LDR Cinta SMA

LDR Cinta SMA
Mama Sinta datang ke Yogyakarta


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Dito langsung mencari keberadaan Sinta.


Sudah dua kali Dito mencoba menghubungi Sinta melalui ponselnya. Tetapi tak kunjung di jawab panggilan ponsel dari Dito.


Apakah Sinta lupa lagi membawa ponsel nya?


Hal itu di jelaskan oleh Sulis kemarin, saat mereka berkomunikasi melalui ponsel.


Sulis menjelaskan kepada Dito, jika Sinta lupa membawa ponsel nya.


Akhirnya Dito menghubungi Sulis lagi, untuk mengetahui keberadaan Sinta.


'Halo, Kak!'


Dito menyapa Sulis.


'Iya, Dit!' jawab Sulis


'Kakak dan Sinta lagi dimana?' tanya Dito.


'Sudah di rumah sakit, di sini sudah ada mama.'


'Apa Sinta sudah di operasi?' tanya Dito


'Sinta lagi observasi, dan kami sedang menunggu di lantai dua. Kamu lagi dimana?' tanya Sulis


'Sudah sampai di parkiran,' jawab Dito. 'Baiklah, aku segera ke sana.'


Dito pun sudah memutuskan sambungan telepon seluler. Kemudian Dito berjalan menuju loby rumah sakit, lalu menuju ke lift.

__ADS_1


Suara ponsel Dito berbunyi, menandakan ada panggilan masuk.


'Halo," jawab Dito


'Mas Dito, berkas sudah di masukkan ke penyidik. Hanya tinggal menunggu tujuh hari untuk mengetahui hasilnya. Saya Fatur, asisten pak Herman!' asisten Herman melaporkan kepada Dito.


'Baiklah, aku tunggu kabar baiknya.'


'Tapi, Mas Dito. Sepertinya akan ada teror kepada pelapor, karena setahu pihak kepolisian banyak kasus Feri tenggelam saat ada pelaporan dari korban.'


'Aku percaya kan kepada pihak kepolisian, untuk bisa menjaga saksi dan pelapor.'


'Baiklah, hal itu akan kami sampaikan kepada pihak kepolisian.'


Kemudian Dito mengakhiri pembicaraan dengan asisten Herman.


Dito menjadi cemas, jika yang dikatakan Fatur itu benar. Karena keselamatan Sinta mungkin akan terusik.


"Dito..." panggil Sulis


Dito pun bergegas menghampiri Sulis dan juga mamanya di depan ruang rawat Sinta.


"Gimana keadaan Sinta?" tanya Dito dengan wajah cemas.


"Sebentar lagi, Sinta keluar dari kamar observasi," jawab Sulis


"Dito, bagaimana kabar mu?" tanya mama Sinta.


Dito pun mencium tangan mama Sinta. "Baik," Jawab Dito singkat.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Sinta pun keluar dari ruangan observasi. Lalu Sinta dibawa ke ruangan operasi oleh perawat.


Sulis, Dito dan mamanya pun mengikuti brankar yang membawa Sinta menuju kamar operasi.


Sinta sudah masuk kamar operasi, mereka bertiga pun menunggu di luar.


"Sulis, memangnya ada apa sama adek kamu? Kenapa dia bisa lupa makan?" cemas mama bertanya kepada Sulis.


Sulis pun melirik ke arah Dito, dia sebenarnya tidak ingin menghubungi mamanya. Karena hal itu akan membuat cemas mama dan ayahnya.


"Sinta kelelahan karena belakang ini banyak ulangan." Sulis memberikan penjelasan tentang kesibukan Sinta.


Padahal kenyataannya Sinta sangat memikirkan masalah Raja.


Tapi itu tidak mungkin di ceritakan oleh Sulis, bisa-bisa Sinta akan kena marah.


"Oh, kenapa kamu gak mau ingetin Sinta makan?" tanya Mama.


"Belakangan ini Sulis juga sering lembur, karena menggantikan teman yang sedang cuti." Sulis menjelaskan kepada mama.


Sulis terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat mamanya cemas.


"Iya, sudah. Kita doakan saja supaya operasinya berjalan dengan lancar."


Kemudian mereka pun terdiam dan tak berbicara. Sepertinya mereka bertiga sedang doa bersama dalam hati berharap operasi usus buntu Sinta berjalan lancar.


Tiba-tiba bunyi ponsel Dito berdering.


'Halo,' jawab Dito.

__ADS_1


'Halo, Dit!' sapa Raja melalui sambungan telepon seluler.


Jangan lupa untuk like dan komentar


__ADS_2