
Risma menatap sinis ke arah Sinta, "Kamu, Sinta?" tanyanya.
"Iya, memangnya ada apa?" tanya Sinta.
Risma tersenyum licik, sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu untuk Sinta.
"Sin, ayo masuk kelas." Riska menarik tangan Sinta, dan menuntunnya ke kelas.
"Awas kamu, Sin. Pasti kamu akan menerima akibatnya." gumam Riska
Semua siswa pun masuk ke dalam kelas, Raka kembali menjalani aktivitas nya sebagai ketua kelas.
Raka memberikan oleh-oleh kepada semua teman-temannya. Dia ingin memamerkan kepada teman-teman nya, jika kemarin pergi ke Inggris.
"Sin, bagaimana kabar kekasihmu?" tanya Ayu sambil memutar badannya ke arah belakang.
"Alhamdulillah sudah membaik," jawab Sinta.
"Syukurlah, aku senang mendengar nya." Ayu mengusap dadanya pelan.
Guru pun masuk, semua siswa belajar matematika.
****
"Huft, benar-benar bikin pusing rumusnya." Riska mengacak-ngacak rambutnya.
"Kalau kamu giat belajar, pasti bisa!" Sinta memberi semangat.
"Iya juga, sih!" ucap Riska.
__ADS_1
"Kita ke kantin, yuk!" ajak Ayu yang langsung berdiri dari duduknya.
"Ayo!" seru Sinta.
Sinta sudah merindukan makanan di kantin, karena saat di Inggris dia tidak menemui somay, batagor dan teman-temannya.
"Raja, kamu gak mau ikut?" tanya Sinta yang mengajak Raja.
"Enggak, aku mau tidur." Raja langsung menaruh kepalanya di atas meja.
Riska dan Ayu menatap Raja dengan tatapan malas.
"Kamu ngapain sih, ngajak-ngajak dia?" tanya Ayu seraya menoleh ke arah Raja.
"Enggak apa-apa, soalnya dia itu ada di hadapan kita. Masa gak kita ajak?" kata Sinta.
"Dari mana, gosipnya?" tanya Sinta yang berjalan beriringan dengan Riska dan Ayu.
"Gak tahu, pokoknya ada di grup sekolah," ujar Ayu menerangkan
"Ish, aku belum baca grup." Riska langsung mengambil ponselnya yang berada di kantong baju.
"Sin, kamu gak ada di grup?" tanya Riska seraya melihat kontak yang tertera di grup.
"Enggak," jawab Sinta menggelengkan kepalanya.
"Gendis, dia yang menyebar berita itu." Riska menebak. "Sudah aku duga, dia tuh gak akan bisa berubah sekalipun berteman sama malaikat," celetuk Ayu
Sinta terdiam, dan tak membahas soal Gendis.
__ADS_1
Mereka telah sampai di kantin, dan berjalan menuju meja.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Sinta yang masih berdiri.
"Somai," jawab Riska.
"Aku makan bubur aja," jawab Ayu. "Nih uangnya," kata Ayu seraya memberikan selembar uang sepuluh ribu.
Dari jauh terlihat Gendis yang sedang berjalan sendiri. Gendis akan berjalan menuju tukang soto ayam, namun di halangi oleh Riska.
Riska adalah gadis tomboy, dia awalnya takut sama Gendis. Namun sejak berteman dengan Sinta, dia tak lagi takut dengan Gendis.
"Dis, maksud kamu apa! Nyebarin gosip tentang Sinta dan Raja. Padahal kamu tahu sendiri jika Sinta sudah memiliki kekasih. Dan kamu juga mengantarkan dia pergi menjenguk kekasihnya!" ucap Riska yang memberondojg pertanyaan pada Gendis.
"Eits, tunggu! Maksud kamu apa sih, nuduh-nuduh gak jelas?" tanya Gendis seraya mengerutkan keningnya.
" Nih, udah jelas-jelas nomor ponsel kamu. Kenapa kamu tega memfitnah teman yang sudah membuatmu insyaf? Hah!" ucap Riska penuh penekanan seraya memperlihatkan ponsel miliknya ke Gendis.
"Iya, ini nomorku. Tapi aku gak ngerasa ngetik tulisan ini!" ucap Gendis yang bingung dengan tulisan di layar ponsel milik Riska.
Lalu Gendis membuka ponselnya, dan mengecek tulisan yang seperti di ponsel milik Riska.
"Enggak ada, aku gak pernah nulis itu." Gendis terlihat bingung, karena pesan di ponselnya semua sudah terhapus.
"Alah, kamu jangan bohong!" ucap Riska yang langsung mendorong tubuh Gendis.
"Eh, apa-apain nih! Aku gak ngerasa ngetik itu!" ucap Gendis membela dirinya.
Dari jauh terlihat Risma dengan senyum kepuasan. Dia berhasil mengadu domba antara Gendis dan Sinta.
__ADS_1