
Sinta berdiri dari duduknya, dan langsung bergegas menuju pintu keluar.
" Raja? " Sinta terkejut saat Raja membawa segerombolan warga.
" Apa yang kamu lakukan? " tanya Sinta sambil mengernyitkan keningnya.
" Aku hanya ingin, mencari keadilan untuk Gendis, " jawab Raja seraya melirik ke arah Gendis.
" Tapi Ja, ini hanya akan memperkeruh suasana. " Sinta memutar kedua bola matanya dengan malas.
" RT harus tahu, jika di komplek perumahan tempat dia beetugas, sedang terjadi pelecehan seksual. Biar segera di tangani, " kata Raja yang langsung membawa RT duduk di hadapan Gendis, Raka dan juga Bram.
" Maaf, apakah benar yang di adukan oleh pemuda ini jika ada pelecehan seksual? " tanya pak RT yang sudah duduk di hadapan Gendis.
Warga yang berjumlah lima orang, termasuk sekuriti sedang menunggu di depan pintu.
" Be-nar, Pak! " Gendis terlihat gugup menjawab pertanyaan pak RT.
Pak RT melihat Bram yang sedang terikat duduk di sebelah sofa.
" Bukankah dia, suami bu Anggita? " Pak RT mengenali wajah Bram.
" I-iya, " jawab Gendis dengan wajah yang menahan malu.
" Dimana bu Anggita? " tanya pak Rt.
" Mama, sedang keluar kota, " jawab Gendis
" Bisa adik menghubungi mamanya? " tanya Pak RT.
" Sebentar, aku akan mengambil handphone ku. " Gendis langsung mengambil ponselnya yang berada di ruang keluarga.
Gendis meninggalkan handphone nya di ruang keluarga, sehingga dia tidak bisa menghubungi seseorang untuk menolong nya saat Bram mendobrak pintu kamarnya.
Gendis langsung mengambil handphone, yang sudah di charge sejak tadi. Gendis langsung berjalan menuju ruang tamu.
" Ini Pak, " kata Gendis yang memberikan ponsel nya pada pak RT.
" Kamu hubungi saja dulu, biar bapak yang bicara. " Pak RT menyerahkan kembali ponsel Gendis.
Gendis mencari nomor ibunya, dan langsung menghubungi nya melalui video call
' Hallo, Ma! '
' Halo, Gendis ada apa dengan wajahmu? '
Gendis langsung memberikan ponselnya kepada pak RT.
' *Selamat sore, Bu! '
' Sore, ada apa ya Pak? '
' Anak ibu, di laporkan telah mengalami pelecehan seksual. Bisakah ibu kembali malam ini, agar kami bisa menyelesaikan nya. '
__ADS_1
' Apa? Siapa yang telah melakukan pelecehan terhadap anakku? '
' Hal itu akan kita bahas nanti, sebaiknya ibu segera pulang. '
' Baik, Pak. "
Pak RT langsung mematikan sambungan telepon seluler nya.
" Bapak tidak bisa bilang banyak sama ibu kamu, takut dia cemas jika tahu suaminya bejat. " Pak RT mulai terlihat emosi.
Karena dia melihat lebam di wajah Gendis.
" Setelah bu Anggita pulang, baru kita laporkan polisi. Itu juga menuggu persetujuan nya, karena yang melecehkan anaknya adalah suami nya. " Pak RT menjelaskan.
" Baik, Pak! " jawab Sinta yang telah duduk di sebelah Gendis.
" Kami pamit pulang, jika bu Anggita sudah sampai di rumah langsung panggil saya. " Pak RT langsung berdiri, " Manto, kamu jaga di depan rumah bu Anggita. " Pak Rt memerintahkan sekuriti komplek.
" Baik, Pak! " jawab Manto.
Para warga pun kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka tak menyangka akan ada kejadian pelecehan seksual di kampung nya.
Warga pun bergasak gusuk, menceritakan apa yang mereka lihat setelah pulang dari rumah Gendis.
" Raja, tindakan kamu itu telah membuat Gendis malu. " Sinta memarahi Raja.
" Sinta, kejadian seperti ini, pak RT harus tahu. " Raja membela dirinya.
" Sinta, semua sudah terjadi. Walaupun aku tutupi pasti akan terbongkar juga, " ucap Gendis
Gendis merasa semuanya telah menjadi bubur, percuma juga di tutupi. Pasti akan terbongkar juga, rahasia yang dia simpan rapat-rapat.
