
Sudah satu jam lamanya, Sinta berada di ruang operasi. Tetapi belum ada tanda-tanda jika operasi telah selesai. Sulis, mama dan Dito terlihat begitu cemas. Padahal setahu mereka jika operasi usus buntu itu tidak memakan waktu lama.
"Dit, apa operasi usus buntu selama ini?" tanya Sulis cemas.
"Sepertinya enggak, Kak! Tapi kita berdoa saja, semoga Sinta baik-baik saja."
Beberapa menit kemudian, lampu emergency berubah. Pintu pun terbuka, terlihat seorang dokter perempuan keluar.
"Bagaimana, dok?" tanya Sulis menghampiri dokter perempuan itu.
"Operasi berjalan lancar, kami harapkan agar pasien bisa menjaga pola makan." Dokter wanita itu berpesan kepada Sulis.
"Terima kasih," ucap Sulis.
Sinta pun keluar dari kamar operasi, masih dalam keadaan tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Dito, Sulis dan mamanya mengikuti perawat yang membawa Sinta ke ruang rawat inap.
Sinta di inap di ruang VIP sesuai permintaan Dito.
"Terima kasih, Sus!" kata Dito kepada perawat
"Iya, sama-sama. Jika pasien sudah bangun, langsung beritahu kami." Perawat berpesan kepada Dito.
__ADS_1
"Baik," jawab Dito.
Sulis dan mama pun mendekat Sinta yang masih tertidur.
"Sudah malam, apa kamu mau pulang?" tanya Sulis kepada Dito.
"Aku menunggu Sinta, bolehkan kak?" tanya Dito.
"Iya, apa tidak merepotkan mu?" tanya Sulis.
"Enggak, sebaiknya tante dan kak Sulis istirahat di rumah."
"Tapi Dit, seharusnya kamu tidak boleh berdua dengan Sinta."
"Kak, percayakan aku. Aku tidak akan berbuat yang macam-macam dengan Sinta."
"Baiklah, kalau memang tidak merepotkan mu. Mama titip Sinta," pesan mama pada Dito.
"Iya, Tan!" jawab Dito.
Sulis dan mamanya pun bergegas pulang ke rumah.
Dito pun berjalan menghampiri Sinta yang sedang tertidur pulas. Sebelumnya Sinta telah berpesan kepada perawat, jika selesai operasi dia harus dipakai kan jilbab.
__ADS_1
"Sin, mungkin aku akan memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta."
Dito merasa ada yang akan menganggu keselamatan Sinta. Semua itu karena saat ini Sinta berhubungan dengan pejabat yang merangkap sebagai seorang mafia.
Dito masih mendalami kasus Ferdi yang kini berkasnya sudah masuk ke penyidik. Karena di lihat dari cara bicara Herman, sepertinya Ferdi akan melakukan segala cara untuk menghabisi musuhnya
Dito takut, jika Ferdi sudah menerima surat penangkapan maka akan berakibat buruk untuk Sinta. Karena memang Sinta yang kekeh ingin melaporkan Ferdi ke polisi.
Maka Dito pindah kuliah ke Yogyakarta, hal itu dia lakukan untuk menjaga keselamatan Sinta.
Selain itu, Dito pun sedikit curiga dengan sikap Raja yang begitu perhatian kepada Sinta.
Sebelumnya Dito memang pernah menitipkan Sinta pada Fadli dan juga Rendi. Tapi perasaan itu berbeda saat Dito meminta tolong Raja untuk menjaga Sinta.
"Pak Jim, aku memintamu untuk mengurus surat kepindahanku ke Yogyakarta." Dito menghubungi asistennya Jimmy yang berada di Inggris.
"Sorry, bukankah ayah anda menyarankan kuliah di Inggris?" tanya Jimmy.
"Aku tidak minta pendapatmu, sebaiknya kau urus saat ini juga!" perintah Dito.
"Baik," jawab Jimmy.
Dito pun memutuskan sambungan telepon selulernya. Saat ini Dito tidak perduli dengan keputusannya yang akan membuat ayahnya kecewa. Saat ini keadaan mama Dito sudah membaik, dan di Inggris pun ada Melly yang menjaganya.
__ADS_1
Hari pun sudah larut malam, Dito berjalan ke arah sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Jangan lupa untuk like dan komentar