswa di hadapannya. Dia mengatakan masa tidak ada yang hafal juga?'
" I can, Miss, memorize with the Raja." kata Sinta sambil menunjuk tangan.
__ADS_1
" Come on Raja, you can do it." kata Sinta yang mengajak Raja, untuk maju ke depan kelas.
Raja tertegun tidak percaya, dengan Sinta yang seberani itu mengajaknya maju ke depan kelas.
" Okay Raja, you can go to the front of the class with Sinta." Marissa memanggil Raja untuk maju ke depan kelas.
Semua siswa menoleh ke arah Raja, karena belum sekalipun Raja tampil di depan kelas.
Sebelumnya para guru malas mengajar Raja, dan tidak ingin berurusan dengannya.
Mereka tidak tahu alasan, kenapa para guru enggan memerintah Raja.
Dan hanya Raka yang tahu, jika Raja adalah anak kepala yayasan.
Marisa pun tidak tahu jika Raja, adalah anak dari Cakra buana. Makanya dengan santai dia menyuruh Raja, untuk maju ke depan kelas bersama Sinta.
Raja maju ke depan kelas, menyusul Sinta yang sudah berdiri di sana.
Sebelumnya, mereka telah berdiskusi minggu kemarin. Sinta sangat giat sekali mengajari Raja belajar. Karena Sinta sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sebagai guru privat. Sinta tidak ingin, anak muridnya mendapatkan nilai jelek di sekolah. Makanya dia terus membimbing Raja, baik di rumah maupun di sekolah.
Sinta memulai dialog pertama, disusul oleh raja yang kembali mengingat pelajaran yang kemarin.
Seluruh siswa tertegun kagum, dengan kepintaran Sinta dan Raja. Mereka tak menyangka, jika Raja pintar berbahasa Inggris.
Padahal setahu mereka, nilai Raja sangatlah jeblok. Entah kenapa, dia selalu naik kelas.
" Oke thank you, Sinta dan Raja. Next." Marisa memanggil murid berikutnya yang ingin maju ke depan kelas.
Satu jam pelajaran terakhir, Marisa mengakhiri pelajarannya dengan mengucapkan terima kasih kepada seluruh siswa, yang sudah menghafal diskusi.
Waktunya istirahat, Sinta, Ayu dan Riska pun pergi ke kantin.
" Sin, semenjak Raja duduk sama kamu sikapnya berubah tahu." kata Ayu yang berjalan beriringan bersama Sinta.
" Maksudnya?" tanya Sinta.
" Kamu tahu nggak dia tuh murid paling Badung di sekolah ini, sering bolos, yang suka mencari keributan. Anehnya dia nggak pernah dihukum, ataupun diomeli oleh para guru. Sikapnya memang pendiam, tapi jika ada yang dia tidak suka ya sudah habis lah." Sambung Riska meneruskan penjelasan dari Ayu.
" Maksudnya, yang dia tidak suka itu seperti apa?" tanya Sinta yang belum mengetahui kenakalan Raja.
" Selain sering bolos, dia suka mencelakai guru-guru yang menegurnya. Hingga banyak guru, yang keluar karena ulahnya." kata Ayu.
" Apa raja senakal itu?" tanya Sinta dalam
hatinya.
__ADS_1
*Si**lakan like komentar dan berikan vote ya*