
Hey guys, jangan lupa untuk selalu tinggalkan tap like untuk karyaku. Jika kamu suka berikan vote dan komentar ya. Dukungan mu sungguh berarti untuk membuat ku semangat update.
" Loh, kok kamu nanya sama aku?" Sinta bingung, saat Dito memberikan pertanyaan.
" Aku mau ngajak kamu, ke panti." Kata Dito.
Sinta melirik ke arah Raja, " Aduh, " batinnya.
" Iya, sedatangnya kamu aja. Kalau aku belum mandi, ya tungguin." Kata Sinta malas.
" Oh iya udah, sekarang kita pulang. " Kata Dito yang sekalian pamit kepada Raja.
" Kami, pulang ya." Pamit Dito seraya mengulurkan tangannya.
" Iya, hati-hati." Balas Raja menyambut uluran tangan Dito.
Raja pun mengalihkan tangannya ke arah Sinta.
Sinta menyambut nya dengan mengulurkan tangannya, sambil tersenyum malas.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Dito mengantarkan Sinta sampai rumah nya, dan sudah terlihat mobil milik Sulis.
" Ish, ish, ish... Anak sekolah gini hari, kok baru pulang?" Sindir Sulis yang duduk di ruang tamu.
" Maaf kak, tadi aku gak pamit dulu." Kata Dito yang merasa tidak enak hati.
" Eh, ada Dito?" Sambut Sulis sambil melihat ke arah Dito.
" Iya, kak." Jawab Dito yang datang menghampiri Sulis, lalu mencium tangannya.
" Sinta, buatkan Dito teh." Suruh Sulis
" Udah, kak. Gak usah repot-repot." Kata Dito
" Gak apa-apa, cuma teh aja." Kata Sulis.
" Iya, kak." Kata Sinta yang sudah mengganti bajunya dan memaksa jilbab nya.
" Kak, besok aku mau jemput Sinta." Kata Dito meminta ijin.
" Mau kemana?" Tanya Sulis.
" Mau ngecek usaha franchise minuman. Sekaligus, mau ajak ke panti." Kata Dito.
" Wah, boleh ya nyobain minumannya." Kata Sulis.
" Ih, celamitan." Celetuk Sinta yang telah menaruh segelas teh manis di atas meja.
" Biarin, we..." Kata Sulis seraya menjulurkan lidahnya.
" Nanti, kakak bisa komentar dong soal minuman nya. Memberikan saran dan kritik." Ujar Sulis beralasan.
" Ih, itu mah alasan aja. Bilang aja maunya gratisan." Ledek Sinta.
" Ish, kamu." Sulis geregetan dengan adiknya yang selalu menjawab semua kata-kata nya, dia langsung mencubit hidung Sinta lalu lari masuk ke dalam kamarnya.
" Ih, kakak. Mulai deh jahilnya." Rengek Sinta seraya mengelus hidung nya.
__ADS_1
Dito hanya tersenyum, melihat kelakuan kakak beradik di hadapannya.
" Kenapa kamu senyum-senyum?" Tanya Sinta seraya memicingkan kedua matanya.
" Enggak, " Dito berhenti senyum.
Di luar rumah, terlihat Raja yang sedang mengamati rumah Sinta.
Dia sedang patah hati, kecewa karena telah mencintai gadis yang telah menjadi tunangan bosnya.
****
Pagi pun tiba, Dito telah rapi mengenakan baju berwarna putih dan jaket navy belel.
Penampilan nya terlihat santai, namun sangat cool untuk laki-laki seumuran nya.
Dia tidak ingin terlihat formil, karena saat ini dia akan jalan bersama kekasihnya.
Segera dia mengambil kunci mobil, dan berjalan ke garasi.
Mobil MINI John Cooper berwarna merah cabe, telah melaju meninggalkan rumah nya.
Dito sangat tahu warna kesukaan Sinta, jadi semua barang-barang nya di beli warna yang sama.
Sesampainya di rumah Sinta, dia langsung memarkir mobilnya di halaman.
" Assalamu'alaikum." Ucap Dito memberi salam, dia datang pada pukul delapan pagi.
" Wa'alaikum salam." Jawab Sulis yang berdiri di belakang Dito.
" Eh, kakak. Ada Sinta?" Tanya Dito sambil menggeser tubuhnya.
" Apa, aku kepagian?" Tanya Dito sambil tersenyum dengan ciri khas menunjukkan deretan giginya yang putih.
" Enggak, hanya saja Sinta yang pemalas." Ujar Sulis sambil membuka pintu rumah nya.
" Masuk, Dit " ucap Sulis yang mempersilahkan Dito masuk.