Ibunya juga harus tahu, jika suaminya adalah lelaki bejat. Gendis berharap ibunya bisa memaafkan semua kesalahannya, dan bisa lebih memperhatikan dirinya.
Gendis juga berharap bisa menjadi gadis yang baik, walaupun masa depannya sudah hancur. Tetapi dia percaya, akan ada pria yang bisa menerima Gendis apa adanya.
Bram di bawa ke rumah pak RT, karena Gendis sudah malas melihat muka Bram.
" Sin, apa kamu gak jadi berangkat ke Inggris? " tanya Raja yang melihat Sinta sedang mencuci piring.
" Sinta, mau ke Inggris? " Raka mendengar pembicaraan Sinta dan Raja.
" Iya, " jawab Sinta yang menoleh ke arah Raka.
" Memangnya, ada urusan apa? " Raka kembali bertanya.
" Tunangannya, mengalami kecelakaan. " Raja membalas pertanyaan Raka.
" Tunangan? " Raka terkejut mendengar penuturan Raja. " Sinta sudah tunangan? " Terlihat wajah Raka bersedih mendengar kabar berita tentang Sinta yang sudah mempunyai tunangan.
Pupus sudah harapan Raka, untuk mendekati Sinta. Dia tak menyangka jika diam-diam, Sinta sudah memiliki tunangan.
Lalu bagaimana dengan Raja? Kenapa mereka terlihat akrab? Hal itu menjadi pertanyaan Raka saat ini.
__ADS_1
" Jadi kalian, tidak pernah ada hubungan? " Raka penasaran dengan kedekatan antara Sinta dan Raja.
" Tidak, " jawab Raja sambil berjalan menuju sofa.
" Sin, apa boleh aku ikut kamu ke Inggris? " tanya Raka.
" Hah, aku cuma mau liat tunangan ku. Bukan mau demo, " ucap Sinta terkejut mendengar pertanyaan Raka.
" Iya, aku mau ikut jalan-jalan. Ingin tahu bagaimana Inggris, " ucap Raka sambil menggaruk-garuk kan kepalanya.
" Terserah, " jawab Sinta.
Malam pun tiba, Anggita telah sampai di rumahnya. Dia langsung menghampiri Gendis yang kini tengah bersama teman-temannya.
" Gendis, " panggil Anggita yang langsung memeluk Gendis.
" Kamu enggak apa-apa, Nak? " tanya Anggita yang begitu mencemaskan Gendis.
" Aku enggak apa-apa, Ma! " jawab Gendis dengan mengulas senyum.
" Siapa yang telah melecehkan mu, Nak? " Anggita melepas pelukannya, dan melihat tubuh Gendis yang penuh luka lebam.
" Orang itu ada di rumah, pak RT, " jawab Raja.
" Raja, kamu? " Anggita terkejut melihat kehadiran Raja. Dia sangat menyesal dengan kehadiran Raja, pastinya rencana tentang perjodohan akan batal. Setelah Raja mengetahui jika Gendis telah di lecehkan.
" Raja yang telah menyelamatkan ku, Ma! " jawab Gendis.
" Apa? Lalu bagaimana ceritanya? " tanya Anggita
" Sebaiknya kita segera ke pak RT, karena besok kami juga ada acara. " Raja menyela pembicaraan.
" Baiklah, kita ke pak RT sekarang. " Anggita langsung membawa Gendis menuju rumah Rt setempat.
Raka, Raja dan Sinta berjalan di belakang mereka.
" Sinta, kapan kamu berangkat? " ucap Raka berbisik.
" Raka, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu. " Sinta terlihat melotot ke arah Raka.
" Ops, iya, iya .... "
Raka membekap mulutnya, dia tak lagi berbicara hingga sampai ke rumah RT.
Sesampainya di rumah RT setempat, Anggita mengucapkan salam. Terlihat pak RT yang sedang duduk di ruang tamu. Dia bersama pihak kepolisian dan juga sekuriti komplek.
" Bu Anggi, " sapa pak RT yang langsung berdiri.
" Malam, Pak. Maaf merepotkan bapak, " ucap Anggita sambil mengulurkan tangannya.
" Sudah kewajiban saya, sebagai pengurus RT. Dan demi menjaga keamanan lingkungan saya, saya ucapkan terima kasih atas kesigapan teman-teman anak nya. " Pak RT berucap seraya membalas uluran tangan Anggita.
Silakan like dan berikan komentar mu.
__ADS_1