
" Kakakmu akan kedatangan tamu, dan kami wajib untuk datang ke sini." jawab ayah.
Sinta pun mencium tangan kedua orang tuanya, lalu pergi ke kamar untuk mengganti bajunya.
Selang beberapa menit, Sinta pun menghampiri kedua orang tuanya.
" Memang tamu darimana, kak?" tanya Sinta.
" Tamu istimewa." jawab Pasha, adik Sinta.
" Kok, kakak gak ngomong sama aku?" tanya Sinta.
" Kakak sudah berusaha menghubungi kamu, tapi ponselmu ketinggalan di kamar." kata Sulis sambil menyipitkan kedua matanya.
" Memang kamu dari mana? Jam segini baru pulang." tanya mama.
" Aku habis dari kerja kelompok, ada tugas bahasa Inggris. Kalau kakak tidak percaya, bisa tanyakan pada bu Marissa." kata Sinta meyakinkan kedua orang tuanya, dan juga Sulis. Padahal dia sedang berbohong, takut akan di marahi jika jalan berdua dengan Raja.
" Iya sudah, lekas mandi. Karena kita akan kedatangan keluarga dari pacar kakakmu." kata mama.
" Maksudnya lamaran?" tanya Sinta.
" Perkenalan, belum ke tahap itu." jawab Sulis.
" Iya, iya ... " jawab Sinta sambil mencebikkan bibir nya. Lalu dia bergegas menuju kamar nya untuk mengambil handuk.
Malam pun tiba, Sulis telah mempersiapkan hidangan untuk kekasih nya.
" Sinta, udah rapi makanan di atas meja?" tanya Sulis sambil menyiapkan minuman dingin.
" Sudah, Kak." jawab Sinta.
Kue bolu buatan Sinta yang paling enak pun, juga sudah tersaji di atas meja.
" Nama pacarnya siapa sih, kak?" tanya Sinta penasaran.
" Nanti juga, kamu tahu." balas Sulis yang sudah menyiapkan minuman dingin.
" Kakak mau ganti baju, nanti kalau tamunya datang kasih tahu ya." pesan Sulis, dia langsung menuju kamarnya.
Sinta langsung memfoto, hidangan di atas meja makan. Dia langsung menguploadnya ke status WhatsApp miliknya.
__ADS_1
Seketika masuk pesan dari sahabat nya, yang berada di Jakarta. Puput dan Wahyuningsih langsung berkomentar.
" Sinta, kirim-kirim dong makanan nya " Puput mengirimkan pesan.
" Sin, ada cara apa? kok masak banyak banget." pesan dari Wahyuningsih.
" Sinta, aku kangen sama kue bolu buatanmu." Terry tak mau ketinggalan berkirim pesan.
Sinta pun tersenyum, mendapatkan pesan dari sahabat nya. Namun dia lupa, jika tidak mempunyai nomor telepon dari teman-teman nya yang berada di Yogyakarta. Apalagi Raja, walaupun mereka sudah akrab tapi Sinta tak menyimpan nomor telepon nya.
" Sin, panggilkan kakakmu." kata mama yang melihat Sinta sedang duduk di bangku, dengan kedua matanya yang fokus melihat ke arah handphone.
" Iya, Ma! " jawab Sinta sambil asyik sibuk menekan layar ponselnya. Dia sedang sibuk berbalas pesan dengan para sahabatnya.
" Kakak, ada tamu noh, " kata Sinta sambil mengetuk pintu, namun kedua matanya masih fokus melihat layar ponsel. Begitu juga dengan jari jempol nya, terus menekan layar ponselnya.
" Iya ... " jawab Sulis yang sudah rapi mengenakan gamis berwarna navy, dan jilbab syar'i dengan warna senada. Sungguh cantik penampilan Sulis, dengan tubuh tinggi semampai. Berbeda dengan Sinta, yang terlihat lebih pendek dari Sulis.
Tangan Sinta masih fokus menekan layar ponsel smartphone miliknya. Hingga tanpa sadar, dia menabrak dinding kamar Sulis.
" Duk..."
" Aduh..." lirih Sinta sambil mengusap keningnya.
" Aku jalan pakai kaki, kak " balas Sinta dengan wajah yang cemberut.
" Mata jangan fokus ke handphone, liat depan biar gak nyebur jurang." ledek Sulis dia hanya menyunggingkan senyum melihat tingkah adik perempuan nya.