" Terima kasih, kak." Jawab Dito yang membuka sepatu nya, dan masuk ke dalam rumah.
" Sinta, ada Dito." Panggil Sulis seraya mengetuk pintu kamar Sinta.
Tidak ada jawaban, kemudian Sulis langsung membuka pintu kamar. Terlihat adiknya yang cantik, masih tertidur pulas.
Lagi-lagi Sulis mempunyai ide, untuk mengerjai adiknya.
Dia berjalan ke dapur, lalu mengambil sejumput garam. Kemudian langsung berjalan, menuju kamar Sinta.
Perlahan, dia menaruh garam ke mulut Sinta.
Sontak Sinta langsung terbangun, dan merasakan asin di mulutnya.
Dia melihat Sulis yang sedang berdiri di depan pintu, sambil menunjukkan jarinya.
" Akhirnya, bangun juga." Kata Sulis sambil meledek adiknya. Segera Sinta bangkit dan mengejar kakaknya.
" Kakak, jail banget sih!" Kesal Sinta sambil berlari kecil mengejar kakaknya yang usil.
Tanpa sengaja dia melihat Dito, yang sedang duduk di ruang tamu.
__ADS_1
" Dito..." Sinta terkejut melihat kekasihnya sudah terlihat tampan. Dia pun bergegas berbalik arah ke kamar, karena kepalanya belum memakai jilbab.
Dito hanya terkagum melihat penampilan Sinta tanpa berhijab. Dia baru sekali melihat Sinta tanpa hijab, saat di culik oleh Rio. Dan hari ini adalah yang kedua, ternyata rambutnya yang hitam panjang di potong sebahu.
Terlihat Sinta keluar dari kamarnya, dengan kepala yang ditutupi handuk. Dia hendak berjalan menuju kamar mandi.
" Dit, di minum dulu tehnya." Kata Sulis yang menaruh segelas teh manis di atas meja.
" Terima kasih, kak!" Balas Dito.
" Kamu harus sabar ya, menghadapi ke tidak pekaan Sinta. Walaupun otaknya pintar dalam pelajaran, tapi soal perasaan dia sedikit lamban cara berpikirnya." Ujar Sulis yang duduk di hadapan Dito.
" Iya, kak." Dito pun sudah paham dengan sifat kekasihnya. Oleh karena itu, tak lupa setiap hari dia menghubunginya.
Usai beberapa menit, Sinta telah rapi mengenakan baju dan jilbabnya. Sinta pun keluar dari kamarnya, dan menghampiri Dito.
" Kamu, gak makan dulu?" Tanya Sulis yang melihat adik nya sudah rapi mengenakan blouse berwarna putih dan celana kulot berwarna coklat muda serta jilbab berwarna senada dengan celananya.
" Kakak belum masak, ya?" Tanya Sinta yang telah berdiri di hadapan Sulis dan Dito.
" Belum, kan nungguin kamu bangun." Ledek Sulis sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.
" Ish..." cemberut Sinta sambil memutar kedua bola matanya malas.
" He, he, he..." tawa Sulis sambil terkekeh.
" Aku ajak sarapan bubur aja, kak." Kata Dito.
" Iya udah, hati-hati ya. Ingat, jangan pulang kemalaman." Pesan Sulis yang telah mempercayakan Sinta pada Dito.
" Iya, kak." Jawab Dito.
Mereka pun bersalaman dengan Sulis, dan pamit pergi.
" Kamu, mau ajak aku kemana?" Tanya Sinta.
" Kata kamu, mau jalan-jalan di daerah Yogya." Tutur Dito yang sudah menjalankan mobilnya.
" Kamu masih ingat aja, sih!" Ucap Sinta sambil tersenyum.
" Iya, dong." Jawab Dito.
Mereka akan mengunjungi Malioboro, tempat wisata paling hits di Yogyakarta.
Dito memarkirkan mobilnya di area parkir hotel. Karena dia akan sarapan dulu, sebelum berkeliling dengan sang pujaan hati.
" Kita mau ngapain, ke hotel?" Tanya Sinta.
" Mau cari sarapan." Jawab Dito.
" Cari yang di emperan aja, kan lebih hemat." Ujar Sinta.
" Baiklah, aku hanya memarkirkan mobil di sini. Lalu kita jalannya ke pasar Beringharjo." Kata Dito yang sudah menarik tuas rem.
Mereka pun keluar dari mobil, dan berjalan bergandengan tangan.
" Enggak apa-apakan, kalau aku pegang tangan kamu?" Tanya Dito sambil memegang erat tangan Sinta.
" Hem.." jawab Sinta yang sedikit malu
__ADS_1