Sinta menyusul Sulis, yang telah sampai di ruang tamu. Ada beberapa tamu yang sudah duduk di sofa, mereka membawa buah tangan.
" Perkenalkan, nama anak kami Hasan Ishaaq." kata lelaki paruh baya yang duduk di sebelah anak laki-laki nya bernama Hasan.
" Dan perkenalkan nama anak kami, Sulistiawaty." kata ayah Sinta membalas sapaan orang tua Hasan.
Mereka pun saling berkenalan, dan bercengkrama.
Hasan Ishaaq, laki-laki dewasa dengan usia yang sudah matang yaitu 30 tahun. Memilih Sulis untuk di jadikan kekasih hati nya. Perkenalan mereka karena di jodohkan oleh Dito. Sayangnya, Sinta tidak mengetahui kalau Dito adalah mak comblang hubungan kakaknya dengan Hasan.
" Hasan mempunyai dua adik perempuan, dan kini bersekolah di Inggris. Mereka ingin melanjutkan pendidikan di sana." kata bapak Hasan.
" Wah, bisa jadi teman dong." batin Sinta sambil menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Dia juga tak mengetahui, kalau Hasan adalah orang kepercayaan Dito. Sungguh amat besar pengaruh Dito, di sekitar Sinta.
Acara selanjutnya yaitu, mengadakan jamuan makan malam. Seluruh keluarga berkumpul, di ruang makan.
Menyantap hidangan ala restoran yang di buat oleh Sulis dan Sinta.
" Rasa bolu dan tampilan nya, seperti di jual di toko kue yang terkenal di Yogyakarta." puji Hasan.
" Oh, iya toko kue yang di dirikan oleh Dito itu mengambil resep dari Sinta." kata Sulis yang memuji adik nya.
" Oh, Dito dan Sinta?" tanya Hasan yang belum mengenal Sinta. Karena selama ini hubungan mereka hanya rekan bisnis. Sedangkan Sulis tak pernah menceritakan hal pribadinya kepada Hasan.
" Mereka sepasang kekasih, dan sudah tunangan." bisik Sulis dengan suara yang dapat di dengar oleh orang yang ada di dekat nya.
" Oh, jadi dia pacar bos aku?" tanya Hasan.
" He, em..." jawab Sulis.
" Bos?" Sinta semakin bingung, kenapa Hasan menyebut Dito adalah bosnya.
" Nanti kakak ceritain." kata Sulis yang melihat kebingungan di wajah adiknya.
Usai mengakhiri makan malam, mereka pamit pulang. Dan acara lamaran juga pernikahan akan di langsung kan usai Sinta lulus sekolah.
Semua keluarga terlihat bahagia dan gembira. Keluarga Hasan tinggal di Yogyakarta, dan dia bekerja di Jakarta. Sedangkan keluarga Sulis tinggal di Jakarta dan dia bekerja di Yogyakarta.
Jika mereka menikah, maka Sulis akan mengikuti Hasan. Sedangkan Sinta akan kembali ke Jakarta.
Malam pun semakin larut, Sinta dan Sulis tidur berdua. Sedangkan di kamar Sinta, ada ayah dan mamanya. Pasha adiknya yang laki-laki, tidur di ruang tamu.
****
" Bos, barusan aku mengadakan acara pertemuan keluarga dengan kekasih ku. Dan aku baru saja melihat kekasih mu di sana. Seperti nya kita akan menjadi iparan." Hasan mengirim pesan pada Dito usai pulang dari rumah Sulis. Dan saat sampai rumah, langsung mengirimkan pesan pada Dito.
Dito pun membaca pesan dari Hasan, dia hanya tersenyum dan belum membalasnya.
Karena dia sedang sibuk mengurus sang kakak, yang kini menjadi saksi di kepolisian. Ternyata Stefan mempunyai banyak kasus di dunia kejahatan. Hanya saja belum terungkap oleh polisi. Karena Stefan sangat lihai, dalam mengelabui polisi.
Dia sering melakukan transaksi obat terlarang, dan menyediakan wanita panggilan untuk para pria hidung belang.
Dan para wanita itu semua di jebak oleh Stefan, dengan cara menjadi pacarnya. Kemudian di jual untuk di jadikan mesin uang olehnya dengan cara menjual tubuhnya.
__ADS_1
Silakan like dan berikan hadiah bunga ataupun kasih vote untuk karyaku ya guys. Dukungan mu sangat berarti.